Kang Syukron Photography

Kamis, 10 Januari 2013

Melongok Aktifitas Gerakan Semarang Berbagi

Kumpulkan Dana dan Bantu Masyarakat yang Tak Mampu

SUASANA di Panti Asuhan Cacat Ganda Al Rifdah yang ada di Jalan Tlogomulyo, Kelurahan Tlogomulyo, Kecamatan Pedurungan siang itu, Sholih (10) tengah menyuapi Rizal (16). Keduanya merupakan penyandang tuna wicara dan down syndrome (keterbelakangan pertumbuhan fisik dan mental).
Sementara, Ratman (8) penyandang tuna wicara tengah menyuapi Aris (15), juga penyandang tuna wicara dan down syndrome. Dan Temu (15) penyandang tuna wicara, down syndrome dan autis hiperaktif menyuapi Yusuf (10), penyandang tuna wicara dan down syndrome.
Setiap hari, Sholih, Ratman, dan Temu, tak hanya membantu para pengasuh panti asuhan menyuapi belasan anak-anak yang lain. Mereka juga membantu memandikan, mengganti baju, membersihkan tempat tidur, hingga menghibur anak-anak lain yang hanya tertidur lemas di atas tempat tidur dari besi itu.
''Dari 19 anak yang kami asuh, Sholih, Ratman dan Temu adalah anak yang sudah bisa mandiri. Mereka tidak hanya bisa mengurus dirinya sendiri, tetapi juga membantu teman-temannya, mulai dari makan, minum, mandi, menggantikan pakaian, dan membersihkan tempat tidur,'' tutur Rahma Faradila, pendiri sekaligus pengelola Panti Asuhan Cacat Ganda Al Rifdah.
Ibu dari Atiya Dila Karista (2) kelahiran Semarang 17 Juli 1977 itu, juga menjelaskan, beragam bantuan selama ini terus mengalir dari para donatur yang datang tak hanya dari Kota Semarang. Pasalnya, sebagian donasi yang masuk, dikelola dan diatur oleh gerakan sosial yang mengajak warga Kota Semarang dan sekitarnya untuk membantu mereka yang membutuhkan berdiri.
''Tak hanya mengumpulkan dana, mereka juga berupaya membuat panti asuhan kami menjadi berkembang lebih baik, mandiri dan berkembang dengan mengelola dana yang diterima,'' katanya.
Gerakan Semarang Berbagi, itulah namanya. Dipelopori oleh Hidayat Prasetyo (guru SMA Institut Indonesia), Kurnia Purwandini (mahasiswa FKM Undip), Atika Elfandari (karyawan swasta), Adi Susanto (kontraktor) dan berdiri pada Maret 2012, Semarang Berbagi kini telah mengumpulkan dana hingga Rp 80 juta dari para donatur.
''Kegiatan kami selain pengumpulan dana, kita juga mengenalkan kepada masyarakat melalui radio, media cetak, blog dan sosial media yang ada. Memenuhi kebutuhan panti asuhan, seperti kesehatan, makanan serta membawa masyarakat kurang mampu untuk berobat ke rumah sakit,'' tutur Hidayat, yang dipercaya sebagai koordinator Semarang Berbagi.
Fokus garapan Semarang Berbagi yang memiliki alamat blog: http://smgberbagi.blogdetik.com dan facebook : SMG Berbagi saat ini adalah memperhatikan kemajuan kesehatan anak-anak Panti Asuhan Cacat Ganda Al Rifdah serta rencana pembangunan rumah belajar di RT 4 RW 1 Kelurahan Pendrikan Lor, Kecamatan Semarang Tengah yang didirikan oleh Aisyah (39) dan suaminya, Heru Setiawan (39) yang memiliki keterbatasan fisik seperti yang diberitakan Suara Merdeka, Rabu (12/12).
''Donasi bisa disalurkan via rekening BCA Siliwangi dengan nomer rekening 246-543-0492 a.n. Hidayat Prasetyo (rekening khusus untuk #SMGberbagi). Nanti, setelah pembangunan rumah belajar selesai, kami akan fokus kembali kepada obyek yang membutuhkan bantuan,'' imbuh Kurnia Purwandini.

Dibangun Swadaya Masyarakat, Bentuk Generasi Berprestasi

PAUD Mawar V Petompon

MESKI masih berusia satu tahun, Alika tanpa malu dan ragu menirukan gerakan sang guru, ketika musik yang diputar melalui VCD Player pagi itu menyenandungkan lagu berjudul Bintang Kecil. Di tengah 30-an anak, mental bocah perempuan itu benar-benar teruji. Meski gerakannya terlambat dan salah, ia tetap saja menari di barisan paling depan.
Itulah suasana pagi di Pos PAUD Mawar V yang didirikan tiga tahun lalu oleh Paguyuban Keluarga Besar RT 2 RW V Kelurahan Petompon, Kecamatan Gajahmungkur. Di ruangan 8 x 6 meter itu, suasana keceriaan anak-anak berusia satu hingga enam tahun yang terlihat setiap hari mulai pukul 08.00 sampai pukul 10.00.
Berbeda dengan Miftakhul Khoir (3), karena usianya lebih tua dari Alika, gerakan yang dicontohkan oleh para guru pun nyaris sama. Meski masih terlihat terlambat, ia harus melihat gerakan-gerakan yang dicontohkan sang guru.
Pembina Pos PAUD Mawar V Herry Sugono menuturkan, sebelum berdiri PAUD, anak-anak di kampung yang dihuni kalangan menengah ke bawah itu sering digunakan untuk mabuk-mabukan, bermain judi dan sejenisnya.
''Agar anak-anak tidak meniru, masyarakat pun bersepakat membangun sebuah wahana pendidikan. Tidak saja PAUD, gedung itu juga digunakan sebagai Rumah Pintar dan lahan di sampingnya kita dirikan mushala. Alhamdulillah, sekarang, kegiatan mabuk-mabukan dan kemaksiatan yang lain tidak terjadi lagi,'' paparnya saat ditemui di sela-sela penilaian Lomba Administrasi PKK dan Bina Keluarga Balita Posyandu tingkat Kota Semarang.
Ketua Pos PAUD Mawar V, Watiningsih, menjelaskan, karena terpilih mewakili Kecamatan Gajahmungkur untuk lomba administrasi tingkat Kota Semarang pihaknya terus berupaya meningkatkan kualitas pendidikan. Beragam kegiatan seperti pengenalan alam, pengenalan gerakan motorik halus maupun kasar diberikan kepada para siswa.
''Dahulu, sebelum ada PAUD, anak-anak lebih sering belajar dirumah dan kurang bersosialisasi. Kita berupaya membantu perkembangan anak, dengan bahasa, bersosialisasi, sopan, dan santun. Mereka juga tidak kita pungut biaya alias gratis, dengan kesadaran orang tua, mereka memberikan infaq semampunya,'' tuturnya didampingi Ketua RT 2, Samiyem SPd.
Samiyem menambahkan, mayoritas para orang tua siswa bekerja sebagai buruh kasar, karyawan pabrik, kuli batu, dan kuli serabutan. Untuk mengembangkan gedung dan menambah alat peraga pendidikan, pihaknya mengaku baru sekali dibantu oleh Pemerintah Kota Semarang.
''Kita juga patut bangga, salah satu siswa Naffa Lathi Riyanti, sering menjadi pemenang lomba, seperti Java Fashion Contest, Lomba Mewarnai dan Melengkapi Gambar,'' ujarnya.

Kuliner Berbasis Pemberdayaan Masyarakat dan Kaum Duafa

SEMILIR angin memainkan daun-daun pohon mangga hingga membentuk suara unik. Lalu lalang sepeda motor pun dengan suara khas knalpot menambah suasana kampung yang banyak dijadikan rumah kos siang itu menjadi makin ramai.
Di sudut kampung atau tepatnya di rumah yang ada di Jalan Karangrejo 107 RT 6 RW 2 Kecamatan Gajahmungkur, beberapa perempuan tengah sibuk memasak di teras rumah yang dilengkapi tenda semi permanen, etalase konter, meja dan kursi. Ruang tamu yang ada pun disulap menjadi tempat makan lesehan. Bau sedap atau aroma bumbu yang tengah digoreng pun menusuk hidung. Jamur tiram segar yang ditata sedemikian rapi di etalase konter pun diambil oleh sang juru masak, Kasmanila (46) dan Jumiati (36).
''Silahkan, mau makan apa? Kami menyediakan aneka menu masakan berbahan dasar jamur tiram. Ada Jamur Asam Pedas Manis, Asam Pedas, Penyet, Nugeet, Kroket, Crispy,'' tutur Meike Fitrianingtyas (24), penggagas usaha yang siang itu menjadi pelayan Angkringan Jamur Petruk.
Meike menjelaskan, inspirasi angkringan jamur berasal dari Solo yang memiliki angkringan besar seperti kucingan tetapi mewah dan harganya pun murah. Nama angkringan diambil agar bisa dinikmati oleh kalangan menengah ke bawah sampai ke atas, alias bisa merakyat.
''Masakan aneka jamur biasanya disajikan di rumah makan yang bisa dinikmati oleh kalangan menengah ke atas saja, tapi disini cukup dengan Rp 6 ribu hingga Rp 8 ribu, sudah bisa menikmati masakan jamur plus minumnya,'' jelas alumni Fakultas Teknik Kimia Undip dua tahun lalu itu.
Dijelaskan pula, banyaknya janda dan kaum duafa di wilayah Karangrejo yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga hanya berpenghasilan mulai Rp 250 ribu hingga Rp 300 ribu per bulan memiliki kemampuan memasak yang nikmat.
Ditambah, MBI LAZiS Jateng juga memiliki kampung binaan di Gondoriyo dan Gedawang Banyumanik yang membudidayakan jamur berkualitas bagus.
''Semua kita kolaborasi, ibu-ibu, janda dan kaum duafa kita berdayakan untuk mengelola angkringan ini. Ke depan, bersama Bank Syariah Mandiri kita akan membuka cabang di Hotel Semesta dan daerah lainnya. Dan semua pengelolanya adalah masyarakat dan kaum duafa,'' tandasnya.
Ditambahkan, nama Petruk sendiri dimaknai karena punakawan Petruk selalu menghibur tuannya ketika dalam kesusahaan menerima cobaan, mengingatkan ketika lupa, membela ketika teraniaya.
''Petruk itu bisa momong, momot, momor,mursid dan murakabi. Ini upaya dan harapan angkringan ini akan menjadi tempat kuliner,'' jelas Meike.
Direktur Eksekutif LAZiS Jateng Arif Nurhayadi menambahkan, Angkringan Jamur Petruk menjadi produk unggulan LAZiS Jateng yang ke depan akan berdiri di seluruh wilayah Jawa Tengah dan saat ini dimulai dari Kota Semarang.
''LAZiS dalam hal ini berupaya melakukan pendampingan dan riset, sementara untuk pembiayaan konter dan peralatan, kita menggandeng dunia perbankan,'' ujarnya didampingi Koordinator Hubungan Masyarakat LAZiS Jateng, Diyah Al Furqon.

Dari Mahir Desain Grafis, Hafal Lagu hingga Mainkan 27 Gerakan Pantomim

Kami bukan produk Tuhan yang gagal,
Karena Tuhan tidak pernah gagal.
Tetapi, kami diciptakan untuk memberi inspirasi...


TULISAN poster yang dilengkapi foto Ibu Negara, Ani Yudhoyono yang hendak memeluk anak-anak berkebutuhan khusus menjadi pesan bocah kelahiran Desa Bawu Mojo, Kecamatan Batealit, Kabupaten Jepara, 5 April 1996 kepada masyarakat untuk tidak menyepelekan anak-anak yang kekurangan fisik.
Ya, Jamaludin Cahya, anak ketika dari lima bersaudara dari pasangan Mustafidah (48) dan Ssmail (55) yang sejak lahir mengalami lumpuh layu itu memang tidak boleh disepelekan. Kemampuan membuat desain grafis telah mendapat apresiasi dari perusahaan maupun pemerintah. Poster, pamflet, desain rumah, iklan maupun desain kemasan makanan ringan yang ia buat telah mendapatkan penghargaan tingkat provinsi Jawa Tengah maupun nasional.
''Anak-anak berkebutuhan khusus tidak perlu dikasihani, tetapi dari diri mereka kita akan mendapat inspirasi. Mereka ibarat batangan emas yang tertimbun lumpur,'' tutur Kepala SLB Negeri Semarang, Ciptono saat ditemui di sela-sela Pemecahan Rekor Muri, Pameran Desain Grafis Pertama Anak Lumpuh Layu dan Pagelaran Pantomim Anak Berkebutuhan Khusus di Atrium Mal Ciputra.
Ya, meski kondisi fisik cacat, bukan berarti selalu terbelakang dan semua berakhir alias tamat. Anak-anak asuhan Ciptono yang menyandang cacat fisik atau mental justru menonjol di bidang-bidang tertentu. Semisal tarik suara, daya ingat yang luar biasa, dan olahraga.
Seperti yang dilakukan Jamaludin Cahya yang siang itu didampingi guru pembimbingnya, Heru Joneth. Kurang dari 30 menit, tangannya dengan lincah memainkan mouse dan laptop mendesain rumah lantai dua dan gazebo pantai yang dilengkapi enam kursi. Belasan karya grafis seperti poster pendaftaran sekolah, cover buku pelajaran, kemasan makanan ringan, poster Gubernur Jateng dan slogan Bali Ndesa Mbangun Desa yang dipajang menjadi perhatian para pengunjung mal.
''Saya ingin menjadi seorang animator profesional dan ingin sekali membuat grafis film kartun anak-anak Indonesia,'' tutur Cahya, didampingi ibunya.
Tak hanya penampilan Cahya saja yang membuat decak kagum para pengunjung mal. Kharisma Rizky Pradana Risky Pradana (12) yang menderita autis sejak lahir dan dikaruniai daya ingat yang luar biasa itu tampil menyanyikan lagu anak-anak, pop, dangdut hingga campursari. Kharisma yang bercita-cita menjadi dokter spesialis itu juga hafal lagu daerah, kapan ia berkunjung ke Jakarta, ke Jambi, ke Kalimantan, hingga hafal kapan dia jatuh di sawah. Bahkan dengan cepat ia menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan Ciptono. Misalnya, ketika diminta menirukan iklan, menyanyikan lagu daerah dan lagu dangdut, sambil memegang microphone, Kharisma langsung menyanyi.
Usai Kharisma bernyanyi dan menjawab pertanyaan Ciptono, anak-anak SLB Negeri Semarang hingga sore hari juga menampilkan 17 judul pantomim, diantaranya Pergi ke Sekolah, Pergi ke Pasar, Memancing Ikan, dan Beli Bakso. Karena dinilai menjadi acara yang unik dan baru satu-satunya di Indonesia, Pameran Desain Grafis Pertama Anak Lumpuh Layu dan Pagelaran Pantomim Anak Berkebutuhan Khusus oleh Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri) pun dicatat sebagai rekor ke 5762 dan 5763.
''Acara ini unik dan menarik, serta baru pertama kali digelar di Indonesia. Untuk itu, kami dari Muri memberikan penghargaan dan apresiasi yang luar biasa. Semoga menjadi inspirasi masyarakat,'' pesan Manager Muri, Sri Widayati usai memberikan penghargaan.

Senin, 12 November 2012

Penjual Getuk Lindri Keliling

Dorong Gerobak 30 Kilometer Setiap Hari

Kalau sudah tiada baru terasa
Bahwa kehadirannya sungguh berharga
Sungguh berat aku rasa kehilangan dia
Sungguh berat aku rasa hidup tanpa dia
Kalau sudah tiada baru terasa
Bahwa kehadirannya sungguh berharga...


LAGU berjudul Kehilangan yang dinyanyikan oleh Raja Dangdut Rhoma Irama mengalun keras dari speaker berbentuk corong yang diletakkan diatas gerobak dorong berwarna biru putih yang didorong oleh lelaki paruh baya. Sandal jepit menjadi alas kaki lelaki yang terus mendorong gerobaknya menyusuri Jalan Raya Ungaran-Sekaran. Alunan musik dangdut terus mengalun. Warga yang hendak berangkat kerja pun beberapa terlihat ikut menganggukkan kepala sambil bergoyang saat gerobak itu melintas di depan rumahnya.
''Mas getuk, minta getuknya,'' suara perempuan berjilbab dari teras rumah berjalan pelan menghampiri lelaki yang mendorong gerobaknya dengan pelan sambil menghisap sebatang rokok.
Lagu dangdut pun berganti dengan Lari Pagi yang tetap dinyanyikan oleh Rhoma Irama. Lelaki bernama Tukiman itu pun tidak menurunkan volume amplifier yang ada di dalam bok tertutup.
Dengan sigap, tangannya mengambil beberapa potong kue berbahan dasar singkong yang dicampur dengan parutan kelapa dan gula pasir dari gerobak model akuarium. Warna-warni panganan yang dikenal dengan nama Getuk Lindri itu pun terlihat jelas. Ada coklat, merah, hijau dan campuran coklat dan hijau.
''Silahkan Bu,'' jawab lelaki kelahiran Karanggede, Boyolali 13 April 1987 itu sambil memberikan bungkusan getuk kepada perempuan bernama Yati (40) warga Kelurahan Mangunsari, Kecamatan Gunungpati.
''Saya hampir setiap hari membeli getuk lindri. Penjualnya sudah jarang sekali dibandingkan dulu. Apalagi, makanan ini sudah saya kenal sejak masih SD. Selain gurih, kenangan masa kecil selalu terbawa,'' ungkap ibu dua anak itu sambil tersenyum.
Memang tidak mudah untuk menemukan penjual getuk lindri yang khas dengan alunan musik dangdut di Kota Semarang. Karena, selain jumlahnya tak lagi banyak, pedagangnya pun tidak selalu menjajakan dagangannya setiap hari di jalur yang sama. ''Saya kadang menunggu sampai seminggu untuk bisa membeli lagi, karena memang tidak setiap hari para penjualnya keliling lewat sini,'' imbuh Yati.
Usai melayani pembeli, Tukiman pun menceritakan kisahnya berjualan getuk lindri selama tiga tahun terakhir. Berjalan sambil mendorong gerobak sejauh 30 kilometer lebih ia lakukan setiap hari dari kontrakannya di Dukuh Karanggeneng, Kelurahan Sumurejo, Kecamatan Gunungpati.
''Biasanya, saya berangkat dari kontrakan pukul 06.30. Rutenya tidak mesti melalui Sekaran. Kadang langsung menyusuri Jalan Raya Karanggeneng-Gunungpati, kadang ke Jalan Pramuka kemudian Pudak Payung dan Banyumanik,'' tutur penggemar Slank itu.
Proses pembuatan getuk tidak ia lakukan sendiri, tetapi bersama delapan saudaranya yang tinggal di kontrakan itu. Dipimpin oleh pamannya, Slamet (50) ia dan yang lainnya sebelum tidur harus mengupas singkong terlebih dahulu. Pada pukul 01.00 merebus ketela, dan tidur lagi. Pukul 03.00 kembali melepas selimut dan beranjak dari tempat tidurnya untuk membersihkan serat yang masih melekat di tengah buah singkong.
''Biasanya sampai Subuh. Setelah shalat Subuh, singkong dihaluskan dan diolah menjadi getuk. Untuk pewarnaan, kita memakai pewarna makanan yang aman. Tidak ada bahan pengawet juga, bisa dilihat dan dirasakan, ketika sore, sudah tidak layak dimakan,'' jelasnya.
Proses pembuatan pun biasanya selesai pukul 06.00. Tukiman dan teman-temannya pun mandi dan pukul 06.30 berangkat berkeliling dari kampung ke kampung untuk menjajakan getuk lindri. Setiap gerobak diisi 750 potong, dengan harga Rp 1000 per tiga potongnya.
''Kalau dari Karanggeneng sampai Sekarang itu 15 kilometer, berari pulang pergi 30 kilometer. Biasanya getuk habis setelah Zuhur, saat pulang pun biasanya saya lebih santai, karena memang kaki sudah pegal,'' ungkapnya, kemarin.
Slamet juga menceritakan, ciri khas lagu dangdut untuk menjajakan getuk lindri sudah dilakukan olehnya sejak 30 tahun lalu dengan tape recorder dan amplifier sederhana. Namun, seiring perkembangan jaman, karena tidak mau kerepotan dengan harus membolak-balik kaset, para pedagang kini menggunakan handphone untuk memutar lagu. Ada pula yang mengganti tape recorder-nya dengan VCD player.
''Ketika pulang dari jualan, accu yang digunakan sebagai sumberdaya listrik disetrum dulu tiga jam. HP yang digunakan pun tidak perlu mewah, yang penting MMC-nya besar dan tidak mudah error,'' ujarnya. *

30 Tahun Keliling Kampung Jualan Jamu

Jaga Penampilan dan Tak Gunakan Bahan Pengawet

SINAR matahari sangat terik. Debu beterbangan di Jalan Raya Mijen-Boja. Perempuan tua berkerudung hitam coklat bermotif bunga itu berjalan pelan sambil menggendong keranjang bambu yang penuh dengan botol dan jerigen. Jarik motif Sidomukti dan kebaya merah bergambar bunga yang dikenakan pun warnanya mulai kusam.
Sesekali ia harus berhenti untuk membasuh keringat yang membasahi keningnya dengan selendang yang ia gunakan untuk menggendong. Lalu, ia berjalan lagi.
Debu jalanan bercampur asap kendaraan dan teriknya matahari siang itu tak menyurutkan langkah kakinya untuk memilih berteduh. Kakinya terus melangkah menjajakan jamu racikan di kampungnya.
Itulah aktifitas Painah (72), warga Dusun Sumbersari RT 2 RW 10 Kelurahan Wonolopo, Kecamatan Mijen, Kota Semarang lebih dari 30 tahun. Pelanggannya hingga kini mencapai 100 orang lebih.
''Mbah Nah, minta jamu,'' teriak perempuan di depan rumah yang siang itu tengah menjemur pakaian.
Painah yang sering disapa Mbah Nah oleh pelanggannya itu pun tak membalas dengan kata-kata, tetapi dengan senyuman yang khas sambil melangkah pelan memasuki halaman rumah pelanggannya. Pelan-pelan, gendongannya pun diletakkan di teras rumah dengan lantai keramik warna hijau itu.
''Mau dicampur daun pepaya atau brotowali,'' tanya Mbah Nah. Perempuan bernama Sumiyati (40) itupun meminta agar dibuatkan jamu pahitan yang dicampur dengan daun pepaya.
Tak perlu menunggu lama, segelas jamu racikan Mbah Nah sudah berpindah tangan dan langsung diteguk oleh Sumiyati. Dengan sigap, Mbah Nah kembali menuangkan beras kencur ke dalam gelas yang masih dipegang Sumiyati.
''Alhamdulillah, terasa pahit tapi seger Mbah. Saya minta beras kencur dan kunir asem dibungkus saja buat anak saya yang sebentar lagi pulang sekolah,'' pinta Sumiyati.
Setelah membungkus jamu yang dipesan, beberapa lembar uang seribuan pun diterima Mbah Nah. Sebelum berpamitan, Mbah Nah berpesan kepada ibu dua anak itu untuk menjaga kesehatan dan rutin minum jamu. Ia pun kembali menyusuri kampung demi kampung yang ada di wilayah Kecamatan Mijen.
Berat gendongan jamu racikan sekitar 15 kilogram itu setiap hari ia bawa keliling kampung mulai pukul 06.30. Karena sudah memiliki pelanggan tetap, bakda Zuhur Mbah Nah yang memiliki enam putra, 25 cucu, dan enam cicit sudah bisa kembali ke rumahnya untuk istirahat.
Tak hanya Mbah Nah. Sebagian besar warga Kampung Sumbersari yang ada di Kelurahan Wonolopo itu dikenal sebagai penjual jamu keliling. Tak heran, jika masyarakat di sekitar kampung itu menyebutnya dengan Kampung Jamu, ketimbang Sumbersari.
Di sela-sela melayani pelanggannya di Perumahan Berlian Asri, Mbah Nah pun menuturkan kisah tentang Kampung Jamu.
''Sekitar 1980 seorang pedagang jamu gendong asal Solo menjajakan dagangannya di Sumbersari. Karena kemalaman dan tidak memungkinkan untuk pulang, ia menginap di rumah salah satu warga. Warga yang rumahnya dijadikan tempat menginap itu pun tertarik ikut berjualan jamu,'' tuturnya dengan Bahasa Jawa Kromo Inggil halus.
Karena saat itu mayoritas warga tidak memiliki pekerjaan tetap, kata Mbah Nah, mereka pun memutuskan untuk ikut bergabung, termasuk dirinya yang saat itu hanya bermodalkan Rp 20 ribu untuk membeli bahan jamu.
''Sekarang ada sekitar 45 warga yang jualan jamu keliling dan sudah dibentuk paguyuban. Berdirinya paguyuban itu untuk membagi daerah pemasaran agar tidak rebutan pelanggan, kewajiban untuk menjaga keaslian jamu dan tidak menyampurnya dengan bahan pengawet, menjaga penampilan dan kebersihan ketika jualan,'' paparnya, kemarin.
Ketua Paguyuban Pedagang Jamu Sumber Husodo Dusun Sumbersari, H Kholidi menjelaskan, pekerjaan sebagai pedagang jamu gendong adalah pilihan terakhir ketika warga di dusun tersebut kesulitan mencari lapangan pekerjaan.
Dengan penghasilan rata-rata per hari Rp 100 ribu, para pedagang yang tergabung dalam paguyuban itu diminta untuk selalu menjaga kualitasnya. Penggunaan bahan kimia menjadi larangan keras bagi seluruh anggota.
''Dalam pemasaran, kami sarankan untuk selalu ramah kepada pembeli, menjaga kebersihan dan menjaga penampilan,'' tandasnya. *

Roti Ganjel Rel


Paling Nikmat Dimakan dengan Es Kombor  


 MUNGKIN, dari namanya, banyak orang yang mengira makanan ini terbuat dari bantalan rel kereta api. Dinamakan Ganjel Rel karena roti ini bentuknya menyerupai ganjel rel yang berwarna kecoklatan. Bedanya, roti berwarna coklat ini diatasnya ditaburi biji wijen dan enak dimakan. Kalau bantalan rel, ditaburi kerikil dan tentunya, tidak bisa dimakan.
Ya, perjalanan waktu yang teramat panjang tak selamanya mengikis masa lalu. Kalau saja sepotong roti bantat, macam ganjel rel bisa bercerita, sangat panjang durasinya. Kebertahanannya beberapa zaman tak mengurangi kepopuleran olahan yang terbuat dari gaplek itu.
masih diingat betul oleh Hasanah Rif'an (69), ibu tujuh anak dan 10 cucu warga Kampung Pompa RT 1 RW 2 Kelurahan Kauman, Kecamatan Semarang Tengah saat masih duduk di bangku sekolah dasar. Selain sebagai makanan khas Kota Semarang, kudapan yang dibuat dengan bahan dasar gaplek, gula jawa dan rempah-rempah itu menjadi jajanan favorit ia dan teman-temannya yang lain.
''Kalau dulu, bentuknya memang lebih keras dan bantat. Rasanya juga tidak seperti sekarang, dimodifikasi dengan menambah telur dan mengganti gaplek dengan tepung terigu atau tepung tapioka,'' tuturnya.
Kenikmatan menikmati ganjel rel juga diungkapkan oleh Sarimah Shodiq (64) warga Kampung Pungkuran. Saat ia masih remaja, makan ganjel rel dicampur dengan es kombor menjadi kebiasaannya setiap hari saat jam istirahat ataupun pulang sekolah.
''Roti ganjel rel dicelupkan ke dalam semangkuk es kombor, rasanya sangat nikmat. Kalau sekarang, dicelupkan kedalam susu coklat atau putih. Karena, es kombor sudah tidak ada lagi yang jualan,'' ungkap ibu dua anak itu.
Ditemui terpisah, pembuat roti ganjel rel, Marzuki (51) warga Jalan Bangunharjo 387 B, Kelurahan Kauman menuturkan, variasi atau modifikasi cara membuat roti khas Semarang itu dilakukan untuk menarik masyarakat agar tetap menyukai ganjel rel.
''Dulu memang rasanya bantat, jarang orang yang memakannya kalau tidak mencampurnya dengan susu, es kombor atau yang lain. Kalau sekarang, bahan gabpel diganti tepung terigu atau tepung tapioka. Penambahan rempah-rempah seperti cengkeh, kayu manis dan kembang lawang tetap dipertahankan, agar rasa ganjel rel tetap asli,'' ujar bapak empat anak yang sehari-hari berjualan bahan roti di Pasar Johar dan mendapat ilmu membuat ganjel rel dari mertua dan istrinya, Aunil Fadhilah (43).
Mas Juki, sapaan akrab Marzuki, juga membeberkan cara membuat ganjel rel. Untuk membuat satu loyang berukuran 24 sentimeter x 24 sentimeter, dibutuhkan 13 butir telur yang dicampur dengan air gula jawa dan rempah-rempah yang telah dihaluskan terlebih dahulu. Setelah dikocok hingga menjadi satu, ditambahkan tepung tapioka dan tepung terigu. Setelah adonan menjadi kenyal, dituangkan ke dalam loyang. Kemudian dtaburi biji wijen dan di oles minyak goreng.
''Butuh waktu 35 menit untuk memasak ganjel rel di dalam oven. Setelah matang dan diangkat. Ganjel rel dipotong sesuai selera masing-masing,'' ungkap Mas Juki yang berharap, ganjel rel tetap menjadi makanan khas Kota Semarang.
Karena keahliannya membuat roti, Mas Juki pun dipercaya oleh Takmir Masjid Agung Semarang atau lebih dikenal dengan Masjid Kauman untuk membuat ribuan potong ganjel rel untuk dibagikan kepada masyarakat. *

Kampung Kalengan

Menjadi Pusat Produksi Kerajinan dari Kaleng

JANGAN kaget, ketika anda melintas di kampung yang ada di tepi sungai Banjir Kanal Timur ini tiba-tiba mendengar suara drum jatuh atau suara palu beradu dengan lempengan besi dengan irama yang tak beraturan dan memekakkan telinga.
Itulah ciri khas dari kampung yang dahulu menjadi sentra penjualan dan kerajinan mainan anak-anak saat dugderan pada 1960-an. Sejak beberapa tahun, perayaan menyambut ramadan dipusatkan di Pasar Johar, Jalan Agus Salim, Kauman dan sebagian Jalan Imam Bonjol.
Ya, Kampung Bugangan, kini lebih dikenal dengan nama Kampung Kalengan. Mengapa? Kampung yang ada di sepanjang Jalan Barito Raya, Kelurahan Bugangan, Kecamatan Semarang Timur itu kini menjadi usaha pembuatan beragam alat masak, seperti dandang, oven, cerobong berbahan dasar plat aluminium, stainless steel dan galfalo.
Ahmad Afandi (29), pemilik kios Rante Mas, generasi ketiga dari almarhum Kasmani menuturkan, usaha yang kini dikembangkan oleh dirinya dan enam saudaranya itu kini menjadi besar dan dikenal tak hanya warga Kota Semarang.
''Dandang dan produk lainnya seperti panci, oven, cetakan roti, kotak surat hingga ventilator udara, sudah kami jual hingga Kabupaten Kendal, Kabupaten Semarang, Salatiga, Demak, dan Purwodadi,'' tuturnya.
Dikisahkan, sebelum menjadi sentra produksi peralatan memasak, kakeknya almarhum Kasmani ketika itu hanya membuat mainan alat masak untuk anak-anak setiap Dugderan. Tawaran untuk membuat alat masak yang sesungguhnya, datang beberapa waktu setelah rutinitas berjualan di arena Dugderan selesai. Karena kekurangan tenaga setelah menerima banyak pesanan, akhirnya Kasmani mengajak saudaranya untuk membantu, termasuk ayahnya, Kasmiran (58).
Saat ini, dibantu empat saudaranya, Afandi mampu memproduksi sekitar 9 dandang besar, atau 12 buah untuk ukuran yang lebih kecil. Proses pembuatan dimulai dari sebuah lembaran aluminium. Semua dilakukan dengan proses manual, hanya dengan menggunakan tangan. Alat bantu yang digunakan juga sederhana, seperti gunting besi dan alat pembengkok besi. Untuk menciptakan sebuah bentuk dari lempeng alumunium, para pegawai memukul-mukul lempengan dengan alat tukang sederhana.
''Untuk menyatukan lempengan menjadi bentuk utuh dilakukan dengan dipukul-pukul sampai pipih, tanpa las atau lem khusus,'' katanya.
Untuk dandang dengan ukuran tinggi 60 sentimeter, Afandi mematok harga Rp 200 ribu, sedangkan ukuran besar dipatok harga Rp 750 ribu. Untuk oven ukuran kecil dipatok Rp 750 ribu, ukuran sedang Rp 1.350.000, dan ukuran besar Rp 4 juta.
Afandi juga menerima reparasi peralatan aluminium yang rusak. Untuk ongkos servis, tergantung ketebalan. Kalau lempengannya tipis, mulai Rp 20 ribu hingga Rp 30 ribu. Kalau tebal, Rp 50 ribu hingga Rp 75 ribu. Omzet per harinya, kata dia, berkisar antara Rp 200 ribu dan Rp 600 ribu.
Selain berhasil menghidupi saudaranya, usaha itu juga membuat Sutoho (45), saudara Afandi, bisa menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi, sejak dirinya menjadi karyawan di tempat itu 20 tahun lalu.
Menurut Afandi, selama enam tahun meneruskan usaha kakeknya agar berjalan lancar, dirinya menerapkan prinsip kedisiplinan, kejujuran, dan tanggung jawab baik kepada dirinya, maupun kepada karyawannya.
''Banyak saudara yang kemudian juga membuka usaha pembuatan dandang dan alat masak lainnya. Beberapa pendatang juga membuaka usaha pembuatan tong sampah dan aneka produk berbahan kaleng. Sehingga, kampung ini lebih dikenal dengan Kampung Kalengan ketimbang Bugangan,'' ungkap Afandi. *

Sejarah Warak Ngendog

 Bawa Pesan untuk Mengendalikan Diri dari Hawa Nafsu

TIDAK banyak masyarakat di Kota Semarang yang mengenal asal usul Warak Ngendog, sebuah bentuk binatang dengan kepala menyerupai naga, dengan tubuh seperti buraq, dan empat kaki yang menyerupai kambing dan leher panjang seperti jerapah.
Warak Ngendog bagi Kota Semarang sudah menjadi ikon identitas kota dan yang juga sudah dikenal oleh warga di luar Kota Semarang, termasuk luar negeri. Selain Tugu Muda yang menjadi ikon khas sejarah Kota Semarang, ada juga Warak Ngendog yang sejak jaman kolonial menjadi ikon khas kebudayaan Kota Semarang yang selalu hadir pada acara budaya seperti dugderan menjelang bulan suci ramadhan.
Perayaan dugderan itu selalu dilengkapi dengan kegiatan pasar malam yang berlokasi di Pasar Johar dan berakhir dengan karnaval dugderan yang biasanya dihiasai dengan berbagai atribut budaya yang salah satunya sangat fenomenal dengan sebutan Warag Ngedog.
''Warak Ngendok itu dimaknai dalam bahasa Arab, waro'a artinya sebuah usaha kuat untuk melawan atau menjauhi hawa nafsu. Maka digambarkan sebuah binatang dengan kaki, tubuh dan ekor yang tegang karena berusaha melawan nafsunya. Sedangkan ngendok, artinya, jika manusia sudah bisa menahan hawa nafsu atau mengendalikan diri, maka akan menghasilkan atau mendapatkan ridha dari Allah Swt. Lebih singkatnya, Warak Ngendog diartikan sebagai simbol bagi orang yang menjaga kesuciannya di bulan puasa, maka akan mendapatkan balasan pahala pada lebaran nanti,'' tutur pengurus takmir Masjid Agung Semarang Muhaimin Taslim, kemarin.
Berbeda dengan penuturan Kasirah (85) pedagang mainan Warak Ngendog yang telah 40 tahun berjualan setiap dugderan. Menurut perempuan sembilan anak dan 16 cucu itu, binatang Warak ditemukan oleh warga yang sedang babat alas di hutan yang kini menjadi Kampung Purwodinatan.
''Dari cerita itulah, warga di kampung saya kemudian membuat kerajinan Warak Ngendog dan dijual pada saat dugderan ataupun ketika ada pameran dan kirab budaya Kota Semarang,'' ujarnya saat ditemui di depan Masjid Agung Semarang.
Untuk membuat Warak, ia dibantu anaknya, Nanik (60) dengan bahan baku potongan papan yang terdiri beberapa ukuran, kertas minyak warna-warni, stereofoam, lempengan besi tipis, dan kertas bekas bungkus makanan. Dalam sehari, biasanya hanya dua sampai tiga buah Warak yang dibuat. Warak yang dibuatnya berukuran besar dan kecil. Ukuran besar setinggi satu meter, sedangkan yang kecil 75 sentimeter. Warak hasil besutannya juga disertai warak anakan.
''Kalau dulu, dibawah Warak ada telurnya, tetapi sekarang tidak ada, karena harga telur semakin mahal menjelang puasa dan lebaran. Untuk Warak ukuran anakan, ia jual Rp 15 ribu. Warak kecil, Rp 25 ribu dan yang besar Rp 35 ribu. Kerajinan seperti ini minat pembelinya sangat kecil, tahun lalu saja hanya terjual kurang dari 100 buah,'' paparnya. *

Hardi Wiyono, 30 Tahun Membuat dan Jualan Gangsingan

Tak Pernah Terpengaruh Permainan Moderen

NGUUUUUUUNGGGGGG.... Suara gangsing atau gangsingan berputar di atas meja sederhana di tengah deretan permainan tradisional lainnya. Alat permainan tradisional berbahan dasar potongan bambu yang ujung bambu ditutup dengan bulatan kayu itu terus berputar. 
Ditengah bulatan kayu terdapat sumbu berbentuk stik yang menembus di tengah dan lebih panjang dari potongan bambu utama yang ditengahnya dilubangi seperti kentongan. Besar kecilnya lubang, berpengaruh terhadap bunyi yang dihasilkan.
Untuk memainkan, pertama-tama masukkan ujung tali dalam lobang korekan, kemudian lilitkan tali tersebut ke sumbu gangsingan sebelah atas yang lebih panjang. Pegang korekan dengan tangan kiri, tarik tali kuat-kuat dengan tangan kanan, dan gangsingan akan lepas, berputar dengan cepat dan menghasilkan bunyi nguuuung.....
Dan, itulah cara Hardi Wiyono (55) bapak lima anak warga Desa Kepek RT 1 RW 5 Kecamatan Semin, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta menawarkan dagangannya di arena dugderan samping Hotel Metro Jalan Agus Salim.
Selain berjualan, Hardi juga menjadi salah satu dari seribuan perajin gangsingan, akar wangi dan seruling bambu yang ada di Desa Kepek yang telah 30 tahunan lebih mengalami suka dan duka menjadi perajin sekaligus penjual.
''Meski banyak permainan moderen merebak di tengah masyarakat, minat terhadap permainan tradisional gangsingan tetap tinggi. Setiap hari saya membuat 50 gangsingan. Khusus dugderan ini, saya membawa 1000 gangsingan. Tahun lalu, habis terjual hingga 7000 buah,'' tuturnya.
Gangsingan berukuran kecil ia jual Rp 5.000, ukuran besar Rp 6.000 per buahnya. Tak hanya saat dugderan saja, ketika tidak ada event pameran, ia menjajakan hasil kerajinannya itu berkeliling jalan kaki di Pulau Dewata.
Profesi itu juga diteruskan oleh dua anaknya, Widada (26) dan Partiman (30) yang juga ikut menggelar dagangannya di arena dugderan. Lapak untuk berjualan pun tidak berdampingan.
Saat ditemui, Widada, bapak satu anak itu mengaku sudah empat tahun membuat gangsingan dan aktif mengikuti pameran yang bekerjasama dengan Dinas Pariwisata Kabupaten Gunungkidul. Pada hari pertama dugderan, alumni SMAN 2 Wonosari 2004 itu mengaku tidak seramai tahun lalu.
''Pada dugderan 2011, hari pertama uang Rp 1 juta lebih masuk kantong. Tadi malam hanya mendapat Rp 500 ribu. Tahun lalu pula, 8000-an gengsingan yang laku,'' ungkapnya.
Widada berharap, pada dugderan kali ini, ia mampu mendapat keuntungan lebih besar daripada tahun lalu. Meski dugderan kali ini sedang musim anak-anak masuk sekolah yang membutuhkan dana yang tidak sedikit.
Memilih membeli gangsingan dibanding permainan lainnya yang dijual oleh para pedagang dugderan menjadi pilihan Junarto (35) dan Jumadi (32) warga Sekopek, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal, kemarin.
''Setiap dugderan, saya selalu membeli gangsingan. Mengingatkan masa kanak-kanak dulu. Biasanya untuk memainkan gangsingan saya tidak sendirian, tetapi bersama teman-teman yang lain untuk diadu. Yang kalah, gangsingannya jatuh,'' ungkap karyawan sebuah perusahaan mebel itu.
Hal senada juga disampaikan Nurhayati (56) warga Kelurahan Wonodri, Kecamatan Semarang Selatan. Siang itu ia memborong 15 gangsingan untuk cucunya. ''Tidak sah kalau ke dugderan tidak membeli gangsingan,'' ujarnya. *

Kampung Gendero Limo Sampangan

Dari Kolongan Bendera menjadi Nama Taman, Kampung dan Warung Makan

AZAN subuh baru saja berkumandang. Pedagang bubur ayam, penjual koran, sate ayam dan sayur keliling menggelar dagangannya di depan taman berbentuk segitiga dengan pohon beringin yang berumur belasan tahun. Aktifitas jual beli pun berlangsung cukup ramai.
Di sudut yang lain, pemilik warung makan berdinding papan dengan cat putih biru membuka kiosnya. Dua jam kemudian, pedagang bubur ayam, sate ayam dan sayur membereskan dagangannya.
Bersamaan dengan itu, pedagang ketoprak, empat tukang permak celana jins dengan mesin jahit yang diletakkan dengan kotak sederhana dan berada di atas sepeda motor dan pedagang gilo-gilo berganti menempati lahan yang ada di pinggir Jalan Menoreh Raya. Karyawan bengkel cat mobil pun memulai aktifitasnya mendempul dan mengecat bemper.
Itulah pemandangan yang terjadi di Taman Gendero Limo yang ada di wilayah Jalan Menoreh Utara XII RT 5 RW 1 Kelurahan Sampangan, Kecamatan Gajahmungkur setiap hari. Menjelang petang, pedagang yang berjualan pun berganti lagi, jagung bakar, ayam goreng, dan aneka penyetan hingga pukul 00.00. Taman yang dipenuhi papan nama dan pamflet itu kembali sepi setelah pukul 00.00.
Taman yang sebelumnya merupakan tanah kosong milik Jumirah warga RT 5 RW 1 itu diwakafkan kepada Pemerintah Kelurahan Sampangan pada 1992 pada masa kepemimpinan almarhum Heru Subroto yang saat itu menjabat sebagai lurah.
''Pemberian nama Gendero Limo, karena sebelum dibuat taman, yang pertama kali dibuat adalah lima kolongan beton berbentuk limas yang digunakan untuk memasang tiang bendera. Oleh almarhum Heru Subroto, akhirnya taman ini dinamakan Taman Gendero Limo. Pemukiman di daerah ini akhirnya juga dikenal dengan Kampung Gendero Limo,'' tutur Poni (61) warga Kampung Gendero Limo RT 3 RW 1.
Kolongan beton dengan warna merah yang mulai pudar, menurut ibu empat anak dan tujuh cucu itu biasa dipasang tiang sekaligus bendera merah putih ketika menjelang peringatan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus, Kebangkitan Nasional, Kesaktian Pancasila, Sumpah Pemuda, dan kegiatan lainnya.
''Karena tidak ada nama yang tertempel jelas di taman itu, turis asal Belanda bernama Fredy pada akhir 1992, menginginkan nama taman itu menjadi nama warung makan milik saya yang berdiri sejak 1966. Namanya, warung makan Bendera Lima,'' ujar istri dari Slamet (65) didampingi anaknya.
Ditambahkan Poni, selain menjadi nama warung makan, kampung dan taman, sebutan Gendero Limo juga menjadi patokan setiap warga hendak turun dari kendaraan umum untuk pulang atau pun ketika mengunjungi keluarga yang tinggal di Jalan Menoreh Utara IV maupun Menoreh Utara XII.

Sejarah Kampung Kintelan

Dari Kinderland, Kruntelan hingga Kintelan

RIMBUNNYA pohon Jambu Mete yang tumbuh di salah satu bukit yang kini ada di belakang kantor KPU Jawa Tengah masih diingat betul oleh bapak lima anak yang tinggal di kawasan itu sejak pertengahan 1963.
Saat ditemui, Sanyoto, lelaki kelahiran 73 tahun lalu yang akrab disapa Mbah Nyoto menuturkan, setelah diterima menjadi karyawan RSUP Dokter Kariadi, ia pun tinggal di kampung yang hanya berdiri 16 rumah saja. Selain rumah, juga telah berdiri tempat ibadah Pura Agung Giri Natha yang dibangun oleh tentara Belanda yang menjajah Indonesia saat itu.
''Tentara Belanda pernah melakukan penyerangan dengan meriam dari samping pura kepada kapal-kapal yang hendak merapat ke pelabuhan. Saat pertama kali bermukim disini, tempat dan meriam masih ada. Tapi sekarang entah kemana, saya sendiri tidak tahu, karena sudah menjadi bangunan perumahan mewah,'' tuturnya.
Seiring waktu berjalan, kawasan yang sebelumnya hutan itu pun mulai ramai digunakan untuk pemukiman warga. Rumah-rumah yang berdiri pun tidak beraturan. Kawasan yang dahulu hutan itu pun kini penuh sesak dengan rumah.
''Kalau soal nama Kampung Kintelan, ada beragam versi. Salahsatunya, karena penuh sesak oleh rumah atau kruntelan bahasa Jawanya, maka disebut menjadi Kintelan. Ada juga yang menyebut Kintelan berasal dari kintel atau katak, karena sebelum menjadi pemukiman padat, banyak dihuni katak. Tapi ada juga yang mengisahkan kawasan ini sebagai taman yang dibangun Belanda atau Kinderland,'' paparnya.
Dijelaskan pula, sebelum pemekaran wilayah, Kampung Kintelan hanya terdiri dari dua rukun tetangga (RT), RT 7 dan RT 8. Kini, kampung yang masuk wilayah RW 3 Kelurahan Bendungan, Kecamatan Gajahmungkur itu terbagi menjadi tujuh RT dengan 260-an kepala keluarga (KK). Makam yang ada di Bukit Kintelan pun kini tinggal lima buah.  
''Kantor KPU, gedung Korpri dan sebagian SD itu dulu juga makam. Jalan kampung yang dahulu kurang dari dua meter pun kini sudah lebar dan mobil bisa masuk,'' tutur Sanyoto yang pernah menjabat Ketua RT selama 17 tahun itu.
Salah satu tokoh masyarakat Kelurahan Bendungan, Imam Sucahyo (53) menambahkan, banyaknya peninggalan-peninggalan dan cerita sejarah yang ada di Kelurahan Bendungan menjadi kekayaan budaya yang harus dipertahankan. Salah satunya rumah peninggalan Belanda yang ada di Kampung Kintelan, ledeng umum yang masih berfungsi baik, jamban besar, serta rumah-rumah dengan dinding kayu jati yang kini nyaris tergantikan dengan bangunan rumah minimalis.
''Saya sendiri masih berupaya menelusuri sejarah demi sejarah, kenapa diberi nama Kelurahan Bendungan, kemudian ada Kampung Ngaglik Lama, Ngaglik Baru, Kintelan dan Gajahmungkur,'' ungkap bapak tiga anak yang juga sekretaris RT 2 RW 1 Kampung Ngaglik Lama.*

Kehidupan Kaum Syiah di Semarang

Pendam Perbedaan, Menjunjung Tinggi Kerukunan dan Saling Menghormati

SUARA azan Dhuhur berkumandang dari pengeras suara berwarna putih yang diletakkan di atas tembok pintu masuk Mushala Al Khusainiyyah Nuruts Tsaqolain yang ada di Jalan Boom Lama Nomor 2, Kelurahan Kuningan, Kecamatan Semarang Utara.
Lantunan azan juga melantun dari pengeras suara masjid-masjid yang ada di kampung itu. Suasana siang begitu terik. Beberapa warga nampak keluar dari rumah sambil membawa peralatan shalat. Seorang lelaki bersarung kotak-kotak hijau dengan baju kotak-kotak coklat hitam tanpa peci pun keluar dari mushala untuk mengambil air wudhu.
Sapaan salam pun dijawab, bapak lima anak itu pun berkenan untuk diajak berbincang. Mulyono (58), lelaki yang tinggal di Kampung Lawangireng RT 9 RW 1 Kelurahan Kuningan, Semarang Utara itu pun menceritakan sejarah singkat penganut Syiah di Kota Semarang.
''Kalau yang pertama kali mengaku sebagai penganut Syiah di Jawa Tengah adalah pimpinan Pondok Pesantren Al Qairat Bangsri Jepara, Habib Abdul Kadir Bafaqih. Kalau saya sendiri dulu memang Sunni, tapi setelah bertemu dengan tokoh Syiah dan mengkaji kitab-kitab ulama Syiah, baru saya ikut. Ada pemahaman yang kemudian sesuai dengan pikiran dan hati nurani saya,'' tutur Mulyono.
Mulyono mengaku dalam kehidupan sosial tidak ada masalah dengan warga, baik penganut Sunni, NU, Muhammadiyah atau yang lainnya. Demokrasi yang tumbuh di kampungnya membuat ia dan penganut Syiah lainnya merasa nyaman. Kegiatan pengajian rutin tiap malam Jumat dan malam Selasa seperti pembacaan doa Nabi Khidir yang diajarkan Imam Ali kepada muridnya bernama Kumail, maupun mengkaji kitab-kitab ulama Syiah pun selama ini berjalan lancar.
''Kalau Minggu sore, jamaahnya ibu-ibu. Shalat berjamaah lima waktu juga berjalan seperti mushala dan masjid lainnya, hanya kalau Maghrib dan Subuh saja yang mencapai dua shaf,'' jelasnya.
Mulyono juga menceritakan, Yayasan Nuruts Tsaqolain terbentuk bersama dengan berdirinya Mushala Al Khusainiyyah Nuruts Tsaqolain pada 1984 untuk mewadahi para penganut Syiah di Kota Semarang, khususnya di Kecamatan Semarang Utara. Hingga kini, jamaah Syiah di Kota Semarang pun semakin banyak seperti di Panggung Lor, Ngemplak Simongan, Bulu dan Pedurungan. Mereka juga bernaung dalam sebuah jamaah. ''Kalau di Panggung Lor, ada Al Hajat, di Ngemplak ada Al Murtadho,'' ungkap Mulyono.
Lalu, bagaimana dengan kehidupan sosial sehari-hari? Idrus Al Jufri (51), sesepuh Kampung Lawangireng mengaku jika kehidupan warga selama ini tidak ada masalah. Menurut lelaki keturunan Arab itu, umat Islam hanya menganut pedoman yang berasal dari Alquran dan Hadits.
''Soal ajaran, dalam Alquran sudah jelas disebutkan, lakum diinukum waliyadin, untukmu agamamu, untukku agamaku. Di kampung ini kita sama-sama menjunjung tinggi kerukunan, saling menghormati dan memendam dalam-dalam perbedaan,'' jelasnya.
Hal senada juga diakui oleh Endang Wahyuni (43). Ibu dua putra yang tinggal disamping mushala itu pun mengakui jika kerukunan antar warga tidak pernah mengenal latar belakang ekonomi maupun agama. Kehidupan yang rukun dan saling menghormati, dijunjung dan dilaksanakan semua warga. *

Air Sendang Stoom Wonotingal

Tak Lagi Mengalir Sampai Jauh

GEMERICIK air bening keluar dari pipa-pipa berukuran dua hingga tiga inci. Semilir angin pun menggesekkan daun-daun Sukun yang mengering hingga mengeluarkan bunyi yang unik. Dua perempuan renta berjalan perlahan sambil mengempit sebuah bakul yang berisi pakaian. Setelah langkah kakinya memasuki sebuah sendang yang kurang terawat, ia pun langsung merendam pakaiannya di bawah pancuran.
Suara gemericik air pun makin kencang. Perempuan tua yang lain hanya membawa ember kecil yang berisi sabun, sikat gigi dan handuk yang melingkar di kepalanya. Tanpa memandang kesibukan sekitar, di tengah sendang kecil tanpa atap penutup itu ia melepas pakaiannya dan ditutup langsung dengan jarik. Byuuuurrrrr..... air pancuran yang mengalir melalui pipa pun membasahi rambutnya yang sudah memutih.
Di pintu keluar sendang. Sebuah mobil yang mengangkut belasan jerigen berjalan mundur. Seorang lelaki keluar dan memberi beberapa lembar uang kepada seorang pemuda yang terlihat sebelumnya duduk sambil bermain handphone. Tanpa percakapan, sang pemuda itu pun membuka tutup jerigen dan menarik selang. Kemudian mengisi satu per satu jerigen itu dengan air yang mengalir dari sendang. Itulah kesibukan di Sendang Stoom yang ada di silayah RW 03 Kampung Tegalsari Stoom, Kelurahan Wonotingal yang berbatasan dengan RW 11 Kampung Candi Stoom, Kelurahan Candi, Kecamatan Candisari.
Di kanan sendang, seorang lelaki berkacamata tengah melayani seorang pembeli di warung miliknya yang sederhana. Sang pembeli itu pun berpamitan. Saat Suara Merdeka menghampiri sang pemilik warung, langsung disambut dengan ramah. Lelaki bernama Gideon Kuniman (65) yang juga Ketua RT 10 RW 3 Kelurahan Wonotingal itu pun mulai berkisah tentang Sendang Stoom yang ada di depan rumah dan warungnya.
Menurutnya, sendang yang telah ada sejak jaman penjajahan Belanda itu sebelumnya merupakan tempat penampungan air. Dan airnya dimanfaatkan untuk sirkulasi air kolam renang Stadion Diponegoro yang ada di Jalan Ki Mangunsarkoro. Setelah kolam renang ditutup dan kini menjadi Taman Kuliner Ventura, gardu air pun kemudian dirobohkan warga. PDAM dan PT Coca Cola pernah melakukan penelitian dan akan menjadikan sendang itu sebagai sumber air utama. Tetapi, karena debit air yang keluar tidak seperti yang diharapkan, rencana itupun gagal.
''Saya yakin, aliran air Sendang Stoom ini berasal dari Gunung Ungaran. Saya pernah membuka beberapa bebatuan yang ada, ternyata bukan sumber air, melainkan sungai yang mengalir di dalam tanah. Ada lobang besar dan air terjun  di dalamnya,'' tutur bapak empat anak dan satu cucu itu, kemarin.
Selain dimanfaatkan oleh warga untuk kebutuhan sehari-hari. Para pedagang air keliling menampung air dengan jerigen dan dibawa dengan mobil pikap dari sendang itu untuk dijual di warung-warung dan pedagang kaki lima yang ada di Kota Semarang.
''Per jerigen, harganya Rp 1000. Hasilnya masuk ke kas RW 3 untuk kepentingan pembangunan dan sosial. Seperti pavingisasi dan perawatan sendang,'' tandas pensiunan PT Indonesian Power yang kini juga sibuk melayani panggilan pranata adicara.
Soal nama Stoom, menurut Ketua RW 3 Iman Adi Koesno (70) diambil dari nama pabrik permen yang pernah berdiri di dekat sendang itu. Sendang yang aliran airnya tidak pernah habis maupun kering pada musim kemarau itu pada jaman dahulu airnya dimanfaatkan oleh pabrik permen Stoom.
''Setelah pabrik tutup, airnya dimanfaatkan untuk sirkulasi kolam renang Stadion Diponegoro. Karena kolam renangnya sudah tutup, aliran air dari sendang pun tak lagi mengalir sampai jauh, hanya untuk kebutuhan masyarakat saja,'' ujar bapak enam anak dan 11 cucu yang juga pensiunan PNS Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, saat ditemui di kediamannya, kemarin. *

Rebana Syahroni Mengalun Hingga Suriname

Kalau Sudah Kering, Berbunyi Ting

TUNG…tung…tung…dung! dung! dung!… dung! dung! dung!…ting...ting...ting!  Suara keras berirama terdengar ketika memasuki sebuah gang di samping Masjid Darussalam yang ada di Kampung Pongangan, Gunungpati. Seorang lelaki berkaca mata tengah mencoba menabuh beberapa bulatan kayu yang disisi atasnya terdapat kulit binatang yang masih menyisakan bulu-bulu tipis.
Satu per satu bulatan-bulatan kayu beragam bentuk dan ukuran yang dijemur di depan masjid itu ia ketuk. Syahroni (58) warga Kelurahan Pongangan RT 2 RW 1 Kecamatan Gunungpati itu pun mengambil beberapa dan membawanya ke dalam rumah yang tidak jauh dari masjid itu.
''Kalau sudah kering, diketuk suaranya ting. Kalau belum kering, masih mbek...mbek... suaranya,'' ujar Syahroni.
Ya, Syahroni, cukup dikenal sebagai perajin aneka macam rebana dan bedug beragam ukuran. Hasil produksinya, tak hanya beredar di pasaran Kota Semarang saja. Kelompok seni dari kota dan kabupaten yang ada di Jawa Tengah seperti Wonogiri, Klaten, Cilacap, Kebumen, Magelang hingga Riau, Papua, Kalimantan, dan Sumatera memercayai produk rebana hasil Syahroni sebagai produk berkualitas.
Saat ditemui, Syahroni pun mulai menuturkan usahanya. Tak hanya rebana saja yang ia buat, tambur, remo, konga, kendang, balasik dan marawis dibuat secara turun temurun, dari kakek dan ayahnya, H Salwadi Putra yang tinggal di Jalan Betengan, Kelurahan Bintoro, Kecamatan Demak Kota, Kabupaten Demak.
Sebelum memutuskan untuk menggeluti usaha itu, Syahroni pernah bekerja di Departemen Agama sebagai tenaga honorer dan hampir menjadi PNS di Pemerintah Kabupaten Demak, karena sudah berstatus calon alias capeg.
Pada 1973-1974, suami Muhimmatun (41) itu mengaku hanya menerima honor Rp 7.000 per bulan. Karena merasa dengan honor sebesar itu tidak cukup untuk membeli kebutuhan, bapak dua anak itu pun beralih pekerjaan menjadi sopir.
''Saat sibuk menggeluti profesi sebagai sopir, adik saya mengajak untuk meneruskan usaha yang selama ini dilakukan oleh ayah, yakni membuat rebana dan bedug. Untuk satu set rebana yang terdiri atas empat genjring, tiga ketiplak dan tiga gendang bas saya mematok harga mulai Rp 4,3 juta. Untuk bedug dengan diameter 100 sentimeter lengkap dengan kentongan, dipatok Rp 15 juta,'' tuturnya.
Bedug berdiameter 120 sentimeter harganya Rp 25 juta, dan berdiameter 130 sentimeter harganya mencapai Rp 30 juta termasuk kentongan dan tiang penyangga. Untuk jenis remo satu set, harganya Rp 1,6 juta, konga Rp 2 juta, dan tambur yang biasanya untuk pengiring kesenian barongsai harganya kurang lebih Rp 5 juta..
Untuk membuat seperangkat rebana maupun bedug, Syahroni membutuhkan waktu sekitar 20 hari. Ia harus memilih kayu mahoni dan nangka, serta kulit kambing dan kerbau yang berkualitas untuk menjaga hasil dan produknya digemari konsumen.
Untuk mendapatkan hasil dan kualitas suara serta tahan lama, proses pengeringan, kemudian dibasuh lagi dengan air, kemudian dipress, dilakukan berkali-kali. Kesabaran dan mampu menahan emosi, menjadi syarat wajib bagi laki-laki tiga bersaudara ini dalam menjalankan usahanya. Bahkan semakin lama proses pengerjaan, akan semakin bagus produk yang dihasilkannya itu. *

Metamorfosis Stempel di Semarang

Dari Karet Ban Truk hingga Stempel Tiga Warna

SELAMA ini, makna denotasi dari stempel adalah sebuah alat untuk mengesahkan surat, ijazah, autaran atau apapun yang perlu disahkan. Stempel juga dapat diartikan sebagai lambang atau wakil dari sebuah "keharusan" yang harus ada. Misalnya, ijazah tidak sah jika tidak distempel.
Dari beberapa sumber, asal-usul stempel berawal ketika dinasti Yin dan Shang, untuk mencegah surat atau bingkisan penting dibuka oleh yang tidak berkepentingan, diamankan dengan sebuah tali yang diberi tinta segel atau disebut fengni. Pada masa dinasti itu pula, kegiatan administrasi utamanya dalam surat-menyurat dan menutup pintu gudang, pejabat Dinasti Yin dan Shang menggunakan tinta segel.
Seiring dengan perkembangan jaman, pada masa dinasti Zhou, kegiatan pertukaran barang pun meningkat pesat. Untuk menjamin keamanan transaksi dan penyimpanan barang, mereka menggunakan keaslian stempel sebagai kunci kepercayaan transaksi.
Beberapa waktu lalu, para arkeolog dari Israel Antiquities Authority menemukan stempel keramik berusia 1.500 tahun di Horbat Uza, timur Acre, Israel. Stempel kuno temuan itu biasa digunakan untuk menandai roti yang halal. Para ahli yakin stempel itu milik pembuat roti yang menyediakan roti halal untuk Yahudi dari Acre selama periode Bizantin.
Dengan semakin majunya zaman dan berkembang-pesatnya teknologi maka bentuk stempel pun berubah dari gaya/tampilan konvensional (stempel kayu, congkel karet) ke model tampilan moderen (stempel runaflex/kristal, cetak karet).
Stempel moderen juga tidak lagi diproses secara manual, melainkan dengan menggunakan mesin (sistem komputerisasi). Sehingga lebih rapi, bersih, indah dan tajam dipandang.
Mantan Ketua Paguyuban Stempel dan Pelat Nomor Semarang Nursiyo (46), warga RT 2 RW 4 Kampung Kalicilik, Kelurahan Dadapsari, Kecamatan Semarang Utara menuturkan, sejarah masuknya stempel ke Semarang tidak diketahuinya secara persis.
Akan tetapi, berdasarkan cerita turun temurun yang ia dengar, pada 1970-an warga yang menjadi perajin stempel hanya Yanto atau dikenal dengan sebutan Yanto Medhok, Haji Basri dan Buwang. Awalnya, mereka membuat stempel berbahan dasar karet dari ban truk.
Untuk membentuk tulisan yang diinginkan pemesan, mereka membentuknya dengan pisau dan plat besi yang diruncingkan. Untuk gagang, mereka menggunakan kayu dengan ujung bulat. Karet yang sudah diukir atau dibentuk tulisan pada bagian yang tidak diukir ditempel gabus tipis atau gabus doble tip. Setelah itu, ditempel ke gagang kayu stempel.
Berawal dari pesanan yang banyak dan tak sanggup menyelesaikannya, ketiga orang itu mengajak para tetangga yang tidak melanjutkan pendidikan ke SMP atau SMA untuk membantu.
"Beliau kini sudah meninggal. Stempel buatan Yanto maupun H Basri dikenal banyak orang, bahkan staf kantor dinas dari Kabupaten Demak, Kendal, dan Kabupaten Semarang. Hasilnya rapi, halus, dan murah,'' tutur bapak empat putra dan dua cucu itu saat ditemui di kios Stempel dan Letter Universal yang ada di depan Toko D n D Collection Jl Imam Bonjol.
Untuk menjaga dan meneruskan nama besar Yanto Medhok dan Haji Basri, kata Nursiyo, para perajin yang telah memasuki generasi ketiga dan keempat hingga kini terus berusaha membuat hasil produksi tetap rapi, halus dan berkembang ke model tampilan moderen (stempel runaflex/kristal, cetak karet, stempel warna) dan tidak lagi diproses secara manual, melainkan dengan menggunakan mesin (sistem komputerisasi). Tak hanya warga Kalicilik yang kini membuat stempel dan membuka kios di sepanjang Jalan Imam Bonjol.
''Banyak warga di luar Kampung Kalicilik yang belajar di kampung itu dan kini membuka usahanya di Jalan Pemuda, Pasar Johar dan wilayah lain yang ada di Kota Semarang,'' jelas suami dari Harni Susanti (41) itu.
Dari stempel pula, selain membuka peluang usaha dan membuka lapangan pekerjaan, melalui paguyuban perajin stempel yang dibentuk telah menciptakan kerukunan dan saling kerjasama. Beragam kegiatan sosial terus dilakukan dalam rangka menumbuhkan rasa persaudaraan. Misalnya, ketika salah satu dari anggota mendapatkan musibah sakit, atau menggelar hajatan, para anggota lain saling bahu membahu untuk membantu.
''Selain stempel runaflek, stempel warna, kami juga melayani jasa variasi pelat nomor kendaraan baik motor maupun mobil, emblem, brosur, kartu nama, lencana,'' ujarnya. *

Layani Panggilan Servis Mesin Ketik

Andi Bonceng Mertua Naik Sepeda Angin Keliling Kota Semarang

SUARA napas yang terengah-engah nyaris tak terdengar, karena kalah dengan suara rantai sepeda angin yang dikayuh lelaki paruh baya yang memboncengkan lelaki yang usianya lebih muda itu.
Tas kain yang berisi peralatan servis di dekap erat. Setelah sampai di tempat tujuan, dengan sigap, lelaki bernama Aji Said yang ditemani menantunya, Buono Afandi pun langsung mengecek beberapa bagian mesin ketik buatan Jerman yang penuh kotoran tinta.
Setelah diberi minyak dan tut mesin ketik yang sering melompat itu diperbaiki, sang pemilik pun tersenyum. Beberapa lembar uang pun diberikan. Lelaki itu pun kembali melayani pelanggannya di daerah lain untuk memperbaiki mesin ketik.
Ya, kisah Buono Afandi selama dua tahun bersama mertuanya melayani jasa servis mesin ketik panggilan dituturkan bapak dua anak dan satu cucu itu, kemarin. Setelah mertuanya meninggal pada 1990, ia pun melanjutkan profesi sebagai tukang reparasi mesin ketik hingga sekarang. Ruangan berukuran 2 x 3 meter di Kelurahan Pandansari, Kecamatan Semarang Tengah yang menjadi satu dengan rumah tinggalnya itu menjadi bengkel sekaligus jual beli mesin ketik.
''Mertua saya saat itu tidak hanya mengajak keliling melayani jasa servis, tapi juga meminta kepada saya membongkar dan memasang kembali satu unit mesin ketik,'' tutur lelaki kelahiran Kudus 16 Agustus 1961 yang juga suami dari Restu Padmi (48).
Di tengah perkembangan teknologi, dengan hadirnya komputer, laptop dan tablet, keberadaan mesin ketik kata Buono Afandi, tidak membawa pengaruh yang signifikan dalam usahanya. Warga maupun pegawai perkantoran dan notaris di Kota Semarang hingga kini justru bertambah.
''Pelanggan saya tidak hanya di Semarang, tapi juga dari Kendal, Demak, Kudus, Pati dan Rembang. Mereka tidak saja meminta untuk servis, tapi juga perawatan mesin ketik. Tarifnya mulai Rp 35 ribu hingga Rp 50 ribu diluar spare part yang harus diganti,'' katanya.
Mesin ketik diperkenalkan pertama kali oleh Christopher Latham Sholes pada 1868. Beragam merek juga masih beredar di pasaran, seperti Olympia, Brother dan Ollivetty, baik ukuran kecil maupun besar. Harganya pun justru lebih mahal dari komputer, mulai Rp 3,6 juta hingga Rp 4 juta.
''Setiap usaha dan perjalanan hidup itu harus diiringi dengan doa, kemantapan hati, tidak kemrungsung. Rejeki dari Allah pasti akan terus mengalir,'' tandasnya.*

Minggu, 11 November 2012

Ketika Korban KDRT Dirikan Rumah Makan

Wujud Perempuan yang Berdaya dan Berkualitas

LALU lalang kendaraan melintas dari arah Kendal memasuki Kota Semarang yang siang itu sinar matahari terasa sangat terik. Debu tipis pun beterbangan setelah kendaraan besar melintas kencang. Para pemilik warung, toko maupun bengkel nampak sibuk melayani konsumennya.
Pemandangan yang sama juga terlihat di rumah makan yang ada di samping PT Borobudur Mitsubishi. Sekilas, rumah makan yang berdiri di Jalan Raya Mangkang Nomor 1 itu seperti rumah makan lainnya. Spanduk berbahan MMT tertulis Rumah Makan Sekar Taji. Dibawahnya, tertulis menu yang ditawarkan kepada konsumen seperti, Rica-rica Bebek Khas Ibu Genit Semarang, Soto Semarang dan Aneka Minuman Menyegarkan.
Suasana di dalam rumah makan pun juga terlihat biasa, meja dan beberapa kusi tertata rapi. Di sudut ruangan berukuran cukup besar itu, deretan menu seperti Ayam Goreng, Mie Goreng, Ikan Pindang dan Kering Tempe ditata rapi di atas piring besar dan berada di dalam lemari etalase. Lalu, apa yang istimewa?
Rumah Makan Sekar Taji yang berdiri dan diresmikan pada Selasa (31/10) oleh Koordinator Jaringan Peduli Perempuan dan Anak (JPPA) Jawa Tengah Agnes Widanti itu ternyata didirikan oleh ibu-ibu korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang tergabung dalam Komunitas Support Group Sekar Taji. Sebuah komunitas korban kekerasan terhadap perempuan yang didirikan oleh Pusat Sumber Daya Hukum untuk Keadilan Jender dan HAM (Legal Resources Center for Gender Justice and Human Rights) atau disingkat dengan LRC-KJHAM.
''Kekerasan fisik dulu sering dilakukan suami saya, baik kepada saya maupun anak saya mulai ketika masih memiliki satu anak hingga tiga anak. Paling puncaknya, saya dan ketiga anak saya mau dibunuh. Daripada ikut suami, akhirnya anak-anak saya bawa dan tinggal di rumah yang saya beli dari hasil kerja. Pada 2005 kita memutuskan untuk bercerai, dan pada 2010, mantan suami saya meninggal,'' tutur Elisa (53), pengurus bidang pemberdayaan ekonomi dan sosial Support Group sekaligus pendiri Rumah Makan Sekar Taji, yang mengaku harus menjadi ibu sekaligus kepala rumah tangga setelah bercerai dengan suaminya, kemarin.
Setelah pensiun dari RS Kariadi, ia pun bergabung dengan organisasi Seruni kemudian aktif dalam Support Group hingga sekarang ini. Berdirinya rumah makan itu, kata dia juga berangkat dari ide para anggota Support Group yang berharap muncul sebuah usaha mengangkat ekonomi dan makin menyolidkan organisasi perempuan. Seratusan ide pun bermunculan, hingga diisepakati berdirinya rumah makan.
''Pengalaman-pengalaman yang telah dilakukan para anggota harus dikembangkan, karena tanpa menerapkan pengalaman yang sudah kita jalankan maka kemungkinan kita akan menjadi sangat terbelakang. Melalui rumah makan ini, kita akan mewujudkan perempuan yang bersemangat, berdaya, berani dan berkualitas '' tandasnya.
Mantan korban KDRT lainnya, Muyayat (43) yang juga pengurus bidang pendidikan dan kampanye Support Group menambahkan, faktor ekonomi sering menjadi salah satu masalah terjadinya KDRT.
''Dari masalah itu, kami bisa mengambil kesimpulan bahwa dalam hubungan rumah tangga, saling komunikasi, pengertian, dan terbuka harus dilakukan, apapun itu masalahnya. Kalau terjadi miss komunikasi, yang akan terjadi pastinya tidak baik. Hubungan juga tidak cukup cinta saja, tapi kuncinya komunikasi, pengertian, tanggungjawab dan kasih sayang. Mendahului meminta maaf, sabar dan jangan pernah membawa masalah dari luar rumah dan mencampuradukan,'' tutur ibu tiga anak yang dahulu sering mendapat perlakukan tidak menyenangkan dari suaminya itu.
Dipilihnya nama Sekar Taji, imbuh Elisa, berasal dari Sekar yang berarti bunga atau perempuan dan Taji yang berarti jalu atau keberanian.Ia pun berharap, ke depan, rumah makan itu juga akan menyediakan oleh-oleh khas Semarang seperti lunpia, wingko babat, bandeng presto dan makanan khas yang unik lainnya.*

Minggu, 05 Desember 2010

RINDU GUS DUR

Ketika ingin membuat trobosan-terobosan baru untuk melemaskan kekakuan suatu kebudayaan dan keagamaan yang bersifat sosial-kemasyarakatan maka perlu keberanian berfikir, bersikap dan bertindak melewati sekat-sekat dan belenggu stagnasi kehi...dupan.
Banyak yang membuat terobosan baru atau memperbarui terobosan pemikiran tetapi kurang berani menghadapi resiko penolakan, banyak yang mecoba membuat terobosan pemikiran tetapi muncul kekhawatiran sehingga tidak sempat mengeluarkan momentum pemikirannya. Banyak cendekiawan yang sama sekali tidak membuat terobosan pemikiran tetapi karena pengaruh kekuasaan, mereka mampu muncul kepermukaan sebagai penguat hegemoni kekuasaan. 
Inilah yang membedakan Guru kami Gus Dur dengan intelektualis lainnya, keberanian bergesekan dengan kemapanan adalah ciri khas beliau dimanapun , sebagai apapun, kapanpun dan kepada siapapun tetap konsisten melakukan 'pencerahan' dan pembelajaran serta kemandirian kepada ummat dengan fondasi keikhlasan sebagai basis gerakan beliau...... walaupun njenengan telah tiada tetapi prasasti pencerahanmu telah terpatri dalam sanubari kami. Kini langkah keberanian, pemberdayaan, pencerahan dan kemandirian untuk ummat secara aplikatif saya lakukan demi kemanusiaan dan indahnya peradaban multikultural-madani di tingkat grass root... terima kasih Gus Dur..Engkau telah memberikan energi positif dan pentingnya sebuah perjuangan .....
Dan, saat saya terbaring sakit di RS Telogorejo Semarang, engkau dengan ikhlas menengok bersama Ibu Sinta dan Mbak Yenni. 
Saya kangen panjenengan Gus....

Khusushon ila rukhi KH. Abdurrahman Wahid al-Faatihah...

Jumat, 03 Desember 2010

IBNU...

Ada pemikir kondang, namanya Ghofar ibnu Syu’aib bin Harits bin Nu’man bin Tufa’il bin Abdullah. Dia dikenal dengan panggilan Ibnu. Meskipun dalam setiap Curriculum Vitae (Biodata) ceramah dan biografi singkat yang ia tulis dalam buku-bukunya, selalu ia cantumkan nama lengkapnya, untuk panggilan dia hanya Ibnu saja. Buku-buku dan artikelnya yang mula-mula bertema Biologi. Tentang kegemarannya semula kepada Biologi, sebelum berpindah ke pemikir (spesialis) kata-kata, ada ceritanya sendiri.
Sewaktu kecil di selalu dibuat terpesona oleh Laron. Suatu hari hujan turun amat derasnya hingga sore. Lampu minyak dari petromak dikerubungi Laron-laron yang keluar dari liang. Ibnu menangkapi satu per satu Laron itu, sampai dia mendapati satu yang paling besar luput dari tangkapannya dan keluar menuju gelap. Rasa penasaran dan girang membawanya mengejar Laron itu. Menjelang Isya’, keluarganya yang Jawa tulen dan tetangganya pada ribut, Ibnu hilang digondhol Wewe. Selepas Isya’, seorang pemilik warung di perbatasan desa mengantarkan Ibnu. Di tangannya, seekor Laron besar digenggam erat-erat.
Orang tuanya berasal dari keluarga santri. Konon kakek dari canggahnya adalah salah seorang penyebar Islam di Jawa. Tapi dari silsilah yang masih utuh bisa didapati Ibnu, tak satupun buku sejarah yang menyebut nama keluarganya. Tak ada Wali, atau bahkan cantrik dari Wali yang namanya sama dengan salah seorang kakek dari kakek dan atasnya kakek Ibnu. Orang-orang bilang, moyangnya berasal dari Yaman. Tapi tak ada unsur Yaman apapun dari dirinya yang mirip dengan orang Timur-Tengah bagian manapun – kecuali satu, menurut ukuran Ibnu, kemaluannya tergolong besar.
Ibunyalah yang mengarahkan Ibnu untuk menyukai Biologi. Jadilah Ibnu menjadi salah satu penghafal nomenklatur binomial yang fasih. Dia tahu di luar kepala istilah latin bagi Laron atau kutu busuk. Dia juga tahu istilah latin rumput teki, enceng gondok, ketela rambat hingga pohon beringin. Bukan hanya hafal, tapi dia juga tahu mengapa dari proses reproduksi bisa keluar manusia laki-laki atau perempuan atau dan/atau. Ibnu juga bisa menjelaskan dengan fasih kemungkinan di Venus ada makhluk hidup dan bahwa di inti bumi ada mikroba yang bisa hidup.
Tapi panggilannya yang hanya Ibnu (bukan Ghofar, Syu’aib, Nu’man, Harist, Tufa’il atau Abdullah) sungguh-sungguh tak membuatnya habis pikir. Ibnu stress. Dia tidak bisa protes. Pernah sekali dia protes, orang-orang tertawa: ” ...yang paling utama dari namamu itu, Ibnu, adalah kata sambung yang bermakna paling jelas: Ibnu... lainnya itu, hanya payungmu...”. Ibnu tidak terima. Sejak saat itu, dia mengabaikan menulis buku Biologi. Dia beralih menjadi pemikir nama dan kata-kata.

[belum selesai...]

PEREMPUAN PEJUANG dan PEJUANG PEREMPUAN

Dengan sabar, perempuan 70-an tahun itu menggelar karung plastik menanti pembeli yang lalu lalang di pojok pasar Bandarjo Ungaran. Sejak pukul 05.00 WIB, Karsih diantar anaknya berangkat dari Desa Kawengen, Kecamatan Ungaran Timur, 17 km arah timur Kota Ungaran.
Mbah Sih, panggilan akrabnya. Ia membeli kelapa dari halaman pasar dan menjualnya kembali ke dalam los pasar yang belum rampung dibangun sejak kebakaran setahun lalu. Keuntungan yang dia dapat Rp. 150,- per buah kelapa. Dalam sehari, ia mampu menjual 15-20 buah.
Lain Mbah Sih, lain pula Mbok Ponirah, perempuan berumur separuh abad dengan 5 anak dari Desa Gogik Kecamatan Ungaran Barat yang menjual sayur dari hasil kebunnya sendiri. Dia menjual dagangannya mulai pukul 07.00 WIB.
''Saya bangun saat adzan Subuh dikumandangkan dari Langgar dekat rumah, kemudian sholat jama'ah di Langgar, pulang, masak untuk sarapan keluarga, sedangkan Bapak (suami, red) bersiap pergi glidig, jadi tukang sapu di kantor Bupati,'' tuturnya sambil tersenyum.
Setiap harinya, ia berjualan sampai pukul 12.00 WIB dengan keuntungan Rp. 10 ribu hingga Rp. 15 ribu.
''Alhamdulillah, kalau digabungin dengan penghasilan suami, cukup dicukupin buat makan dan jajan anak-anak,'' tandasnya.
Baik Mbah Sih maupun Mbok Ponirah, bekerja karena tanggung jawab mereka kepada keluarga. Tidaklah cukup menggantungkan perekonomian keluarga hanya dari penghasilan suami.
''Waduh Mas, hidup harus terus berusaha, ora obah yo ora mamah, roda macet yo ora ngliwet (tidak gerak ya tidak mengunyah/makan, roda macet ya tidak menanak nasi), sejak kecil harus sudah prihatin,'' kata Mbah Sih.
Ya, Mbah Sih dan Mbok Ponirah, adalah sosok pejuang sejati wanita yang tetap hidup ditengah kehidupan yang makin modern dan kapitalis. Harga-harga Sembako yang tak kunjung turun meski harga BBM telah diturunkan oleh Pemerintah.
Kemiskinan tidak membuat mereka minder, malu ataupun benci kepada orang-orang yang lebih beruntung dari mereka, bahkan mereka tak pernah menghujat Tuhan. Memendam bara dalam dada yang siap menyala oleh sulutan api dendampun tak pernah mereka lakukan. Berusaha adalah kata terindah yang kerap mereka ucapkan.
''Kalau harga naik ya biarkan saja, saya menjual dagangan sedapatnya saja, tidak usah ngoyo, yang penting masih cukup buat makan, dan beramal jariyah. Dan hidup bukan untuk makan, tapi makan untuk hidup dan berusaha,'' tegas Mbah Sih.
Kemiskinan, tidak membuat mereka merasa miskin, mereka menerima apapun yang didapat (nrimo ing pandhum). Orang kaya bukanlah orang yang kaya akan harta, tapi orang yang kaya hati.
Pemilu 2009, bagi mereka tidak membawa pengaruh, karena berulangkali mereka mencoblos, tak pernah ada kemajuan materiil yang diperoleh.
''Paling ikut kebagian amplop, setelah itu, yang bagi amplop sibuk memperkaya dirinya sendiri, lihat saja mereka, adakah yang menjadi miskin, paling parah ya dipenjara karena korupsi, kalau nyogok aparat? Bebas tertawa , makin sombong dan mabuk, lihat saja...,'' ujar Mbok Ponirah kesal. [ems]

(Catatan Em Syukron Rabu 18 Maret 2009 jam 06.14 WIB saat nganter istri beli beras dan gula pasir, hidup berdua di rumah kontrakan, beras 3 kg cukup untuk makan sebulan, heran dech... eh, Subhanallah walhamdulillah wa syukurillah...)

ISTAFTI QOLBAK...

''Istafti qalbak, al-birr mâ ithma’anna ilayhi al-nafs wa athma’anna ilayhi al-qalb wa al-ismu mâ hâka fi al-nafs wa taraddad fi al- shudûr.''

[H.R. Ahmad dan al-Dârimî]


Mintalah fatwa pada hatimu, kebaikan adalah sesuatu yang membuat hatimu tenang dan keburukan adalah sesuatu yang membuat hatimu gelisah.


Hidup ini selalu dan tidak akan pernah lepas dari pilihan-pilihan yang harus kita putuskan, bahkan terkadang kita dihadapkan pada situasi dimana kita harus segera mengambil keputusan dalam hitungan sepersekian detik. Suatu pemahaman dan keyakinan yang merupakan kesimpulan bagiku secara pribadi baru benar-benar kusadari dalam dua bulan terakhir ini setelah beberapa kejadian yang sebenarnya memang kesalahanku sendiri setelah aku tidak menghiraukan hatiku sendiri. Benarlah bahwa sesungguhnya hati kita merupakan tempat bersemayamnya kebenaran, petunjuk dan hidayah Allah. Kok bisa ? Ya… bisa sih, tapi ini menurutku pendapatku sendiri lho yang masih jauh dari kebenaran yang hakiki.

Dzikir thoriqoh bagiku merupakan suatu metode pendekatan diri pada Allah yang salah satu fungsinya adalah untuk membersihkan hati dari segala kekotoran, sifat-sifat yang tidak terpuji yang dapat menciptakan hijab-hijab baru yang sebenarnya imajiner yang menghalangi kita memandang Allah. Istiqomah dalam dzikir thoriqoh sama artinya secara terus-menerus membersihkan dan menggosok cermin hati kita agar benar-benar mengkilap sehingga cahaya Allah bisa memantul sempurna di dalamnya. Kalau hati kita bersih maka cahaya hidayah Allah bisa tertampung dalam hati sehingga terang benderang. Karena itu
Syekh Abdul Jalil Mustaqim mengajarkan jika kita berdoa hendaklah selalu memohon tetapnya iman,
terangnya hati, keselamatan hidup dunia-akhirat, serta ampunan dan ridho-Nya.
Di PETA pun selalu diajarkan :
''biasakno, kulinakno, pangucapmu podo karo karepe atimu''. Biasakan menyamakan ucapan dengan kehendak hati, belajar tidak berpura-pura walaupun untuk tujuan baik sekalipun.
Biasakan untuk mendengar dan mengikuti kata hati dalam bertindak.
Nah masalahnya bagaimana kita tau itu kata hati kita atau kata nafsu kita atau kata akal pikiran kita ? Di sinilah kembali lagi pentingnya dzikir thoreqoh, dzikir yang terbimbing yang mempunyai otoritas pengajaran dari kanjeng Nabi Muhammad SAW. Istiqomah dalam dzikir thoriqoh berarti juga kita menjalankan riyadoh/tirakat/disiplin ruhani dalam olah rasa, sehingga insya Allah semakin hari kita akan semakin peka dalam membedakan mana sih yang merupakan hasrat nafsu, mana juga yang hasrat ruh, mana yang merupakan produk akal pikiran, mana yang merupakan hembusan syaithon yang membuat was-was hati kita dan mana pula yang merupakan kata hati kita. Hasrat ruh biasanya mengajak kita terus mendekat pada Allah tanpa tendensi apa pun. Kalau ingin tahu karakter nafsu, belajarlah pada anak kecil. Anak kecil bermain tidak lepas dari tawa dan tangis, begitu bertengkar, begitu juga marah menyusul dan begitu juga tawa meledak. Tetapi dalam sekian detik berikutnya, langsung berbaikan lagi dan meledak pula tawa di antara mereka. Itulah karakter nafsu yang munculnya biasanya spontan, spontan marah, spontan sedih, spontan gembira dan spontan-spontan yang lain yang memposisikan diri kita harus menang, harus enak, harus benar dan harus-harus yang lain yang paling menguntungkan hawa nafsu kita. Pada anak kecil pula aku bisa belajar tentang keyakinan, mereka dalam bertindak apa pun tidak pernah merasa ragu jika tidak kita pengaruhi, hatinya pas karena mereka belum menggunakan akal pikirannya sehingga tidak ada pertimbangan logika dalam bertindak, akulah sebagai orang tua yang sering merasa khawatir tentang berbagai bahaya dalam tindakan mereka karena akal pikiranku melakukan analisa sebab akibat dalam tindakan mereka. Jadi karakter akal pikiran menurutku adalah jika sudah muncul pertimbangan-pertimbangan bagaimana-jika atau jika- maka (logika berpikir), kalau begini maka bagaimana, sesuai referensi (baik pengalaman atau pun keilmuan) yang tersimpan di memori kita. Bila pertimbangan akal-pikiran sudah memutuskan tetapi masih ada keraguan dan pertimbangan yang lebih panjang lagi, maka itulah karakter hembusan syaithon dalam hati kita. Nah paling enak menurutku sesuai pengalaman selama ini ya mengikuti kata hati yang terdalam, yang munculnya begitu saja dengan nuansa hati yang biasa- biasa saja dalam arti ketika muncul hal itu hati kita sedang tenang, tidak ada keraguan di dalamnya, tidak ada rasa apa pun baik sebelum kemunculannya maupun sesudah kemunculannya. Pokoknya biasa saja gitu lo.... Itulah tuntunan bagi kita dalam bertindak atau pun dalam mengambil suatu keputusan dalam berbagai kemungkinan yang ada. Nah kalau kata hati itu muncul segeralah diikuti sebelum pertimbangan logika muncul bisa jadi kacau nantinya. He... he... seperti dua bulanan ini terhitung 3 kali aku tidak segera menindaklanjuti kata hati seperti biasanya sehingga pertimbangan logika berpikir ikut main, kacau deh jadinya. Serahkan saja diri kita ini pada-Nya, mohon bimbingan dan kemudahan dari-Nya. Seperti biasanya dalam situasi apa pun insya Allah aku selalu berdoa dengan doa yang singkat : Mudahkan Yaa Allah, alhamdulillah selalu diberi kemudahan oleh Allah dengan tuntunan yang menggerakkan diri ini menuju jalan kemudahan dari-Nya.

Jadi kesimpulannya :

Istafti qalbak - mintalah fatwa pada hatimu, sebagaimana dawuh kanjeng Nabi Muhammad, dalam segala hal apa pun insya Allah bisa kita rasakan jika kita manut pada apa yang diajarkan guru Mursyid kita dengan:
1.) istiqomah dalam berdzikir;
2.) selalu berdoa memohon tetapnya iman, terangnya hati, keselamatan hidup dunia-akhirat, serta ampunan dan ridho-Nya;
3.) juga mengamalkan salah satu dari laku dan sikap hati murid Syadziliyah yaitu : “Biasakan Ucapanmu sama dengan Kehendak Hatimu”.

Kang Syukron, 27 Maret 2010.

Pernikahan di Surga

WAWANCARA LANGSUNG DENGAN ADNAN OKTAR DI KANAL 35 (1 Februari 2009)

PRESENTER: Di surga, akankah wanita-wanita hidup bersama dengan suaminya yang ada di dunia ini?

 
ADNAN OKTAR: Tentu. Allah berkata mereka akan berada di bawah naungan pepohonan bersama dengan suami dan anaknya. Tentu mereka akan bersama dengan suaminya.

PRESENTER: Bagaimana jika wanita tersebut telah menikah dua atau tiga kali?


ADNAN OKTAR: Allah akan memberi dia seorang dari suaminya yang paling besar takutnya terhadap Allah, suami yang paling Allah ridhoi. Itu adalah kriteria dari Allah. Dalam segala hal kita harus melihatnya dari sisi apakah Allah ridho atau tidak. Maksud saya, saya dapat saja datang kesini, atau duduk di rumah, atau pergi keluar ke toko dan berbincang-bincang dengan orang. Tapi saya pikir Allah akan lebih ridho bila saya datang kesini, dan saya pikir saya telah melakukan hal yang benar. Dengan kata lain, sesuatu yang memiliki nilai terbaik dan dalam tindakan yang paling baik pula, itulah yang Allah inginkan. Berbuat sesuatu yang terbaik untuk Allah adalah hal yang paling Allah ridhoi. Itu juga merupakan kriteria untuk suami di akhirat kelak. Allah akan memberikan wanita tersebut suami yang paling Allah ridhoi.


WAWANCARA LANGSUNG DENGAN ADNAN OKTAR DI TEMPO TV (31 Maret 2009)


ADNAN OKTAR: Jika pasangan dari seseorang tersebut tulus dan berhati bersih, dan jika orang tersebut memiliki perilaku yang baik dan seorang yang beriman, maka tentu saja mereka akan bersama di surga. Allah Maha Besar menjelaskan dengan gamblang di ayatnya. Dia berkata mereka akan bersama di akhirat kelak. Orang-orang akan memiliki keturunan di akhirat. Seorang wanita dapat saja melahirkan kapan saja dia menginginkan bayi, setelah proses persalinan yang sangat cepat. Tetapi hal (persalinan) tersebut tidak disertai dengan rasa sakit dan terjadi dengan cepatnya. Itu akan terjadi disaat kapanpun mereka inginkan.


ADNAN OKTAR: Itulah gambaran keadaan di surga.


WAWANCARA LANGSUNG DENGAN ADNAN OKTAR DI CAY TV (25 Februari 2009)


ADNAN OKTAR: Izinkan saya berbicara bahwasanya hal/parameter yang dipertimbangkan oleh Allah terhadap manusia adalah terkait dengan keimanan seseorang terhadapNya, tingkat keimanannya kepada Allah. Tidak jadi persoalan dengan siapakah pasangan yang dinikahinya. Sebagai contoh, istri Abu Lahab memiliki pola pikir dan mentalitas yang sama dengan suaminya, sehingga dengan itu dia dimasukkan ke dalam tempat yang sama dengan suaminya.


ADNAN OKTAR: Tetapi istri firaun adalah seorang beriman dan wanita yang sangat menjaga dirinya, dan seseorang yang sangat berharga di surga. Dia tidak menuruti logika suaminya, filosofi perilaku tak bermoralnya. Dia mengikuti Nabi Musa (a.s.), dan Allah telah memasukkan dia ke dalam surga. Istri Nabi Nuh (a.s.), contoh lain, merupakan wanita yang tidak taat, dan Allah memasukkannya ke dalam neraka. Allah memisahkan dia dengan Nabi Nuh (a.s.). Istri Nabi Luth (a.s.) pun sama, dan istrinya pun seorang kafir. Allah telah memisahkan mereka. Kita dapat lihat dari beberapa contoh ini bahwa takut terhadap Allah merupakan hal yang paling penting dari semuanya.



ADNAN OKTAR: Sebagai contoh, seorang yang tak bermoral memiliki seorang istri, seseorang yang murni beriman. Wanita tersebut meninggalkan suaminya, dan Allah pun tidak meridhoi pertemuan mereka. Dia akan memisahkan mereka di akhirat nanti. Wanita tersebut akan menjadi seorang perawan/single di akhirat, dan Allah akan menikahkan dia dengan seorang laki-laki beriman yang takut pada Allah, siapapun yang Allah ridho dan inginkan. Oleh karena itu, ridho Allah lah yang menjadi kriteria utama untuk keadaan seperti itu.





Catatan :


Harun Yahya adalah nama pena Adnan Oktar[1] (juga ditulis Adnan Hoca) dilahirkan di Ankara pada tahun 1956, menetap disana sampai pindah ke Istanbul pada tahun 1979[2]. Ia adalah seorang penulis dan tokoh terkemuka Turki dalam kreasionisme[3]. Ia merupakan penentang teori evolusi, Darwinisme dianggapnya sebagai sumber terorisme[4]. Berbeda dengan kebanyakan penganjur ciptaanisme Kristen, Oktar menganut ciptaanisme Bumi Lama. Ia seorang anti zionis dan anti mason, yang dianggapnya sebagai dua gerakan yang saling terkait. Meskipun ia menolak tuduhan anti semit, dan mengklaim bahwa paham tersebut berakar pada kekafiran dan Darwinisme[5], Ia juga dianggap sebagai seorang penyangkal Holocaust[6], berdasarkan bukunya Soykırım Yalanı (Kebohongan Holocaust). Nama pena Harun Yahya berasal dari dua nama Nabi: "Harun" (Aaron) dan "Yahya" (John)

Kamis, 02 Desember 2010

RENUNGAN

Perlahan, tubuhku ditutup tanah,
perlahan, semua pergi meninggalkanku
masih terdengar jelas langkah langkah terakhir mereka
aku sendirian, di tempat gelap yang tak pernah terbayang, sendiri,
menunggu keputusan...
Istri, belahan hati, belahan jiwa pun pergi,
Anak, yang di tubuhnya darahku mengalir, tak juga tinggal,
Apalagi sekedar tangan kanan, kawan dekat, rekan bisnis, atau
orang-orang lain, aku bukan siapa-siapa lagi bagi mereka.
Istriku menangis, sangat pedih, aku pun demikian,
Anakku menangis, tak kalah sedih, dan aku juga,
Tangan kananku menghibur mereka,
kawan dekatku berkirim bunga dan ucapan,
tetapi aku tetap sendiri, disini,
menunggu perhitungan ...
Menyesal sudah tak mungkin,
Tobat tak lagi dianggap,
dan ma'af pun tak bakal didengar,
aku benar-benar harus sendiri...
Tuhanku,
(entah dari mana kekuatan itu datang,
setelah sekian lama aku tak lagi dekat dengan-Nya),
jika kau beri aku satu lagi kesempatan,
jika kau pinjamkan lagi beberapa hari milik-Mu,
beberapa hari saja...
Aku harus berkeliling, memohon ma'af pada mereka,
yang selama ini telah merasakan zalimku,
yang selama ini sengsara karena aku,
yang tertindas dalam kuasaku.
yang selama ini telah aku sakiti hati nya
yang selama ini telah aku bohongi
Aku harus kembalikan, semua harta kotor ini,
yang kukumpulkan dengan wajah gembira,
yang kukuras dari sumber yang tak jelas,
yang kumakan, bahkan yang kutelan.
Aku harus tuntaskan janji janji palsu yg sering ku umbar dulu
Dan Tuhan,
beri lagi aku beberapa hari milik-Mu,
untuk berbakti kepada ayah dan ibu tercinta ,
teringat kata kata kasar dan keras yg menyakitkan hati mereka ,
maafkan aku ayah dan ibu , mengapa tak kusadari betapa besar
kasih sayang mu beri juga aku waktu,
untuk berkumpul dengan istri dan anakku,
untuk sungguh sungguh beramal soleh ,
Aku sungguh ingin bersujud dihadap-Mu,
bersama mereka ...
begitu sesal diri ini
karena hari hari telah berlalu tanpa makna
penuh kesia sia an
kesenangan yg pernah kuraih dulu, tak ada artinya
sama sekali mengapa ku sia sia saja ,
waktu hidup yg hanya sekali itu
andai ku bisa putar ulang waktu itu ...
Aku dimakamkan hari ini,
dan semua menjadi tak terma'afkan,
dan semua menjadi terlambat,
dan aku harus sendiri,
untuk waktu yang tak terbayangkan ...

Setahun...

Setahun lalu aku terduduk malu-malu
chicken nugget dan setangkup es krim susu
tak mampu menggugah nafsu makanku
bahkan kurasa nafasku hanya satu

Setahun lalu sentuhan kecil tanganmu
mampu membekukan segala yang ada di sekelilingku
menghentikan detak jantungku beberapa waktu
bahkan peluh dingin mengguyur tubuhku

Aku tahu sejak saat itu
di hatiku hanya akan ada kamu

Namun, bila saat ini aku masih bersamamu
bukan karena setahun lalu
tapi karena setahun ini
kau mencintaiku laksana bintang yang setia pada malam
dan tak pernah cemburu pada rembulan

AKU (RAKYAT) YANG TERSINGKIR

Ketika malam kian larut, angin berhembus perlahan takut membuat gaduh dan membangunkan orang sekampung. Di balik awan, bintang mencoba berkedip membawa obor penerangan redup, sontak deru fajar menghentak hamburkan kabar perhelatan besar, pesta pora di antara reruntuhan rumah-rumah kesedihan, di atas tumpukan duka berkarat. Ada teriakan, makian, cacian saling bersahutan, saling berharap menjadi suara penghias kelam.
Dari gundukan sampah mengalir lagu ratapan, alunkan musik-musik kemiskinan, keserakahan, penghianatan, pemberangusan atas nama cinta, atas nama kasih aturan undang-undang, atas nama sayang perompakan, pembajakan. Seutas senyum menyayat dari bibir sang terdakwa, sekelebat canda bersama gebyar lambaian narapidana.
Inilah negeri kami dan kami tetap bangga karena penderitaan tidak mengajarkan kami melihat nilai nominal, rasa sakit tidak berharap kami untuk berhitung jutaan, atau milyaran, bahkan trilyunan, rasa perih ajarkan kami canda tawa, ajarkan senyum manis tentang pengabdian bukan untuk uang.
Lihat saja, rentetan pencurian. Dengar saja, sejuta alasan.
Inilah negeri kami dan kami tetap bangga. Lihat saja, penjahat yang terhormat, maling, pencuri, pencoleng berpesta. dan kami gembira bisa melihat pesta-pesta para narapidana.
Inilah negeri kami. bukan berapa lama, bukan apa yang bisa, tetapi inilah aku karena inilah uangku.
M E R D E K A……………………………………..!!!
M A T I S A J A…………………………….!!!
Inilah perjalanan panjang tanpa tepi, seperti ombak laut menghantam karang akhirnya kembali ke laut tanpa penyesalan. Jangan tolong aku, karena inilah jiwa yang telah lama diimpikan, dan inilah harapan agar aku selalu bisa bermimpi. Andai kamu datang, jangan pernah katakan apapun, karena aku tidak butuh nyanyian sumbang dari rangkaian syair ratapan.
Aku selalu berjalan, menentang angin dingin di setiap relung malam sepi, dalam arus gelombang mendung hitam.Aku berdiri tertawa ketika rasa sakit mendera, rasa perih mengikat erat dalam pelukan perih dan ngilu. Andai kamu datang jangan pernah berpikir hadirkan pertolongan, jangan pernah coba ulurkan tangan persahabatan.
Tidak pernah ada damai mengalir dalam otakku, kecuali hasrat menumpahkan darah, mengalirkan penderitaan ke setiap jiwa-jiwa pengecut. Dan akulah pengecut itu, ketakutan hanya untuk katakan keluhan, ngeri hanya untuk berjalan melempar pandangan.
Jangan pernah coba bakar jiwaku karena akulah bara.
Jangan pernah coba sakiti diriku karena aku adalah sayatan luka.
Andai malam memaki, akan ku balas dengan cacian kotor, dengan kalimat jorok.
Tolong hentikan bualan……….
Biarkan malam pergi dan tidak perlu ku ratapi………………
Karena sepi adalah sahabat sejatiku...

Gunung Mergi, 1 April 2010 saat kabut merayap turun kerumah (kecil) kontrakanku.