Kang Syukron Photography

Thursday, 3 December 2015

Kampung Bon Lancung : Penghasil Kulit Lunpia Terbesar di Semarang

ADZAN Subuh belum berkumandang. Karmi (50) bangkit dari tempat tidurnya. Setelah ke kamar mandi, ibu tiga anak itu menyiapkan adonan dengan bahan baku tepung terigu, garam, minyak goreng dan air.
Setelah tiga bahan itu dicampur menjadi satu, ia pun mulai memanaskan tiga wajan yang terbuat dari tembaga di atas kompor. Tangannya yang lincah, mengoleskan adonan yang tipis ke dalam wajan hingga membentuk lingkaran. Tak ada satu menit, adonan pun matang. Ia ambil adonan dari wajan menggunakan pisau kecil di tangan kirinya.
Tak hanya Karmi, warga di Kampung Bon Lancung atau Kranggan Dalam, Kelurahan Kranggan, Kecamatan Semarang Tengah juga melakukan hal yang sama. Memroduksi kulit lunpia. Mereka adalah Saadah, Yeyek, Menjeng, Pak Yo, Wiwa, Pur, Pak Kapri, Bu Lilik, Yudi, Mirandi, Geger, Lilis, Maemunah, Ticitit dan Ahmad Mustamimi.

Wednesday, 25 November 2015

Gereja St Yusup Gedangan Pernah Roboh, Batu Bata Diimpor dari Belanda

ARUS lalu lintas di Jalan Ronggowarsito, cukup lengang. Hanya beberapa sepeda motor dan mobil. Jika dihitung tiap menit, kurang dari 10 kendaraan yang melintas.
Lelaki tua nampak tertidur pulas di atas becak yang diparkir di bawah pohon tepat di depan sebuah gedung berbentuk artistik dan anggun dengan warna yang didominasi oleh bata merah alami.
Ketika saya memasuki kawasan gedung yang memiliki halaman luas itu, seorang lelaki yang tengah membersihkan daun-daun yang berguguran dengan sapu lidi menyapa dengan ramah. Ia pun menunjukkan kemana saya harus memarkir kendaraan sekaligus letak kantor pengurus.
Gereja Santo Yusuf atau St. Yoseph atau Gereja Gedangan, begitulah orang menyebut bangunan bergaya kolonial ini. Di bagian dalam gereja seluruhnya juga masih asli dan sangat terawat.
Dikutip dari buku Sejarah Gereja St Yusup Gedangan dalam rangka Peringatan 125 Tahun Gedung Gereja 12 Desember 1875-12 Desember 2000, gereja St Yusup Gedangan ini merupakan cikal bakal gereja Katolik di Indonesia.
Peletakan batu pertama dilakukan oleh Pastoor Lijnen pada 1 Oktober 1870. Pada 1873 usuk atap pun sudah terpasang, tetapi pada 2 Mei, atap tersebut runtuh karena tiang terbuat dari batu bata berkualitas rendah.

Nederlandsch-Indische Gas Maatschappij di Jalan Sleko

SEPI dan tak ada aktivitas apapun. Hanya lalu lalang warga dan setiap beberapa menit, terdengar suara kereta api melintas di belakang gedung tua dengan tembok yang bertuliskan ”Anno 1897”.
Itulah pemandangan Nederlandsch- Indische Gas Maatschappij atau pabrik gas di Jalan Sleko Nomor 17 Kelurahan Bandarharjo, Kecamatan Semarang Utara, yang dibangun pada masa pemerintahan Kolonial Belanda.
Dibandingkan pada 1897 hingga 1980-an, aktivitas produksi gas berbahan dasar batubara masih berjalan. Banyak warga sekitar yang menjadi karyawan, di antaranya Samingan, Syawal, Wahnen, Sugimin, dan Sadimin.
Menurut penuturan Anwari (54) warga Wiroto III Kelurahan Krobokan yang juga anak Sugimin, areal lahan seluas 2.704 meter persegi dan 4.979 meter persegi itu merupakan tempat produksi pengolahan batubara menjadi energi gas.

Masjid Al Hidayah Tanah Mas : Jadi Langganan Rob, Ditinggal Pindah Warga

GOLDEN Land, itulah istilah yang sering digunakan oleh beberapa warga yang saat ini masih tinggal di Perumahan Tanah Mas, Kecamatan Semarang Utara. Tanah Mas juga dikenal sebagai perumahan pertama yang dipasarkan dengan system KPR BTN sejak awal 1970-an.
Kemunculan Perumahan Tanah Mas ini juga membuka pandangan baru tentang konsep rumah bagi kebanyakan orang Semarang dan sekitarnya. Rumah-rumah yang tersusun rapi dan nyaris seragam bentuknya dalam satu blok, dengan pohon penghijauan yang tertata rapi menghiasi sepanjang jalan lingkungan.
Bertahun tahun Tanah Mas menjadi kebanggaan bagi penghuninya dan tentunya harga jual pun merambat naik, bahkan ketika beberapa perumahan baru mulai muncul, Tanah Mas tetap merupakan perumahan favorit.
Akan tetapi, seiring dengan pembangunan perumahan baru di kawasan pantai utara Kota Semarang, pada awal 1987, air pasang laut atau yang biasa disebut dengan rob pun mulai merambah ke jalan dan beberapa blok.

Bendungan Pucanggading

HILIR mudik kendaraan bermotor secara bergantian melintasi Jalan Klipang Raya Kuncen, suatu siang. Ketika sampai di atas bendungan, pengendara sepeda bermotor harus bergantian untuk melintas. Karena, jalan sepanjang 98 meter di atas jembatan yang dibawahnya berfungsi sebagai bendungan itu hanya cukup untuk melintas satu sepeda motor.
Ada tiga pintu air bercat biru putih di bendungan itu. Pintu utama yang memiliki enam pintu pembagi itu berfungsi khusus untuk mengalirkan air yang berhulu dari Mluweh Ungaran dan Batur Girikusumo ke Banjirkanal Timur.
Sedangkan dua pintu lainnya, berfungsi untuk mengalirkan air ke Kali Babon dan Dombo Sayung. Di dekat pintu air yang mengalir ke Kali Babon, nampak pasangan muda mudi duduk di bawah rindangnya pohon beringin.
Bendungan Pucanggading, itulah nama bendungan yang dibangun pada masa pemerintah Belanda pada 1893. Bendungan Pucanggading yang mengaliri sungai di Kota Semarang dan Demak ini berada di bawah pengelolaan Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Provinsi Jawa Tengah. Akses menuju bendung ini bisa melewati daerah Meteseh, Ketileng maupun Pucanggading.

Saturday, 28 March 2015

Kampung Celengan yang Tinggal Kenangan


BEKAS KELURAHAN: Sebelum menjadi Balai Pertemuan RW I Kelurahan Pendrikan Lor, Kecamatan Semarang Tengah, gedung ini sebelumnya merupakan Kantor Kelurahan Celengan.
TAK banyak warga yang tahu, jika pemukiman padat di Jalan Abimanyu V, VI, VII dan VIII Kelurahan Pendrikan Lor, Kecamatan Semarang Tengah, dahulu, mayoritas warganya adalah perajin gerabah. Gerabah yang diproduksi pun kebanyakan berbentuk celengan, atau tabungan berbentuk kendi kecil dengan lobang di bagian atas yang hanya cukup untuk memasukkan uang recehan. Kampung itu pun pada jaman dahulu disebut dan dikenal sebagai Kampung Celengan.
Ketika saya menyusuri kampung itu, tidak ada sisa-sisa atau warga yang masih membuat aneka kerajinan dari tanah liat itu. Untuk menemukan sesepuh yang mengerti sejarah kampung pun, cukup sulit. Salah satu tokoh, H Mudjiono, tengah sakit. Akan tetapi, sesepuh lainnya, Slamet (73), warga RT 4 RW I, Jalan Abimanyu VI, dapat menceritakan sejarah kampung yang kini padat penduduk itu.

Friday, 6 March 2015

Barbershop Yu Me Gang Pinggir 118 Berdiri 1950

Kursi Cukur Antik
UNTUK mencari tempat potong rambut yang didirikan pada 1950 oleh Go Tjoe Tek (96) di Jalan Gang Pinggir 118, Kawasan Pecinan, tidaklah sulit. Bangunan tua dengan dinding tembok putih serta jendela kayu jati berwarna hijau itu mudah ditemukan, karena tepat di depan gedung Bank Mega.
Ketika saya berkunjung ke tempat itu, seorang lelaki menyambut ramah dan langsung memersilahkan duduk. Bagus Senjaya, atau Go Liang Sen, nama lelaki berusia 57 tahun itu. Ia merupakan anak kandung Go Tjoe Tek yang kini meneruskan usaha potong rambut yang sejak dulu menggunakan nama Barbershop Yu Me.
Di ruangan berukuran 3 x 5 meter itu nampak dua buah kursi untuk tempat cukur yang unik dari kayu jati buatan Singapura dengan besi penyangga berbentuk seperti pilar bangunan rumah.
Besi sebagai pijakan kaki tertulis huruf Mandarin bergambar gajah dan tertulis alamat pabrik pembuatnya, 43 Victoria ST SPO. Cermin besar menempel di dinding dan dibawahnya, sebuah meja tipis dari kayu lengkap dengan dua rak untuk meletakkan peralatan potong rambut.
Kursi tunggu kuno terbuat dari kayu jati dengan anyaman rotan ada empat buah ditambah kursi panjang dan satu kursi plastik dan meja kecil tempat majalah, juga ada di ruangan berlantai keramik putih itu.

Jamu Jun Karsipah di Pasar Gang Baru

"Rasa Jamu Jun itu kompilasi antara segar, manis, legit, hangat dan pedas. Enak dikonsumsi ketika musim hujan. Apalagi ketika tubuh kita membutuhkan penghangat, jamu ini berkhasiat juga ketika kita sedang masuk angin. Harganya pun sangat terjangkau."

ITULAH komentar Yunita (35) warga Pekojan yang sepekan dua kali membeli Jamu Jun yang dijual Karsipah (50) warga kelahiran Desa Poncoharjo, Kecamatan Bonang, Kabupaten Demak di Pasar Gang Baru, Kawasan Pecinan, Kota Semarang, suatu pagi.
Bagi ibu dua anak itu, Jamu Jun tidaklah sama dengan jamu-jamu pada umumnya yang identik memiliki rasa pahit dan aroma khas rempah-rempah seperti kencur, brotowali, kunyit, sambiloto, sirih, temulawak, widoro laut dan daun pepaya. ''Bahan-bahan seperti tepung ketan, kelapa, gula merah, jahe, gula pasir, daun pandan, santan membuat rasa dan tampilan menjadi berbeda,'' tuturnya.
Dari penuturan Karsipah, Jamu Jun merupakan minuman asal Jepara. Ada pula yang menyebutnya, berasal dari Demak. Sekitar 40-an tahun yang lalu, warga Jepara yang berjualan Jamu Jun beramai-ramai datang ke Semarang untuk mengadu nasib. Alhasil, penjualan Jamu Jun di Kota Semarang pun berkembang pesat , sehingga diklaim menjadi minuman khas Kota Semarang.

Jalan-jalan ke Katoomba New South Wales Australia (2-Habis)

Lyre Bird, Bunyip dan Tulang Sihirnya

THREE Sister, terletak di Echo Point Katoomba, atau sekitar 2,5 kilometer dari Great Western Highway. Memiliki daya tarik dan menjadi magnet bagi jutaan orang dari seluruh dunia setiap tahunnya.
Three Sisters pada dasarnya adalah sebuah formasi batuan berbentuk unik dan menurut legenda Aborigin, merupakan tiga saudara perempuan yang dikutuk menjadi batu.
Karakter Three Sisters berubah sepanjang hari dan sepanjang musim, terutama saat sinar matahari memunculkan warna megahnya.  Masing-masing dari Three Sisters memiliki ketinggian 922 meter, 918 meter dan 906 meter dan berdiri 3000 meter di atas permukaan laut.
Dari legenda Aborigin, seperti yang tertulis di Echo Point disebutkan, ada tiga saudara, bernama Meehni, Wimlah, dan Gunnedoo yang tinggal di Lembah Jamison sebagai anggota suku Katoomba.

Jalan-jalan ke Katoomba New South Wales Australia (1)

Three Sister dan "Meja Tuhan" di Blue Mountain 

Brrr... Dingin pun menusuk tulang. Meski sinar matahari begitu terik, mayoritas pengunjung berkata sama dan hanya satu kata, dingin. Sembilan derajat, suhu cuaca siang pekan lalu.
Perjalanan dari Sydney Central menuju Katoomba memakan waktu sekitar 2 jam melintasi desa-desa kecil yang indah dengan rumah-rumah khas bergaya kuno. Pemandangan ini terlihat saat bus yang membawa saya melintasi Nepean River menuju Emu Plains dan mulai masuk area Blue Mountain.
Dari situ, sekilas desa-desa kecil yang membentuk Kota Blue Mountains dimulai dari Glenbrook memanjang sampai Bathurst. Kebanyakan bangunan dan suasananya bergaya kuno yang seolah-olah waktu berhenti berputar di daerah ini. Sebenarnya hal tersebut tidaklah mengherankan karena Blue Mountain City Council selalu berusaha menjaga ciri khas kota-kotanya.

Thursday, 5 March 2015

Jalur Trans Semarang Mirip Jalur Trem Masa Lalu

PADA akhir abad ke-19, Kota Semarang berkembang menjadi kota berbasis perdagangan dan jasa yang terkemuka di Hindia Belanda. Masyarakat pun berbondong-bondong datang ke Semarang untuk mencari peruntungan.
Arus urbanisasi yang besar, membuat Semarang semakin padat penduduknya. Kebutuhan transportasi terpadu pun mutlak dibutuhkan untuk melayani masyarakatnya. Dan, kebutuhan transportasi pun dijawab oleh NV Semarang-Joana Stoomtram Maatschappij atau disingkat SJS pada 1881 yang dipimpin Mr HMA Baron van Der Goes van Dirxland.
Baron mendapatkan ijin konsesi pengembangan jaringan kereta api dari Pemerintah Kolonial Belanda melalui Besluit van den Gouverneur No 5 tertanggal 18 Maret 1881. Beberapa waktu kemudian, jalur trem uap dibangun dan secara resmi beroperasi pada 1 Desember 1881 melintasi jalur Jurnatan hingga Jomblang sepanjang 4,4 kilometer.
Pada 12 Maret 1883, kembali dibuka jalur trem dari Jurnatan ke Pasar Bulu dan dari Jurnatan ke Stasiun NIS Semarang. Kemudian disusul pada 2 Juli 1883, Jurnatan ke Pelabuhan dan pada 4 November 1899, dari Pasar Bulu ke Banjir Kanal Barat.
Untuk mengenang kembali jalur trem yang pernah jaya di Kota Semarang, Komunitas Lopen bekerjasama dengan BRT Trans Semarang menggelar Telusur Jalur Trem. Setelah berkumpul di depan Mc Donald Java Mall, para peserta langsung menuju halte BRT. Kok ke halte BRT?
''Karena, selidik punya selidik, jalur-jalur BRT Trans Semarang ini ada kemiripan jalur jaringan trem masa lalu. Bahkan letak halte BRT Trans Semarang yang berada di Jomblang ini letaknya persis di tapak dimana dahulu, Stasiun Djomblang, stasiun ujung jaringan trem yang kearah selatan berada,'' tutur Koordinator Komunitas Lopen, Muhammad Yogi Fajri.
Peserta pun diajak menumpang BRT Trans Semarang ke halte Bubakan dan mengamati tapak bekas stasiun sentral Jurnatan, stasiun pusat jaringan trem di Kota Semarang. Walaupun stasiun telah lenyap, penanda bahwa di tapak ini pernah berdiri sebuah stasiun masih dapat dilihat, yakni sebuah tiang telegram yang merupakan pelengkap sarana komunikasi antar stasiun.
Setelah dari stasiun Jurnatan peserta melanjutkan perjalanannya dengan berjalan kaki ke bekas kantor Semarang Joana Stoomtram Maatschappij (SJS) operator jaringan trem di Kota Semarang yang terletak di Pengapon.
Para peserta mengamati bekas kantor dan depo yang telah tenggelam dilumat ganasnya fenomena penurunan tanah di kawasan pesisir. Setelah berfoto bersama, kegiatan dilanjutkan menuju halte BRT Trans Semarang di Tawang, untuk menyusuri jalur trem yang kearah barat via Jalan Pemuda. Penelusuran pun berhenti di Pasar Bulu, di lokasi dimana dahulu terdapat stasiun  pemberhentian trem yakni, Stasiun Bulu yang dahulu terletak di sisi timur Pasar Bulu.
''Sebenarnya stasiun ujung jaringan trem yang kearah barat berada di pinggir Banjir Kanal Barat, tepatnya di dekat Pasar Kokrosono,'' tandas Yogi sapaan akrab Muhammad Yogi Fajri, kemarin.
Karena sudah siang, peserta pun diajak ke Restoran Semarang milik Jongkie Tio yang juga penulis buku “Kota Semarang dalam Kenangan” dan “Semarang City: A Glance into the Past”.
Selain berbagi cerita, para peserta berkesempatan menyantap Lontong Cap Go Meh. Menu akulturasi Tionghoa-Jawa yang mengandung arti, Cap (10) go (5) meh (malam), yang merupakan rangkaian terakhir dari perayaan Imlek. (MS)

Harapkan Keberuntungan, Kebahagiaan dan Keselamata

-Pesta 1000 Lampion di Sekolah Karangturi

SUARA gamelan yang mengiringi pentas wayang kulit dengan dalang Foe Jose Amadeus Krisna, siswa SMA Karangturi, berpadu dengan musik dan lagu-lagu Tionghoa membahana di Sekolah Karangturi Jl Raden Patah 182-192, Jumat (27/2/2015) malam.
Suasana Negeri Tirai Bambu di sekolah itu pun terlihat ketika saya memasuki arena sekolah yang dihias dengan gapura merah berhiaskan lampion dan pernak-pernik lainnya. Ratusan siswa mulai dari TK, SD, SMP hingga SMA yang berbaur bersama orangtuanya pun mengenakan busana khas Tiongkok.
Lampion beragam bentuk dan warna menghias di seluruh sudut gedung. Apalagi ketika memasuki aula di lantai dua, ratusan lampion tergantung di atas ruangan yang disorot oleh lampu. Di tengah aula, sebuah pohon kering tergantung pula lampion dengan bentuk, ukuran dan warna yang beragam pula.
Pesta Lampion dan Perayaan Imlek 2566 Sekolah Karangturi, begitulah nama acara yang berlangsung cukup meriah itu. Beragam acara mulai dari pentas musik akustik, paduan suara, keroncong, tari balet, pemilihan koko dan cici, tari lampion, tari kipas, seni wushu, gambang semarang, english mini drama hingga melepas lampion ke udara digelar dan diikuti para siswa mulai dari TK, SD, SMP hingga SMA.
''Lampion-lampion yang jumlahnya lebih dari 1000 ini juga buatan siswa mulai TK hingga SMA. Lampion menjadi simbol harapan, keselamatan, keberuntungan, kebahagiaan dan penerangan. Kegiatan ini juga mengajak para siswa, guru dan wali murid untuk menjunjung tinggi perbedaan. Karena, siswa di sekolah ini juga berasal dari beragam agama,'' tutur Ketua Umum Yayasan Pendidikan Nasional Karangturi, Harjanto Kusuma Halim, saat ditemui di sela-sela acara.
Menurutnya, kreasi dan kegiatan yang ditampilkan pada acara yang baru pertama kali digelar di sekolah itu juga untuk mengeksplorasi bakat para siswa. Dengan semangat multikulturalisme yang ada di sekolah, Harjanto juga berharap akan membawa harapan yang lebih baik.
Ketua Panitia Pesta Lampion, Andy Hermawan juga menambahkan, kegiatan itu bukan sekedar pesta, tetapi menjadi wujud semangat kekeluargaan warga Karangturi. Karena, selain para siswa dan orangtua, warga di sekitar sekolah pun juga diundang untuk meramaikan acara itu. Kolaborasi seni Tionghoa dan wayang, keroncong dan gambang Semarang yang digelar juga menjadi akulturasi budaya yang harus diwujudkan.
''Apalagi, menyambut penerimaan siswa baru dan tahun kambing kayu ini, kami bersyukur, Sekolah Karangturi akan menempati gedung baru di Graha Padma. Harapan kami, sekolah ini menjadi lebih baik,'' katanya. (MS)

Wednesday, 4 March 2015

Kisah Cinta hingga Pesan Kesuksesan M Hanif Dhakiri

Di negeri permai ini
Berjuta rakyat bersimbah luka
Anak kurus tak sekolah
Pemuda desa tak kerja
Mereka dirampas haknya
Tergusur dan lapar
Bunda relakan darah juang kami
Padamu kami berjanji...


LAGU berjudul Darah Juang yang biasa dinyanyikan para mahasiswa saat menggelar aksi demonstrasi membahana di depan aula IAIN Salatiga, Jalan Tentara Pelajar, di sela-sela Sarasehan dan Temu Alumni yang dihadiri Menteri Ketenagakerjaan, Muhammad Hanif Dhakiri, Sabtu (28/2/2015) siang.
Lagu yang dinyanyikan ratusan alumni dan para mahasiswa itu tidak dalam rangka menuntut kebijakan atau mengkritisi kampus yang tidak berpihak mahasiswa. Tetapi, lagu yang dinyanyikan itu untuk membangkitkan semangat para mahasiswa, alumni sekaligus mengingat kembali masa-masa Hanif Dhakiri saat memimpin aksi demonstrasi ketika kuliah di kampus itu pada 1991 hingga 1996.
Hanif Dhakiri merupakan lulusan Jurusan Bahasa Arab Fakultas Tarbiyah saat IAIN Salatiga masih berstatus sebagai Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Salatiga. Dihadapan ratusan alumni, mahasiswa dan para dosen, Hanif mengaku, kampus IAIN Salatiga adalah kampus yang paling penting dalam perjalanan hidupnya.
Di kampus itu, ia mengenal politik, mengenal banyak orang, mengenal pemikiran keislaman dan perkembangan pemikiran lainnya. Ia pun berharap, ke depan, IAIN Salatiga yang status sebelumnya adalah STAIN Salatiga, dapat berkembang dan berkontribusi bagi bangsa dan negara.
''Saya juga mengenal cinta di kampus ini. Dulu, saat saya berlatih memanjat pohon dengan tali, melihat seorang mahasiswi baru. Boleh juga ini, pikir saya. Marifah atau Ifah ini adik kelas saya, Jurusan Bahasa Arab tahun 1992, kelahiran Banyumas. Pulang kuliah, saya sering mengantar dia jalan kaki dari kampus ke kosnya di Cabean. Namanya cinta ya harus berkorban,'' tuturnya disambut tawa dan tepuk tangan.
Hanif yang pernah aktif di UKM Teater Getar, LPM DinamikA, pecinta alam Mittapasa, Racana Pramuka, Musik, HMJ maupun organisasi ektra kampus, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat dan Cabang Salatiga itu berpesan kepada para mahasiswa, selain kuliah harus ikut organisasi intra maupun ektra.
''Jangan ragu-ragu untuk untuk ikut organisasi. Sebagai mahasiswa aktifitasnya jangan terbatas kos kampus saja. Kalau terbatas, dunia kedepannya akan sempit. Kuliah tetap wajib, tetapi sunnah-nya aktif di organisasi. Jangan harap selesai kuliah langsung jadi guru atau PNS,'' tandasnya.
Dalam kesempatan itu, Hanif juga mengucapkan terimakasih kepada IAIN Salatiga yang telah membentuk karakter dan kepribadiannya hingga mendapat amanah untuk menjadi Menteri Ketenagakerjaan.
Usai memberi motivasi dan bercerita saat kuliah, Hanif berkeliling ke ruang UKM yang dahulu pernah ia tiduri dan menyapa para aktifis didampingi Rektor IAIN Salatiga, Rahmat Hariyadi, para dosen dan menyempatkan diri untuk berfoto bersama para mahasiswa yang saat ini aktif di beberapa UKM kampus itu. (MS)

Dulang Berkali-kali hingga Terkencing-kencing

Film Dokumenter tentang Nasib dan Perjuangan PRT 

"Harga kebutuhan hidup layak makin tinggi, sudah tujuh tahun bekerja, gaji saya hanya Rp 400 ribu per bulan. Padahal, transport pulang pergi Rp 7.000 setiap hari. Kalau jalan kaki, ya satu jam lamanya''

Itulah keluhan Iyem, salah satu anggota Serikat Pekerja Rumah Tangga (PRT) Merdeka dalam cuplikan film dokumenter yang diputar dalam rangka Peringatan Hari PRT Nasional di Sekolah PRT Jl Bukit Dingin C3A Nomor 19, Perumahan Permata Puri, Ngaliyan, Minggu (15/2/2015) sore.
Tak hanya Iyem, Imah, Zaenab, Yati yang menjadi "aktor" dalam film itu juga menggambarkan, kehidupan PRT sehari-hari yang disibukkan dengan benda-benda seperti sapu, serbet, pisau, pakaian kotor. Film yang dibuat di sela-sela kesibukan mereka itu juga ber
''Kami sengaja membuat film yang ala kadarnya ini untuk menyuarakan aspirasi kami agar didengar DPR dan Presiden Jokowi. Karena kami masih sangat awam menggunakan handycam, membuat film-nya pun diulang berkali-kali sampai terkencing-kencing karena belum tahu caranya menyuarakan aspirasi. Lha gimana lagi, setiap hari kami hanya memagang pisau, serbet, sapu harus menggunakan handycam,'' tutur Zaenab.
Yati, PRT asal Wonosobo yang telah 15 tahun di bekerja Kota Semarang pun mengaku, setiap penggalan film yang dibuat, selalu saja salah. Apa yang disampaikan saat kamera menyorot dirinya, ia pun sampai harus menangis teringat perjuangannya menjadi PRT selama ini untuk menghidupi keluarganya.
''Soal PRT dulu dianggap hal yang rumit dan tidak penting. Sekarang PRT adalah bagian penting dari kehidupan dan menjadi ketergantungan sebuah rumah tangga dari sistem ekonomi. Sebuah keluarga tidak akan bisa bekerja dan mendapat keuntungan tanpa PRT. Sehingga, antara keluarga dan PRT harus saling berbagi,'' tutur mantan Koordinator Eksekutif Pusat Edukasi Studi Advokasi Anak Indonesia (Perisai) Fatah Muria, usai nonton film bareng.
Uut dari Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Semarang juga menceritakan pengalamannya selama delapan tahun lebih bekerja di luar negeri. Di tengah tuntutan yang belum pernah disahkan oleh pemerintah, nasib PRT di luar negeri bahkan mengenaskan. Selain tidak pernah diakui, ketika melakukan kesalahan, mereka mendapatkan hukuman yang mengerikan, seperti cambuk dan gantung.
Ketua Serikat PRT Merdeka, Nur Khasanah pun menegaskan, betapa penting untuk mendesak dan menuntut DPR dan Pemerintah agar peristiwa kekerasan terhadap PRT tidak terulang lagi baik dari mulai awal gejalanya hingga ke bentuk ekstrim.  ''Maka stop selalu berpikir menunggu jumlah kasus, dan bertindak mencegahnya dan mendesak langkah Negara yang sistematis mewujudkan UU Perlindungan PRT dan Ratifikasi Konvensi ILO 189 Situasi Kerja Layak PRT dalam Prioritas Prolegnas 2015 dan segera melakukan pembahasan serta pengesahan segera,'' tandasnya.
Usai berdiskusi, mereka memotong roti Peringatan Hari PRT Nasional serta bertukar kado antar 30-an anggota Serikat PRT Merdeka yang hadir, kemarin. (MS)

Penjual Replika Pesawat di Kalibanteng




KECELAKAAN pesawat AirAsia QZ8501 yang mengangkut 155 penumpang akhir Desember 2014 di perairan Belitung Timur dan TransAsia Airways yang jatuh ke sebuah sungai di Taipei Taiwan Rabu (4/2/2015) membuat beberapa masyarakat takut naik pesawat terbang.
Tetapi, bagi masyarakat yang butuh bepergian ke daerah dengan waktu yang cepat dan tidak terjangkau melalui jalur darat, tentu pesawat terbang tetap menjadi pilihan alat transportasi meski kasus kecelakaan kerap terjadi.
Apalagi, melihat kontur wilayah Indonesia yang cukup bergunung-gunung menjadikan alat transportasi darat tidak cukup efektif untuk digunakan kecuali di daerah kota-kota besar yang penyediaan fasilitas jalan rayanya sudah cukup baik.
Sambil mengajak masyarakat tidak lagi takut maupun memilih pesawat terbang sebagai alat transportasi yang cepat dan nyaman, Rokidin (35) dan Salimin (37), warga Kabupaten Tegal, dalam beberapa hari ini bersama belasan pedagang lainnya berjualan replika pesawat terbang di Kawasan Kalibanteng, yang tidak jauh dari Bandar Udara Internasional Ahmad Yani.
''Kecelakaan yang terjadi itu kan satu dari berapa ribu kali penerbangan. Sehingga, kita tidak perlu takut naik pesawat. Setiap berjualan replika pesawat, kepada pengguna jalan, kami juga mengajak, agar mereka jangan takut naik pesawat,'' ujar Rokidin, kemarin.
Ada beberapa pesawat yang dijajakan Rokidin. Air Asia, Citilink, Lion Air dan Garuda Indonesia mulai dari ukuran panjang 20 sentimeter hingga 30 sentimeter. Untuk ukuran kecil, dipatok harga Rp 30 ribu. Sementara untuk ukuran besar mulai dari Rp 40 ribu hingga Rp 250 ribu. Tetapi, harga itu bisa berubah tergantung negosiasi saat terjadi penawaran kepada pembeli.
Para pedagang, menurutnya, mulai berjualan pukul 09.00 sampai pukul 17.00 dengan keuntungan yang bervariasi. Antara puluhan hingga ratusan ribu rupiah, tergantung jumlah replika pesawat terbang yang laku.
Bagi Salimin, berjualan replika pesawat terbang di kawasan yang tidak jauh dari bandara udara tentu menguntungkan. Apalagi usai ada pesawat terbang yang landing (turun) ke bandara. Tidak hanya penumpang, tetapi juga para penjemput yang membeli dagangannya. Salimin yakin, dengan memiliki replika pesawat terbang, warga tentu akan makin cinta dan memilih pesawat terbang sebagai pilihan alat transportasi.
''Kalau yang membeli anak-anak, tentu mereka kapan waktu akan meminta orangtuanya naik pesawat saat bepergian ke Jakarta, atau kota-kota besar lainnya. Intinya, jangan takut naik pesawat,'' ujarnya. (MS)

Thursday, 10 January 2013

Melongok Aktifitas Gerakan Semarang Berbagi

Kumpulkan Dana dan Bantu Masyarakat yang Tak Mampu

SUASANA di Panti Asuhan Cacat Ganda Al Rifdah yang ada di Jalan Tlogomulyo, Kelurahan Tlogomulyo, Kecamatan Pedurungan siang itu, Sholih (10) tengah menyuapi Rizal (16). Keduanya merupakan penyandang tuna wicara dan down syndrome (keterbelakangan pertumbuhan fisik dan mental).
Sementara, Ratman (8) penyandang tuna wicara tengah menyuapi Aris (15), juga penyandang tuna wicara dan down syndrome. Dan Temu (15) penyandang tuna wicara, down syndrome dan autis hiperaktif menyuapi Yusuf (10), penyandang tuna wicara dan down syndrome.
Setiap hari, Sholih, Ratman, dan Temu, tak hanya membantu para pengasuh panti asuhan menyuapi belasan anak-anak yang lain. Mereka juga membantu memandikan, mengganti baju, membersihkan tempat tidur, hingga menghibur anak-anak lain yang hanya tertidur lemas di atas tempat tidur dari besi itu.
''Dari 19 anak yang kami asuh, Sholih, Ratman dan Temu adalah anak yang sudah bisa mandiri. Mereka tidak hanya bisa mengurus dirinya sendiri, tetapi juga membantu teman-temannya, mulai dari makan, minum, mandi, menggantikan pakaian, dan membersihkan tempat tidur,'' tutur Rahma Faradila, pendiri sekaligus pengelola Panti Asuhan Cacat Ganda Al Rifdah.
Ibu dari Atiya Dila Karista (2) kelahiran Semarang 17 Juli 1977 itu, juga menjelaskan, beragam bantuan selama ini terus mengalir dari para donatur yang datang tak hanya dari Kota Semarang. Pasalnya, sebagian donasi yang masuk, dikelola dan diatur oleh gerakan sosial yang mengajak warga Kota Semarang dan sekitarnya untuk membantu mereka yang membutuhkan berdiri.
''Tak hanya mengumpulkan dana, mereka juga berupaya membuat panti asuhan kami menjadi berkembang lebih baik, mandiri dan berkembang dengan mengelola dana yang diterima,'' katanya.
Gerakan Semarang Berbagi, itulah namanya. Dipelopori oleh Hidayat Prasetyo (guru SMA Institut Indonesia), Kurnia Purwandini (mahasiswa FKM Undip), Atika Elfandari (karyawan swasta), Adi Susanto (kontraktor) dan berdiri pada Maret 2012, Semarang Berbagi kini telah mengumpulkan dana hingga Rp 80 juta dari para donatur.
''Kegiatan kami selain pengumpulan dana, kita juga mengenalkan kepada masyarakat melalui radio, media cetak, blog dan sosial media yang ada. Memenuhi kebutuhan panti asuhan, seperti kesehatan, makanan serta membawa masyarakat kurang mampu untuk berobat ke rumah sakit,'' tutur Hidayat, yang dipercaya sebagai koordinator Semarang Berbagi.
Fokus garapan Semarang Berbagi yang memiliki alamat blog: http://smgberbagi.blogdetik.com dan facebook : SMG Berbagi saat ini adalah memperhatikan kemajuan kesehatan anak-anak Panti Asuhan Cacat Ganda Al Rifdah serta rencana pembangunan rumah belajar di RT 4 RW 1 Kelurahan Pendrikan Lor, Kecamatan Semarang Tengah yang didirikan oleh Aisyah (39) dan suaminya, Heru Setiawan (39) yang memiliki keterbatasan fisik seperti yang diberitakan Suara Merdeka, Rabu (12/12).
''Donasi bisa disalurkan via rekening BCA Siliwangi dengan nomer rekening 246-543-0492 a.n. Hidayat Prasetyo (rekening khusus untuk #SMGberbagi). Nanti, setelah pembangunan rumah belajar selesai, kami akan fokus kembali kepada obyek yang membutuhkan bantuan,'' imbuh Kurnia Purwandini.

Dibangun Swadaya Masyarakat, Bentuk Generasi Berprestasi

PAUD Mawar V Petompon

MESKI masih berusia satu tahun, Alika tanpa malu dan ragu menirukan gerakan sang guru, ketika musik yang diputar melalui VCD Player pagi itu menyenandungkan lagu berjudul Bintang Kecil. Di tengah 30-an anak, mental bocah perempuan itu benar-benar teruji. Meski gerakannya terlambat dan salah, ia tetap saja menari di barisan paling depan.
Itulah suasana pagi di Pos PAUD Mawar V yang didirikan tiga tahun lalu oleh Paguyuban Keluarga Besar RT 2 RW V Kelurahan Petompon, Kecamatan Gajahmungkur. Di ruangan 8 x 6 meter itu, suasana keceriaan anak-anak berusia satu hingga enam tahun yang terlihat setiap hari mulai pukul 08.00 sampai pukul 10.00.
Berbeda dengan Miftakhul Khoir (3), karena usianya lebih tua dari Alika, gerakan yang dicontohkan oleh para guru pun nyaris sama. Meski masih terlihat terlambat, ia harus melihat gerakan-gerakan yang dicontohkan sang guru.
Pembina Pos PAUD Mawar V Herry Sugono menuturkan, sebelum berdiri PAUD, anak-anak di kampung yang dihuni kalangan menengah ke bawah itu sering digunakan untuk mabuk-mabukan, bermain judi dan sejenisnya.
''Agar anak-anak tidak meniru, masyarakat pun bersepakat membangun sebuah wahana pendidikan. Tidak saja PAUD, gedung itu juga digunakan sebagai Rumah Pintar dan lahan di sampingnya kita dirikan mushala. Alhamdulillah, sekarang, kegiatan mabuk-mabukan dan kemaksiatan yang lain tidak terjadi lagi,'' paparnya saat ditemui di sela-sela penilaian Lomba Administrasi PKK dan Bina Keluarga Balita Posyandu tingkat Kota Semarang.
Ketua Pos PAUD Mawar V, Watiningsih, menjelaskan, karena terpilih mewakili Kecamatan Gajahmungkur untuk lomba administrasi tingkat Kota Semarang pihaknya terus berupaya meningkatkan kualitas pendidikan. Beragam kegiatan seperti pengenalan alam, pengenalan gerakan motorik halus maupun kasar diberikan kepada para siswa.
''Dahulu, sebelum ada PAUD, anak-anak lebih sering belajar dirumah dan kurang bersosialisasi. Kita berupaya membantu perkembangan anak, dengan bahasa, bersosialisasi, sopan, dan santun. Mereka juga tidak kita pungut biaya alias gratis, dengan kesadaran orang tua, mereka memberikan infaq semampunya,'' tuturnya didampingi Ketua RT 2, Samiyem SPd.
Samiyem menambahkan, mayoritas para orang tua siswa bekerja sebagai buruh kasar, karyawan pabrik, kuli batu, dan kuli serabutan. Untuk mengembangkan gedung dan menambah alat peraga pendidikan, pihaknya mengaku baru sekali dibantu oleh Pemerintah Kota Semarang.
''Kita juga patut bangga, salah satu siswa Naffa Lathi Riyanti, sering menjadi pemenang lomba, seperti Java Fashion Contest, Lomba Mewarnai dan Melengkapi Gambar,'' ujarnya.

Kuliner Berbasis Pemberdayaan Masyarakat dan Kaum Duafa

SEMILIR angin memainkan daun-daun pohon mangga hingga membentuk suara unik. Lalu lalang sepeda motor pun dengan suara khas knalpot menambah suasana kampung yang banyak dijadikan rumah kos siang itu menjadi makin ramai.
Di sudut kampung atau tepatnya di rumah yang ada di Jalan Karangrejo 107 RT 6 RW 2 Kecamatan Gajahmungkur, beberapa perempuan tengah sibuk memasak di teras rumah yang dilengkapi tenda semi permanen, etalase konter, meja dan kursi. Ruang tamu yang ada pun disulap menjadi tempat makan lesehan. Bau sedap atau aroma bumbu yang tengah digoreng pun menusuk hidung. Jamur tiram segar yang ditata sedemikian rapi di etalase konter pun diambil oleh sang juru masak, Kasmanila (46) dan Jumiati (36).
''Silahkan, mau makan apa? Kami menyediakan aneka menu masakan berbahan dasar jamur tiram. Ada Jamur Asam Pedas Manis, Asam Pedas, Penyet, Nugeet, Kroket, Crispy,'' tutur Meike Fitrianingtyas (24), penggagas usaha yang siang itu menjadi pelayan Angkringan Jamur Petruk.
Meike menjelaskan, inspirasi angkringan jamur berasal dari Solo yang memiliki angkringan besar seperti kucingan tetapi mewah dan harganya pun murah. Nama angkringan diambil agar bisa dinikmati oleh kalangan menengah ke bawah sampai ke atas, alias bisa merakyat.
''Masakan aneka jamur biasanya disajikan di rumah makan yang bisa dinikmati oleh kalangan menengah ke atas saja, tapi disini cukup dengan Rp 6 ribu hingga Rp 8 ribu, sudah bisa menikmati masakan jamur plus minumnya,'' jelas alumni Fakultas Teknik Kimia Undip dua tahun lalu itu.
Dijelaskan pula, banyaknya janda dan kaum duafa di wilayah Karangrejo yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga hanya berpenghasilan mulai Rp 250 ribu hingga Rp 300 ribu per bulan memiliki kemampuan memasak yang nikmat.
Ditambah, MBI LAZiS Jateng juga memiliki kampung binaan di Gondoriyo dan Gedawang Banyumanik yang membudidayakan jamur berkualitas bagus.
''Semua kita kolaborasi, ibu-ibu, janda dan kaum duafa kita berdayakan untuk mengelola angkringan ini. Ke depan, bersama Bank Syariah Mandiri kita akan membuka cabang di Hotel Semesta dan daerah lainnya. Dan semua pengelolanya adalah masyarakat dan kaum duafa,'' tandasnya.
Ditambahkan, nama Petruk sendiri dimaknai karena punakawan Petruk selalu menghibur tuannya ketika dalam kesusahaan menerima cobaan, mengingatkan ketika lupa, membela ketika teraniaya.
''Petruk itu bisa momong, momot, momor,mursid dan murakabi. Ini upaya dan harapan angkringan ini akan menjadi tempat kuliner,'' jelas Meike.
Direktur Eksekutif LAZiS Jateng Arif Nurhayadi menambahkan, Angkringan Jamur Petruk menjadi produk unggulan LAZiS Jateng yang ke depan akan berdiri di seluruh wilayah Jawa Tengah dan saat ini dimulai dari Kota Semarang.
''LAZiS dalam hal ini berupaya melakukan pendampingan dan riset, sementara untuk pembiayaan konter dan peralatan, kita menggandeng dunia perbankan,'' ujarnya didampingi Koordinator Hubungan Masyarakat LAZiS Jateng, Diyah Al Furqon.

Dari Mahir Desain Grafis, Hafal Lagu hingga Mainkan 27 Gerakan Pantomim

Kami bukan produk Tuhan yang gagal,
Karena Tuhan tidak pernah gagal.
Tetapi, kami diciptakan untuk memberi inspirasi...


TULISAN poster yang dilengkapi foto Ibu Negara, Ani Yudhoyono yang hendak memeluk anak-anak berkebutuhan khusus menjadi pesan bocah kelahiran Desa Bawu Mojo, Kecamatan Batealit, Kabupaten Jepara, 5 April 1996 kepada masyarakat untuk tidak menyepelekan anak-anak yang kekurangan fisik.
Ya, Jamaludin Cahya, anak ketika dari lima bersaudara dari pasangan Mustafidah (48) dan Ssmail (55) yang sejak lahir mengalami lumpuh layu itu memang tidak boleh disepelekan. Kemampuan membuat desain grafis telah mendapat apresiasi dari perusahaan maupun pemerintah. Poster, pamflet, desain rumah, iklan maupun desain kemasan makanan ringan yang ia buat telah mendapatkan penghargaan tingkat provinsi Jawa Tengah maupun nasional.
''Anak-anak berkebutuhan khusus tidak perlu dikasihani, tetapi dari diri mereka kita akan mendapat inspirasi. Mereka ibarat batangan emas yang tertimbun lumpur,'' tutur Kepala SLB Negeri Semarang, Ciptono saat ditemui di sela-sela Pemecahan Rekor Muri, Pameran Desain Grafis Pertama Anak Lumpuh Layu dan Pagelaran Pantomim Anak Berkebutuhan Khusus di Atrium Mal Ciputra.
Ya, meski kondisi fisik cacat, bukan berarti selalu terbelakang dan semua berakhir alias tamat. Anak-anak asuhan Ciptono yang menyandang cacat fisik atau mental justru menonjol di bidang-bidang tertentu. Semisal tarik suara, daya ingat yang luar biasa, dan olahraga.
Seperti yang dilakukan Jamaludin Cahya yang siang itu didampingi guru pembimbingnya, Heru Joneth. Kurang dari 30 menit, tangannya dengan lincah memainkan mouse dan laptop mendesain rumah lantai dua dan gazebo pantai yang dilengkapi enam kursi. Belasan karya grafis seperti poster pendaftaran sekolah, cover buku pelajaran, kemasan makanan ringan, poster Gubernur Jateng dan slogan Bali Ndesa Mbangun Desa yang dipajang menjadi perhatian para pengunjung mal.
''Saya ingin menjadi seorang animator profesional dan ingin sekali membuat grafis film kartun anak-anak Indonesia,'' tutur Cahya, didampingi ibunya.
Tak hanya penampilan Cahya saja yang membuat decak kagum para pengunjung mal. Kharisma Rizky Pradana Risky Pradana (12) yang menderita autis sejak lahir dan dikaruniai daya ingat yang luar biasa itu tampil menyanyikan lagu anak-anak, pop, dangdut hingga campursari. Kharisma yang bercita-cita menjadi dokter spesialis itu juga hafal lagu daerah, kapan ia berkunjung ke Jakarta, ke Jambi, ke Kalimantan, hingga hafal kapan dia jatuh di sawah. Bahkan dengan cepat ia menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan Ciptono. Misalnya, ketika diminta menirukan iklan, menyanyikan lagu daerah dan lagu dangdut, sambil memegang microphone, Kharisma langsung menyanyi.
Usai Kharisma bernyanyi dan menjawab pertanyaan Ciptono, anak-anak SLB Negeri Semarang hingga sore hari juga menampilkan 17 judul pantomim, diantaranya Pergi ke Sekolah, Pergi ke Pasar, Memancing Ikan, dan Beli Bakso. Karena dinilai menjadi acara yang unik dan baru satu-satunya di Indonesia, Pameran Desain Grafis Pertama Anak Lumpuh Layu dan Pagelaran Pantomim Anak Berkebutuhan Khusus oleh Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri) pun dicatat sebagai rekor ke 5762 dan 5763.
''Acara ini unik dan menarik, serta baru pertama kali digelar di Indonesia. Untuk itu, kami dari Muri memberikan penghargaan dan apresiasi yang luar biasa. Semoga menjadi inspirasi masyarakat,'' pesan Manager Muri, Sri Widayati usai memberikan penghargaan.