Kang Syukron Photography

Sabtu, 28 Maret 2015

Kampung Celengan yang Tinggal Kenangan


BEKAS KELURAHAN: Sebelum menjadi Balai Pertemuan RW I Kelurahan Pendrikan Lor, Kecamatan Semarang Tengah, gedung ini sebelumnya merupakan Kantor Kelurahan Celengan.
TAK banyak warga yang tahu, jika pemukiman padat di Jalan Abimanyu V, VI, VII dan VIII Kelurahan Pendrikan Lor, Kecamatan Semarang Tengah, dahulu, mayoritas warganya adalah perajin gerabah. Gerabah yang diproduksi pun kebanyakan berbentuk celengan, atau tabungan berbentuk kendi kecil dengan lobang di bagian atas yang hanya cukup untuk memasukkan uang recehan. Kampung itu pun pada jaman dahulu disebut dan dikenal sebagai Kampung Celengan.
Ketika saya menyusuri kampung itu, tidak ada sisa-sisa atau warga yang masih membuat aneka kerajinan dari tanah liat itu. Untuk menemukan sesepuh yang mengerti sejarah kampung pun, cukup sulit. Salah satu tokoh, H Mudjiono, tengah sakit. Akan tetapi, sesepuh lainnya, Slamet (73), warga RT 4 RW I, Jalan Abimanyu VI, dapat menceritakan sejarah kampung yang kini padat penduduk itu.
''Dulu sekali, warga Kampung Celengan, mayoritas perajin gerabah. Gerabah yang dibuat bentuknya celengan dan mainan anak-anak dari tanah liat yang dijual saat Dugderan. Dulu, dugderan pusatnya tidak di Pasar Johar, tetapi di Kampung Beringin,'' tutur bapak lima anak dan 10 cucu itu.
Hal senada juga disampaikan Suwati (64), warga kelahiran Bulu Lor. Saat ia kecil, pemukiman di Kampung Celengan tidak sepadat saat ini. Lebih didominasi rumput ilalang dan pepohonan. Akan tetapi, mulai awal 1970-an, banyak warga yang membangun rumah di kawasan itu. ''Kalau soal sejarah, ada yang bilang, dulu banyak perajin celengan, tapi, ada juga yang bilang, dulu, sebelum menjadi pemukiman, disini banyak babi hutan, atau celeng. Soal kebenarannya, saya sendiri tidak tahu,'' ujarnya.
Saat ditemui , Suwati yang didampingi anak dan cucunya juga menjelaskan, Celengan merupakan wilayah kelurahan yang terdiri dari beberapa RW. Setelah otonomi daerah, Celengan bergabung dengan Kelurahan Pendrikan Lor. Kantor Lurah Celengan yang ada di ujung Jalan Abimanyu VI pun hingga saat ini masih ada, dan menjadi Balai Pertemuan RW I. ''Di Balai RW sering digelar acara warga, seperti pengajian rutin Jumat, Minggu, maupun selapanan bapak-bapak. Serta kegiatan lain dalam rangka guyub dan rukun warga,'' katanya. (MS)

Jumat, 06 Maret 2015

Barbershop Yu Me Gang Pinggir 118 Berdiri 1950

Kursi Cukur Antik
UNTUK mencari tempat potong rambut yang didirikan pada 1950 oleh Go Tjoe Tek (96) di Jalan Gang Pinggir 118, Kawasan Pecinan, tidaklah sulit. Bangunan tua dengan dinding tembok putih serta jendela kayu jati berwarna hijau itu mudah ditemukan, karena tepat di depan gedung Bank Mega.
Ketika saya berkunjung ke tempat itu, seorang lelaki menyambut ramah dan langsung memersilahkan duduk. Bagus Senjaya, atau Go Liang Sen, nama lelaki berusia 57 tahun itu. Ia merupakan anak kandung Go Tjoe Tek yang kini meneruskan usaha potong rambut yang sejak dulu menggunakan nama Barbershop Yu Me.
Di ruangan berukuran 3 x 5 meter itu nampak dua buah kursi untuk tempat cukur yang unik dari kayu jati buatan Singapura dengan besi penyangga berbentuk seperti pilar bangunan rumah.
Besi sebagai pijakan kaki tertulis huruf Mandarin bergambar gajah dan tertulis alamat pabrik pembuatnya, 43 Victoria ST SPO. Cermin besar menempel di dinding dan dibawahnya, sebuah meja tipis dari kayu lengkap dengan dua rak untuk meletakkan peralatan potong rambut.
Kursi tunggu kuno terbuat dari kayu jati dengan anyaman rotan ada empat buah ditambah kursi panjang dan satu kursi plastik dan meja kecil tempat majalah, juga ada di ruangan berlantai keramik putih itu.
''Usaha ini didirikan ayah saya mulai 1948, tetapi resmi menerima konsumen pada 1950. Khasnya, setelah potong rambut, konsumen mendapatkan pelayanan tambahan, yakni pembersihan telinga dengan korekan dari bulu Mentok,'' tutur bapak tiga anak itu.
Karena mendapat amanah untuk melanjutkan usaha, Koh Liang Sen, sapaan akrab Bagus Senjaya, mencari pengalaman ke Jakarta dan bekerja di barbershop. Ia pun kembali ke Semarang pada 1976 dan melanjutkan usaha ayahnya pada 1980.
Beragam gaya potong rambut seperti skedeng, bros, tapal kuda dan kuncung pun hingga kini, kata Koh Liang Sen, masih diminati konsumennya. Ia pun mengaku, tetap mempertahankan gaya potong rambut jaman dulu dan tidak bisa mengikuti gaya jaman sekarang.
''Kalau peralatan, dulu memakai tondes. Sekarang memakai alat potong rambut elektrik, karena, hasilnya lebih halus dan rapi. Pelanggan Papah pun sampai sekarang masih sering datang, meski bulan ini ada tiga pelanggan yang meninggal,'' jelasnya.
Koh Liang Sen memiliki pengalaman yang tak terlupakan. Ia pernah dipanggil ke markas militer oleh tentara ajudan jenderal untuk mencukur rambut sang jenderal. Saat mulai memotong rambut, tangannya pun gemetar.
''Sang jenderal ternyata tahu, kalau tangan saya gemetaran. Beliau pun meminta saya tidak takut, karena saya dan dia sama-sama manusia,'' tandasnya sambil tersenyum.
Salah satu pelanggan barbershop Yu Me, Harjanto Halim mengatakan, Koh Liang Sen merupakan satu-satunya tukang cukur yang bisa memotong rambut model "flat-top" dengan sempurna. Flat-top adalah model rambut bros dimana bagian atas rata-rata 1.5 cm.
''Mencukur bagian pinggir dan belakang baginya tidak sulit, tinggal dibabat habis kres kres kres. Tapi meratakan bagian atas, butuh kesabaran, stamina, serta kejelian prima. Karena harus benar-benar rata seperti landasan. Tarif cukurnya juga tidak terlalu mahal. Dia juga tahu semua gosip dan cerita yang lagi hangat beredar,'' paparnya. (MS)

Jamu Jun Karsipah di Pasar Gang Baru

"Rasa Jamu Jun itu kompilasi antara segar, manis, legit, hangat dan pedas. Enak dikonsumsi ketika musim hujan. Apalagi ketika tubuh kita membutuhkan penghangat, jamu ini berkhasiat juga ketika kita sedang masuk angin. Harganya pun sangat terjangkau."

ITULAH komentar Yunita (35) warga Pekojan yang sepekan dua kali membeli Jamu Jun yang dijual Karsipah (50) warga kelahiran Desa Poncoharjo, Kecamatan Bonang, Kabupaten Demak di Pasar Gang Baru, Kawasan Pecinan, Kota Semarang, suatu pagi.
Bagi ibu dua anak itu, Jamu Jun tidaklah sama dengan jamu-jamu pada umumnya yang identik memiliki rasa pahit dan aroma khas rempah-rempah seperti kencur, brotowali, kunyit, sambiloto, sirih, temulawak, widoro laut dan daun pepaya. ''Bahan-bahan seperti tepung ketan, kelapa, gula merah, jahe, gula pasir, daun pandan, santan membuat rasa dan tampilan menjadi berbeda,'' tuturnya.
Dari penuturan Karsipah, Jamu Jun merupakan minuman asal Jepara. Ada pula yang menyebutnya, berasal dari Demak. Sekitar 40-an tahun yang lalu, warga Jepara yang berjualan Jamu Jun beramai-ramai datang ke Semarang untuk mengadu nasib. Alhasil, penjualan Jamu Jun di Kota Semarang pun berkembang pesat , sehingga diklaim menjadi minuman khas Kota Semarang.
''Kalau soal nama, disebut jamu karena menggunakan beberapa bahan yang dipakai untuk membuat jamu sedangkan Jun dari kata "junjang-junjung", dalam Bahasa Indonesia artinya di angkat-angkat. Kalau menurut saya, karena minuman ini dulu ditaruh di dalam semacam kuali tanah liat. Orang menyebut kuali itu dengan jun atau kenthi,'' papar ibu enam anak dan 9 cucu yang telah 25 tahun berjualan Jamu Jun, kemarin.
Untuk mengolah Jamu Jun, Karsipah memasak terlebih dahulu tepung beras ketan kemudian mencampurnya dengan gula jawa, gula pasir, daun pandan dan santan serta 18 jenis rempah-rempah yang biasa disebut sariwangi batanget diantaranya serai, jahe, merica dan kayu manis. Untuk campuran penyajian, ditambah bubuk merica dan selo (bubuk putih herbal) serta krasikan atau bola-bola kecil yang dibuat dari parutan kelapa, gula jawa, jahe dan tepung ketan.
Setelah seluruh adonan selesai dimasak, jun yang penuh dengan adonan pun diletakkan ke dalam keranjang bambu. Ia pun berangkat ke Pasar Gang Baru pada pukul 05.30 dari rumah kontrakannya di Jalan Sukolilo berjalan kaki. Untuk satu mangkuk kecil, Karsipah yang telah menjanda selama 15 tahun itu memberi patokan harga Rp 3.000 kepada konsumennya.
''Biasanya, jam 11.00 sudah habis. Kemudian, sore masak lagi untuk jualan keliling di daerah Pedamaran, Pasar Johar sampai Kranggan. Pelanggan saya yang rutin warga Tionghoa. Mereka suka sekali dengan Jamu Jun,'' jelasnya.
Meski saat ini, jumlah penjualnya tidak banyak, Karsipah berharap, 10-20 tahun lagi, Jamu Jun yang telah dikenal sebagai minuman khas Semarang tidak punah. Ada yang berminat menjual Jamu Jun? Karsipah siap membagi ilmunya. (MS)

Jalan-jalan ke Katoomba New South Wales Australia (2-Habis)

Lyre Bird, Bunyip dan Tulang Sihirnya

THREE Sister, terletak di Echo Point Katoomba, atau sekitar 2,5 kilometer dari Great Western Highway. Memiliki daya tarik dan menjadi magnet bagi jutaan orang dari seluruh dunia setiap tahunnya.
Three Sisters pada dasarnya adalah sebuah formasi batuan berbentuk unik dan menurut legenda Aborigin, merupakan tiga saudara perempuan yang dikutuk menjadi batu.
Karakter Three Sisters berubah sepanjang hari dan sepanjang musim, terutama saat sinar matahari memunculkan warna megahnya.  Masing-masing dari Three Sisters memiliki ketinggian 922 meter, 918 meter dan 906 meter dan berdiri 3000 meter di atas permukaan laut.
Dari legenda Aborigin, seperti yang tertulis di Echo Point disebutkan, ada tiga saudara, bernama Meehni, Wimlah, dan Gunnedoo yang tinggal di Lembah Jamison sebagai anggota suku Katoomba.
Wanita muda yang cantik itu jatuh cinta dengan tiga bersaudara dari suku Nepean. Namun, hukum adat melarang mereka untuk menikah. Saudara-saudara mereka pun tidak senang menerima undang-undang itu dan memutuskan untuk menggunakan kekuatan dengan menangkap tiga saudara perempuan sehingga menyebabkan pertempuran suku utama. Tiga bersaudara itu pun merasa terancam nyawanya. Sehingga, seorang dukun dari suku Katoomba mengubah tiga saudara perempuan menjadi batu untuk melindungi mereka dari bahaya apapun.
Ketika kondisi sudah aman, justru sang dukun mati terbunuh dalam pertempuran suku utama. Dan untuk mengembalikkan mantra agar tiga perempuan itu kembali menjadi manusia, sia-sia. Tiga saudara perempuan itupun akhirnya tetap dalam formasi batuan.
Dari legenda lainnya diceritakan, Meenhi, Wimlah dan Gunnedoo memiliki ayah seorang dukun. Namanya Tyawan. Kala itu, untuk mencari makan bagi anak-anaknya, Tyawan harus berjalan menyusuri lembah dan melewati sebuah lubang yang ditinggali oleh Bunyip, iblis atau roh jahatyang berasal dari cerita rakyat Australia.
Oleh karena itu setiap kali Tyawan harus melewati lubang dalam mencari makanan, dia akan meninggalkan anak-anaknya di sebuah tebing yang ada di belakang dinding berbatu.
Pada suatu ketika, Tyawan meminta anak-anaknya untuk menuruni tebing menuju lembah. Tiba-tiba, Meenhi dikejutkan oleh kelabang besar yang muncul dihadapannya.
Meenhi pun mengambil batu dan melemparkannya. Batu itu terus berguling menurutni tebing, dan masuk ke dalam lubang dimana Bunyip tingal.
Bunyip pun marah. Tak hanya tiga saudara perempuan itu yang ketakutan. Seluruh burung dan hewan yang ada di sekitar itu pun terdiam. Bunyip pun mendekati tiga perempuan itu. Mengetahui hal itu, Tyawan menggunakan tulang sihirnya untuk mengubah ketika anaknya menjadi batu. Marah dengan apa yang dilakukan Tyawan, Bunyip pun mengejar Tyawan.
Tyawan yang terpojok pun akhirnya merubah dirinya menjadi burung Lyre. Sebuah burung endemik Australia yang mampu menirukan suara manusia dan suara yang muncul dari lingkungannya. Setelah Bunyip menghilang, Tyawan pun berubah menjadi manusia lagi dan mencari tulang sihirnya untuk merubah tiga anaknya juga kembali menjadi manusia. Tetapi, upayanya itu gagal. Tulang sihirnya tidak ditemukan.
Tiga putrinya tetap menjadi tiga formasi batuan yang hingga kini menjadi magnet bagi wisatawan ketika berkunjung ke Sydney. ''Hati-hati kalau anda melihat Lyre Bird, dia sedang mencari tulang sihirnya,'' ujar Patrick, salah pemandu wisata di Echo Point. (MS)

Jalan-jalan ke Katoomba New South Wales Australia (1)

Three Sister dan "Meja Tuhan" di Blue Mountain 

Brrr... Dingin pun menusuk tulang. Meski sinar matahari begitu terik, mayoritas pengunjung berkata sama dan hanya satu kata, dingin. Sembilan derajat, suhu cuaca siang pekan lalu.
Perjalanan dari Sydney Central menuju Katoomba memakan waktu sekitar 2 jam melintasi desa-desa kecil yang indah dengan rumah-rumah khas bergaya kuno. Pemandangan ini terlihat saat bus yang membawa saya melintasi Nepean River menuju Emu Plains dan mulai masuk area Blue Mountain.
Dari situ, sekilas desa-desa kecil yang membentuk Kota Blue Mountains dimulai dari Glenbrook memanjang sampai Bathurst. Kebanyakan bangunan dan suasananya bergaya kuno yang seolah-olah waktu berhenti berputar di daerah ini. Sebenarnya hal tersebut tidaklah mengherankan karena Blue Mountain City Council selalu berusaha menjaga ciri khas kota-kotanya.
Dari makalah tentang Development Control Plan di daerah Katoomba yang berisi pedoman pembangunan bagi warga kota, pedomannya sangat mendetail mulai dari bentuk bangunan, desain luar baik cat ataupun bahan bahkan sampai pada tinggi bangunan pun diatur dalam pedoman tersebut.
''Jadi orang tidak bisa sembarangan membangun atau memugar. Sebagai contoh  bangunan di sepanjang Lurline dan Katoomba Street harus memiliki beranda kayu (sebuah elemen penting bagi bangunan abad ke 19) sedangkan di Kedumba Emporium dinding bangunan tidak boleh dicat putih atau warna gelap. Di daerah Pacific Drive dan Echo Point Road, luas bangunan tidak boleh melebihi 30 persen luas tanah dan halaman yang boleh dipaving tidak boleh lebih dari 10 persen,'' kata Stephen, salah satu staf di Scenic World.
Katoomba sendiri, terletak kurang lebih 1017 meter diatas permukaan laut, kota ini sejak dahulu menjadi tempat peristirahatan warga Sydney karena hawanya yang sejuk, kotanya yang tenang dan pemandangan alamnya yang luar biasa.
Tapi dulu sekali, Katoomba hanyalah sebuah desa kecil yang kemudian berkembang menjadi kota pertambangan batubara. Seiring dengan perkembangan tersebut orang juga semakin menyadari potensinya sebagai kota wisata sehingga sedikit demi sedikit dibangunlah hotel, jalur trekking, stasiun kereta dengan rute langsung dari Sydney.
Dan yang paling mengagumkan adalah dibangunnya "Giant Stairway" di Echo Point, semacam tangga turun sepanjang 300 meter dengan 800 anak tangga yang memungkinkan orang turun ke lembah Jamison Valley.
Sebuah bus yang membawa saya pun berhenti di Scenic World Blue Mountains. Untuk menikmati paket Scenic World, perlu merogoh kantong sebesar AU$ 30 dengan fasilitas Trolley Tours Hop and Off selama sehari, naik Scenic Railway, Scenic Walkway, Scenic Skyway dan Scenic Cableway.
Scenic Railway merupakan kereta berkapasitas 84 orang dengan jalur tercuram di dunia. Dengan kemiringan 52 derajat di jalur sepanjang 310 meter.
''Rasanya seru sekali naik kereta ini. Apalagi rutenya benar-benar alami, membelah hutan dan melewati jalur sempit Orphan Rock sehingga memberikan rasa yang berbeda dibanding naik roller coaster biasa,'' kata Anne, turis asal Washington, USA yang duduk berdampingan dengan saya.
Pada awalnya, jalur kereta ini dibangun untuk mengangkut batubara saat tambang-tambang di Jamison Valley masih aktif beroperasi pada 1880. Tapi dari 1928 sampai 1945 mulai dicoba untuk mengangkut penumpang walaupun hanya di akhir pekan.
Sejalan dengan ditutupnya tambang-tambang tersebut akhirnya sejak 1945 tempat ini menjadi obyek wisata permanen bagi turis. Sayang waktu tempuh dari atas ke bawah hanya empat menit, sehingga rasanya kurang puas.
Scenic Railway
Turun dari Scenic Railway, pengunjung bisa menuju arah kiri keluar dari area Scenic World untuk trekking sedikit ke arah Katoomba Falls Crossing. Di tempat itu, kita bisa merasakan sedikit lautan pohon di Jamison Valley dan bagian tengah dari air terjun Katoomba. Jalur trekkingnya masuk dalam kategori mudah karena mendatar dan lebar tapi hawanya dingin karena pepohonan rapat menutupi sinar matahari.
Katoomba Fallsnya begitu mengesankan. Saya sempat duduk dan makan di salah satu meja piknik yang tersedia. Sambil ditemani burung-burung liar yang tanpa takut makan kentang goreng yang saya bawa.
Atraksi kedua yaitu Scenic Walkway. Jalur trekking melingkar sejauh 2,8 kilometer ini semuanya ditutupi papan kayu sehingga memudahkan orang yang ingin jalan-jalan di dasar lembah Jamison Valley. Ada 3 jalur melingkar yang bisa dicoba. Jalur pertama dengan panjang 380 mt dengan durasi jalan 10 menit berawal dari stasiun akhir Scenic Railway ke stasiun bawah Scenic Cableway. Rute kedua, melewati jalur Lilipilli Link dengan durasi 30 menit dan rute ketiga melintasi Yellow Robin Link yang berdurasi 60 menit.
Di Yellow Robin ini terdapat Marangaroo Spring, sumber mata air alami pegunungan Blue Mountain, yang airnya bisa langsung diminum.
Narsis Dulu

Di awal rute, pengunjung akan melewati Coal Mine Exhibition, semacam ruang pamer yang mendokumentasikan sejarah pertambangan batubara di tempat ini. Berbentuk seperti museum di area terbuka, kita bisa belajar sedikit seluk beluk pertambangan dengan tehnologi kuno. Benda yang pertama kali dipajang adalah Mountain Devil, replika kereta yang dulu dipergunakan untuk mengangkut batubara dan penumpang keatas. Kereta ini merupakan cikal bakal dari Scenic Railway yang ada sekarang ini. Selain kereta juga terdapat replika kantor pertambangan dan alat-alat yang digunakan. Didepannya terdapat sebuah kereta perunggu lengkap dengan kuda, batubara dan pekerja tambangnya.
Scenic Walkway jalur pendek berakhir di Scenic Cableway Bottom Station. Scenic Cableway ini berupa kereta gantung berkapasitas 84 orang tanpa tempat duduk dengan lintasan sepanjang 545 mt yang membawa penumpangnya naik kembali menuju Scenic Wold Top Station.
Sesampai di stasiun semula, pengunjung menuju atraksi ke 4 yaitu Scenic Cinema yang tiket masuknya gratis bersamaan dengan pembelian tiket apa saja di Scenic World. Film yang diputar adalah film dokumenter tentang Blue Mountain dalam bentuk 3D.
Satu atraksi selanjutnya adalah Scenic Skyway, semacam kereta gantung dengan dasar kaca yang membawa penumpangnya melintasi jalur sejauh 720 meter menyeberang dari Scenic World menuju stasiun dekat Echo Point Lookout. Jalurnya hanya mendatar, tapi sensasi menyeberang jurang dari ketinggian 270 meter di atas tanah melintasi Katoomba Falls dan hutan dibawahnya mungkin tidak bisa terkatakan.

Echo point adalah tempat perhentian terakhir dari perjalanan. Setiap kunjungan ke Katoomba tidak afdol rasanya kalau belum mampir kesini. Terletak di ujung jalan Echo Point (perpanjangan dari Lurline St), tempat ini tidak hanya menawarkan pemandangan yang luar biasa. Tourist Centre-nya juga menyediakan semua peta dan informasi lengkap tentang Blue Mountain (walaupun ada beberapa petanya yang tidak gratis). Dari tempat ini kita bisa memandang bebas ke Three Sisters, Mount Solitary, dan Jamison Valley yang luas. Kalau di laut terhampar air dan pasir, kalau disini lautan pohon yang kita lihat. Bagaikan samudera pepohonan yang luas tak berdasar dan bertepi.
Persis di sebelah kiri Echo Point terdapat Three Sister, formasi jajaran tiga batu yang paling terkenal di dunia. Terbentuk karena kikisan angin dan hujan, puncak tertingginya bernama Meehni (922 m), Wimlah (918 m), dan  Gunnedoo (906 m). Sebenarnya dulu terdapat tujuh jajaran tapi sayang 4 diantaranya sudah runtuh karena erosi. Nun jauh di sebelah timur Three Sister terbentang Kings Tableland, sebuah tebing batu pasir mendatar sepeti "Meja Tuhan" yang membentang luas dari Wentworth Falls sampai Jamison Valley.  Kemudian persis di depannya terlihat Mount Solitary dan Ruined Castle dengan hamparan lautan pohon di kaki gunungnya.
Dari Echo Point ini, banyak sekali rute jalan kaki dengan berbagai jarak dan tingkat kesulitan. Yang paling ngetop dan ingin sekali saya coba adalah The Three Sisters Footpath. Rute sejauh 1,2 km pulang pergi ini membutuhkan waktu sekitar 45 menit kecepatan bule dengan tingkat kesulitan "Hard" (sulit) karena harus naik turun bagian atas dari Giant Stairway yang resmi dibuka sejak tahun 1932. Titik mulanya berada di dekat Echo Point Visitor Information Centre (cari tanda menuju Giant Stairway) dan berakhir di gua kecil yang berada di bagian dasar Meehni, salah satu tebing Three Sister. (MS)

Kamis, 05 Maret 2015

Jalur Trans Semarang Mirip Jalur Trem Masa Lalu

PADA akhir abad ke-19, Kota Semarang berkembang menjadi kota berbasis perdagangan dan jasa yang terkemuka di Hindia Belanda. Masyarakat pun berbondong-bondong datang ke Semarang untuk mencari peruntungan.
Arus urbanisasi yang besar, membuat Semarang semakin padat penduduknya. Kebutuhan transportasi terpadu pun mutlak dibutuhkan untuk melayani masyarakatnya. Dan, kebutuhan transportasi pun dijawab oleh NV Semarang-Joana Stoomtram Maatschappij atau disingkat SJS pada 1881 yang dipimpin Mr HMA Baron van Der Goes van Dirxland.
Baron mendapatkan ijin konsesi pengembangan jaringan kereta api dari Pemerintah Kolonial Belanda melalui Besluit van den Gouverneur No 5 tertanggal 18 Maret 1881. Beberapa waktu kemudian, jalur trem uap dibangun dan secara resmi beroperasi pada 1 Desember 1881 melintasi jalur Jurnatan hingga Jomblang sepanjang 4,4 kilometer.
Pada 12 Maret 1883, kembali dibuka jalur trem dari Jurnatan ke Pasar Bulu dan dari Jurnatan ke Stasiun NIS Semarang. Kemudian disusul pada 2 Juli 1883, Jurnatan ke Pelabuhan dan pada 4 November 1899, dari Pasar Bulu ke Banjir Kanal Barat.
Untuk mengenang kembali jalur trem yang pernah jaya di Kota Semarang, Komunitas Lopen bekerjasama dengan BRT Trans Semarang menggelar Telusur Jalur Trem. Setelah berkumpul di depan Mc Donald Java Mall, para peserta langsung menuju halte BRT. Kok ke halte BRT?
''Karena, selidik punya selidik, jalur-jalur BRT Trans Semarang ini ada kemiripan jalur jaringan trem masa lalu. Bahkan letak halte BRT Trans Semarang yang berada di Jomblang ini letaknya persis di tapak dimana dahulu, Stasiun Djomblang, stasiun ujung jaringan trem yang kearah selatan berada,'' tutur Koordinator Komunitas Lopen, Muhammad Yogi Fajri.
Peserta pun diajak menumpang BRT Trans Semarang ke halte Bubakan dan mengamati tapak bekas stasiun sentral Jurnatan, stasiun pusat jaringan trem di Kota Semarang. Walaupun stasiun telah lenyap, penanda bahwa di tapak ini pernah berdiri sebuah stasiun masih dapat dilihat, yakni sebuah tiang telegram yang merupakan pelengkap sarana komunikasi antar stasiun.
Setelah dari stasiun Jurnatan peserta melanjutkan perjalanannya dengan berjalan kaki ke bekas kantor Semarang Joana Stoomtram Maatschappij (SJS) operator jaringan trem di Kota Semarang yang terletak di Pengapon.
Para peserta mengamati bekas kantor dan depo yang telah tenggelam dilumat ganasnya fenomena penurunan tanah di kawasan pesisir. Setelah berfoto bersama, kegiatan dilanjutkan menuju halte BRT Trans Semarang di Tawang, untuk menyusuri jalur trem yang kearah barat via Jalan Pemuda. Penelusuran pun berhenti di Pasar Bulu, di lokasi dimana dahulu terdapat stasiun  pemberhentian trem yakni, Stasiun Bulu yang dahulu terletak di sisi timur Pasar Bulu.
''Sebenarnya stasiun ujung jaringan trem yang kearah barat berada di pinggir Banjir Kanal Barat, tepatnya di dekat Pasar Kokrosono,'' tandas Yogi sapaan akrab Muhammad Yogi Fajri, kemarin.
Karena sudah siang, peserta pun diajak ke Restoran Semarang milik Jongkie Tio yang juga penulis buku “Kota Semarang dalam Kenangan” dan “Semarang City: A Glance into the Past”.
Selain berbagi cerita, para peserta berkesempatan menyantap Lontong Cap Go Meh. Menu akulturasi Tionghoa-Jawa yang mengandung arti, Cap (10) go (5) meh (malam), yang merupakan rangkaian terakhir dari perayaan Imlek. (MS)

Harapkan Keberuntungan, Kebahagiaan dan Keselamata

-Pesta 1000 Lampion di Sekolah Karangturi

SUARA gamelan yang mengiringi pentas wayang kulit dengan dalang Foe Jose Amadeus Krisna, siswa SMA Karangturi, berpadu dengan musik dan lagu-lagu Tionghoa membahana di Sekolah Karangturi Jl Raden Patah 182-192, Jumat (27/2/2015) malam.
Suasana Negeri Tirai Bambu di sekolah itu pun terlihat ketika saya memasuki arena sekolah yang dihias dengan gapura merah berhiaskan lampion dan pernak-pernik lainnya. Ratusan siswa mulai dari TK, SD, SMP hingga SMA yang berbaur bersama orangtuanya pun mengenakan busana khas Tiongkok.
Lampion beragam bentuk dan warna menghias di seluruh sudut gedung. Apalagi ketika memasuki aula di lantai dua, ratusan lampion tergantung di atas ruangan yang disorot oleh lampu. Di tengah aula, sebuah pohon kering tergantung pula lampion dengan bentuk, ukuran dan warna yang beragam pula.
Pesta Lampion dan Perayaan Imlek 2566 Sekolah Karangturi, begitulah nama acara yang berlangsung cukup meriah itu. Beragam acara mulai dari pentas musik akustik, paduan suara, keroncong, tari balet, pemilihan koko dan cici, tari lampion, tari kipas, seni wushu, gambang semarang, english mini drama hingga melepas lampion ke udara digelar dan diikuti para siswa mulai dari TK, SD, SMP hingga SMA.
''Lampion-lampion yang jumlahnya lebih dari 1000 ini juga buatan siswa mulai TK hingga SMA. Lampion menjadi simbol harapan, keselamatan, keberuntungan, kebahagiaan dan penerangan. Kegiatan ini juga mengajak para siswa, guru dan wali murid untuk menjunjung tinggi perbedaan. Karena, siswa di sekolah ini juga berasal dari beragam agama,'' tutur Ketua Umum Yayasan Pendidikan Nasional Karangturi, Harjanto Kusuma Halim, saat ditemui di sela-sela acara.
Menurutnya, kreasi dan kegiatan yang ditampilkan pada acara yang baru pertama kali digelar di sekolah itu juga untuk mengeksplorasi bakat para siswa. Dengan semangat multikulturalisme yang ada di sekolah, Harjanto juga berharap akan membawa harapan yang lebih baik.
Ketua Panitia Pesta Lampion, Andy Hermawan juga menambahkan, kegiatan itu bukan sekedar pesta, tetapi menjadi wujud semangat kekeluargaan warga Karangturi. Karena, selain para siswa dan orangtua, warga di sekitar sekolah pun juga diundang untuk meramaikan acara itu. Kolaborasi seni Tionghoa dan wayang, keroncong dan gambang Semarang yang digelar juga menjadi akulturasi budaya yang harus diwujudkan.
''Apalagi, menyambut penerimaan siswa baru dan tahun kambing kayu ini, kami bersyukur, Sekolah Karangturi akan menempati gedung baru di Graha Padma. Harapan kami, sekolah ini menjadi lebih baik,'' katanya. (MS)

Rabu, 04 Maret 2015

Kisah Cinta hingga Pesan Kesuksesan M Hanif Dhakiri

Di negeri permai ini
Berjuta rakyat bersimbah luka
Anak kurus tak sekolah
Pemuda desa tak kerja
Mereka dirampas haknya
Tergusur dan lapar
Bunda relakan darah juang kami
Padamu kami berjanji...


LAGU berjudul Darah Juang yang biasa dinyanyikan para mahasiswa saat menggelar aksi demonstrasi membahana di depan aula IAIN Salatiga, Jalan Tentara Pelajar, di sela-sela Sarasehan dan Temu Alumni yang dihadiri Menteri Ketenagakerjaan, Muhammad Hanif Dhakiri, Sabtu (28/2/2015) siang.
Lagu yang dinyanyikan ratusan alumni dan para mahasiswa itu tidak dalam rangka menuntut kebijakan atau mengkritisi kampus yang tidak berpihak mahasiswa. Tetapi, lagu yang dinyanyikan itu untuk membangkitkan semangat para mahasiswa, alumni sekaligus mengingat kembali masa-masa Hanif Dhakiri saat memimpin aksi demonstrasi ketika kuliah di kampus itu pada 1991 hingga 1996.
Hanif Dhakiri merupakan lulusan Jurusan Bahasa Arab Fakultas Tarbiyah saat IAIN Salatiga masih berstatus sebagai Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Salatiga. Dihadapan ratusan alumni, mahasiswa dan para dosen, Hanif mengaku, kampus IAIN Salatiga adalah kampus yang paling penting dalam perjalanan hidupnya.
Di kampus itu, ia mengenal politik, mengenal banyak orang, mengenal pemikiran keislaman dan perkembangan pemikiran lainnya. Ia pun berharap, ke depan, IAIN Salatiga yang status sebelumnya adalah STAIN Salatiga, dapat berkembang dan berkontribusi bagi bangsa dan negara.
''Saya juga mengenal cinta di kampus ini. Dulu, saat saya berlatih memanjat pohon dengan tali, melihat seorang mahasiswi baru. Boleh juga ini, pikir saya. Marifah atau Ifah ini adik kelas saya, Jurusan Bahasa Arab tahun 1992, kelahiran Banyumas. Pulang kuliah, saya sering mengantar dia jalan kaki dari kampus ke kosnya di Cabean. Namanya cinta ya harus berkorban,'' tuturnya disambut tawa dan tepuk tangan.
Hanif yang pernah aktif di UKM Teater Getar, LPM DinamikA, pecinta alam Mittapasa, Racana Pramuka, Musik, HMJ maupun organisasi ektra kampus, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat dan Cabang Salatiga itu berpesan kepada para mahasiswa, selain kuliah harus ikut organisasi intra maupun ektra.
''Jangan ragu-ragu untuk untuk ikut organisasi. Sebagai mahasiswa aktifitasnya jangan terbatas kos kampus saja. Kalau terbatas, dunia kedepannya akan sempit. Kuliah tetap wajib, tetapi sunnah-nya aktif di organisasi. Jangan harap selesai kuliah langsung jadi guru atau PNS,'' tandasnya.
Dalam kesempatan itu, Hanif juga mengucapkan terimakasih kepada IAIN Salatiga yang telah membentuk karakter dan kepribadiannya hingga mendapat amanah untuk menjadi Menteri Ketenagakerjaan.
Usai memberi motivasi dan bercerita saat kuliah, Hanif berkeliling ke ruang UKM yang dahulu pernah ia tiduri dan menyapa para aktifis didampingi Rektor IAIN Salatiga, Rahmat Hariyadi, para dosen dan menyempatkan diri untuk berfoto bersama para mahasiswa yang saat ini aktif di beberapa UKM kampus itu. (MS)

Dulang Berkali-kali hingga Terkencing-kencing

Film Dokumenter tentang Nasib dan Perjuangan PRT 

"Harga kebutuhan hidup layak makin tinggi, sudah tujuh tahun bekerja, gaji saya hanya Rp 400 ribu per bulan. Padahal, transport pulang pergi Rp 7.000 setiap hari. Kalau jalan kaki, ya satu jam lamanya''

Itulah keluhan Iyem, salah satu anggota Serikat Pekerja Rumah Tangga (PRT) Merdeka dalam cuplikan film dokumenter yang diputar dalam rangka Peringatan Hari PRT Nasional di Sekolah PRT Jl Bukit Dingin C3A Nomor 19, Perumahan Permata Puri, Ngaliyan, Minggu (15/2/2015) sore.
Tak hanya Iyem, Imah, Zaenab, Yati yang menjadi "aktor" dalam film itu juga menggambarkan, kehidupan PRT sehari-hari yang disibukkan dengan benda-benda seperti sapu, serbet, pisau, pakaian kotor. Film yang dibuat di sela-sela kesibukan mereka itu juga ber
''Kami sengaja membuat film yang ala kadarnya ini untuk menyuarakan aspirasi kami agar didengar DPR dan Presiden Jokowi. Karena kami masih sangat awam menggunakan handycam, membuat film-nya pun diulang berkali-kali sampai terkencing-kencing karena belum tahu caranya menyuarakan aspirasi. Lha gimana lagi, setiap hari kami hanya memagang pisau, serbet, sapu harus menggunakan handycam,'' tutur Zaenab.
Yati, PRT asal Wonosobo yang telah 15 tahun di bekerja Kota Semarang pun mengaku, setiap penggalan film yang dibuat, selalu saja salah. Apa yang disampaikan saat kamera menyorot dirinya, ia pun sampai harus menangis teringat perjuangannya menjadi PRT selama ini untuk menghidupi keluarganya.
''Soal PRT dulu dianggap hal yang rumit dan tidak penting. Sekarang PRT adalah bagian penting dari kehidupan dan menjadi ketergantungan sebuah rumah tangga dari sistem ekonomi. Sebuah keluarga tidak akan bisa bekerja dan mendapat keuntungan tanpa PRT. Sehingga, antara keluarga dan PRT harus saling berbagi,'' tutur mantan Koordinator Eksekutif Pusat Edukasi Studi Advokasi Anak Indonesia (Perisai) Fatah Muria, usai nonton film bareng.
Uut dari Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Semarang juga menceritakan pengalamannya selama delapan tahun lebih bekerja di luar negeri. Di tengah tuntutan yang belum pernah disahkan oleh pemerintah, nasib PRT di luar negeri bahkan mengenaskan. Selain tidak pernah diakui, ketika melakukan kesalahan, mereka mendapatkan hukuman yang mengerikan, seperti cambuk dan gantung.
Ketua Serikat PRT Merdeka, Nur Khasanah pun menegaskan, betapa penting untuk mendesak dan menuntut DPR dan Pemerintah agar peristiwa kekerasan terhadap PRT tidak terulang lagi baik dari mulai awal gejalanya hingga ke bentuk ekstrim.  ''Maka stop selalu berpikir menunggu jumlah kasus, dan bertindak mencegahnya dan mendesak langkah Negara yang sistematis mewujudkan UU Perlindungan PRT dan Ratifikasi Konvensi ILO 189 Situasi Kerja Layak PRT dalam Prioritas Prolegnas 2015 dan segera melakukan pembahasan serta pengesahan segera,'' tandasnya.
Usai berdiskusi, mereka memotong roti Peringatan Hari PRT Nasional serta bertukar kado antar 30-an anggota Serikat PRT Merdeka yang hadir, kemarin. (MS)

Penjual Replika Pesawat di Kalibanteng




KECELAKAAN pesawat AirAsia QZ8501 yang mengangkut 155 penumpang akhir Desember 2014 di perairan Belitung Timur dan TransAsia Airways yang jatuh ke sebuah sungai di Taipei Taiwan Rabu (4/2/2015) membuat beberapa masyarakat takut naik pesawat terbang.
Tetapi, bagi masyarakat yang butuh bepergian ke daerah dengan waktu yang cepat dan tidak terjangkau melalui jalur darat, tentu pesawat terbang tetap menjadi pilihan alat transportasi meski kasus kecelakaan kerap terjadi.
Apalagi, melihat kontur wilayah Indonesia yang cukup bergunung-gunung menjadikan alat transportasi darat tidak cukup efektif untuk digunakan kecuali di daerah kota-kota besar yang penyediaan fasilitas jalan rayanya sudah cukup baik.
Sambil mengajak masyarakat tidak lagi takut maupun memilih pesawat terbang sebagai alat transportasi yang cepat dan nyaman, Rokidin (35) dan Salimin (37), warga Kabupaten Tegal, dalam beberapa hari ini bersama belasan pedagang lainnya berjualan replika pesawat terbang di Kawasan Kalibanteng, yang tidak jauh dari Bandar Udara Internasional Ahmad Yani.
''Kecelakaan yang terjadi itu kan satu dari berapa ribu kali penerbangan. Sehingga, kita tidak perlu takut naik pesawat. Setiap berjualan replika pesawat, kepada pengguna jalan, kami juga mengajak, agar mereka jangan takut naik pesawat,'' ujar Rokidin, kemarin.
Ada beberapa pesawat yang dijajakan Rokidin. Air Asia, Citilink, Lion Air dan Garuda Indonesia mulai dari ukuran panjang 20 sentimeter hingga 30 sentimeter. Untuk ukuran kecil, dipatok harga Rp 30 ribu. Sementara untuk ukuran besar mulai dari Rp 40 ribu hingga Rp 250 ribu. Tetapi, harga itu bisa berubah tergantung negosiasi saat terjadi penawaran kepada pembeli.
Para pedagang, menurutnya, mulai berjualan pukul 09.00 sampai pukul 17.00 dengan keuntungan yang bervariasi. Antara puluhan hingga ratusan ribu rupiah, tergantung jumlah replika pesawat terbang yang laku.
Bagi Salimin, berjualan replika pesawat terbang di kawasan yang tidak jauh dari bandara udara tentu menguntungkan. Apalagi usai ada pesawat terbang yang landing (turun) ke bandara. Tidak hanya penumpang, tetapi juga para penjemput yang membeli dagangannya. Salimin yakin, dengan memiliki replika pesawat terbang, warga tentu akan makin cinta dan memilih pesawat terbang sebagai pilihan alat transportasi.
''Kalau yang membeli anak-anak, tentu mereka kapan waktu akan meminta orangtuanya naik pesawat saat bepergian ke Jakarta, atau kota-kota besar lainnya. Intinya, jangan takut naik pesawat,'' ujarnya. (MS)

Kamis, 10 Januari 2013

Melongok Aktifitas Gerakan Semarang Berbagi

Kumpulkan Dana dan Bantu Masyarakat yang Tak Mampu

SUASANA di Panti Asuhan Cacat Ganda Al Rifdah yang ada di Jalan Tlogomulyo, Kelurahan Tlogomulyo, Kecamatan Pedurungan siang itu, Sholih (10) tengah menyuapi Rizal (16). Keduanya merupakan penyandang tuna wicara dan down syndrome (keterbelakangan pertumbuhan fisik dan mental).
Sementara, Ratman (8) penyandang tuna wicara tengah menyuapi Aris (15), juga penyandang tuna wicara dan down syndrome. Dan Temu (15) penyandang tuna wicara, down syndrome dan autis hiperaktif menyuapi Yusuf (10), penyandang tuna wicara dan down syndrome.
Setiap hari, Sholih, Ratman, dan Temu, tak hanya membantu para pengasuh panti asuhan menyuapi belasan anak-anak yang lain. Mereka juga membantu memandikan, mengganti baju, membersihkan tempat tidur, hingga menghibur anak-anak lain yang hanya tertidur lemas di atas tempat tidur dari besi itu.
''Dari 19 anak yang kami asuh, Sholih, Ratman dan Temu adalah anak yang sudah bisa mandiri. Mereka tidak hanya bisa mengurus dirinya sendiri, tetapi juga membantu teman-temannya, mulai dari makan, minum, mandi, menggantikan pakaian, dan membersihkan tempat tidur,'' tutur Rahma Faradila, pendiri sekaligus pengelola Panti Asuhan Cacat Ganda Al Rifdah.
Ibu dari Atiya Dila Karista (2) kelahiran Semarang 17 Juli 1977 itu, juga menjelaskan, beragam bantuan selama ini terus mengalir dari para donatur yang datang tak hanya dari Kota Semarang. Pasalnya, sebagian donasi yang masuk, dikelola dan diatur oleh gerakan sosial yang mengajak warga Kota Semarang dan sekitarnya untuk membantu mereka yang membutuhkan berdiri.
''Tak hanya mengumpulkan dana, mereka juga berupaya membuat panti asuhan kami menjadi berkembang lebih baik, mandiri dan berkembang dengan mengelola dana yang diterima,'' katanya.
Gerakan Semarang Berbagi, itulah namanya. Dipelopori oleh Hidayat Prasetyo (guru SMA Institut Indonesia), Kurnia Purwandini (mahasiswa FKM Undip), Atika Elfandari (karyawan swasta), Adi Susanto (kontraktor) dan berdiri pada Maret 2012, Semarang Berbagi kini telah mengumpulkan dana hingga Rp 80 juta dari para donatur.
''Kegiatan kami selain pengumpulan dana, kita juga mengenalkan kepada masyarakat melalui radio, media cetak, blog dan sosial media yang ada. Memenuhi kebutuhan panti asuhan, seperti kesehatan, makanan serta membawa masyarakat kurang mampu untuk berobat ke rumah sakit,'' tutur Hidayat, yang dipercaya sebagai koordinator Semarang Berbagi.
Fokus garapan Semarang Berbagi yang memiliki alamat blog: http://smgberbagi.blogdetik.com dan facebook : SMG Berbagi saat ini adalah memperhatikan kemajuan kesehatan anak-anak Panti Asuhan Cacat Ganda Al Rifdah serta rencana pembangunan rumah belajar di RT 4 RW 1 Kelurahan Pendrikan Lor, Kecamatan Semarang Tengah yang didirikan oleh Aisyah (39) dan suaminya, Heru Setiawan (39) yang memiliki keterbatasan fisik seperti yang diberitakan Suara Merdeka, Rabu (12/12).
''Donasi bisa disalurkan via rekening BCA Siliwangi dengan nomer rekening 246-543-0492 a.n. Hidayat Prasetyo (rekening khusus untuk #SMGberbagi). Nanti, setelah pembangunan rumah belajar selesai, kami akan fokus kembali kepada obyek yang membutuhkan bantuan,'' imbuh Kurnia Purwandini.

Dibangun Swadaya Masyarakat, Bentuk Generasi Berprestasi

PAUD Mawar V Petompon

MESKI masih berusia satu tahun, Alika tanpa malu dan ragu menirukan gerakan sang guru, ketika musik yang diputar melalui VCD Player pagi itu menyenandungkan lagu berjudul Bintang Kecil. Di tengah 30-an anak, mental bocah perempuan itu benar-benar teruji. Meski gerakannya terlambat dan salah, ia tetap saja menari di barisan paling depan.
Itulah suasana pagi di Pos PAUD Mawar V yang didirikan tiga tahun lalu oleh Paguyuban Keluarga Besar RT 2 RW V Kelurahan Petompon, Kecamatan Gajahmungkur. Di ruangan 8 x 6 meter itu, suasana keceriaan anak-anak berusia satu hingga enam tahun yang terlihat setiap hari mulai pukul 08.00 sampai pukul 10.00.
Berbeda dengan Miftakhul Khoir (3), karena usianya lebih tua dari Alika, gerakan yang dicontohkan oleh para guru pun nyaris sama. Meski masih terlihat terlambat, ia harus melihat gerakan-gerakan yang dicontohkan sang guru.
Pembina Pos PAUD Mawar V Herry Sugono menuturkan, sebelum berdiri PAUD, anak-anak di kampung yang dihuni kalangan menengah ke bawah itu sering digunakan untuk mabuk-mabukan, bermain judi dan sejenisnya.
''Agar anak-anak tidak meniru, masyarakat pun bersepakat membangun sebuah wahana pendidikan. Tidak saja PAUD, gedung itu juga digunakan sebagai Rumah Pintar dan lahan di sampingnya kita dirikan mushala. Alhamdulillah, sekarang, kegiatan mabuk-mabukan dan kemaksiatan yang lain tidak terjadi lagi,'' paparnya saat ditemui di sela-sela penilaian Lomba Administrasi PKK dan Bina Keluarga Balita Posyandu tingkat Kota Semarang.
Ketua Pos PAUD Mawar V, Watiningsih, menjelaskan, karena terpilih mewakili Kecamatan Gajahmungkur untuk lomba administrasi tingkat Kota Semarang pihaknya terus berupaya meningkatkan kualitas pendidikan. Beragam kegiatan seperti pengenalan alam, pengenalan gerakan motorik halus maupun kasar diberikan kepada para siswa.
''Dahulu, sebelum ada PAUD, anak-anak lebih sering belajar dirumah dan kurang bersosialisasi. Kita berupaya membantu perkembangan anak, dengan bahasa, bersosialisasi, sopan, dan santun. Mereka juga tidak kita pungut biaya alias gratis, dengan kesadaran orang tua, mereka memberikan infaq semampunya,'' tuturnya didampingi Ketua RT 2, Samiyem SPd.
Samiyem menambahkan, mayoritas para orang tua siswa bekerja sebagai buruh kasar, karyawan pabrik, kuli batu, dan kuli serabutan. Untuk mengembangkan gedung dan menambah alat peraga pendidikan, pihaknya mengaku baru sekali dibantu oleh Pemerintah Kota Semarang.
''Kita juga patut bangga, salah satu siswa Naffa Lathi Riyanti, sering menjadi pemenang lomba, seperti Java Fashion Contest, Lomba Mewarnai dan Melengkapi Gambar,'' ujarnya.

Kuliner Berbasis Pemberdayaan Masyarakat dan Kaum Duafa

SEMILIR angin memainkan daun-daun pohon mangga hingga membentuk suara unik. Lalu lalang sepeda motor pun dengan suara khas knalpot menambah suasana kampung yang banyak dijadikan rumah kos siang itu menjadi makin ramai.
Di sudut kampung atau tepatnya di rumah yang ada di Jalan Karangrejo 107 RT 6 RW 2 Kecamatan Gajahmungkur, beberapa perempuan tengah sibuk memasak di teras rumah yang dilengkapi tenda semi permanen, etalase konter, meja dan kursi. Ruang tamu yang ada pun disulap menjadi tempat makan lesehan. Bau sedap atau aroma bumbu yang tengah digoreng pun menusuk hidung. Jamur tiram segar yang ditata sedemikian rapi di etalase konter pun diambil oleh sang juru masak, Kasmanila (46) dan Jumiati (36).
''Silahkan, mau makan apa? Kami menyediakan aneka menu masakan berbahan dasar jamur tiram. Ada Jamur Asam Pedas Manis, Asam Pedas, Penyet, Nugeet, Kroket, Crispy,'' tutur Meike Fitrianingtyas (24), penggagas usaha yang siang itu menjadi pelayan Angkringan Jamur Petruk.
Meike menjelaskan, inspirasi angkringan jamur berasal dari Solo yang memiliki angkringan besar seperti kucingan tetapi mewah dan harganya pun murah. Nama angkringan diambil agar bisa dinikmati oleh kalangan menengah ke bawah sampai ke atas, alias bisa merakyat.
''Masakan aneka jamur biasanya disajikan di rumah makan yang bisa dinikmati oleh kalangan menengah ke atas saja, tapi disini cukup dengan Rp 6 ribu hingga Rp 8 ribu, sudah bisa menikmati masakan jamur plus minumnya,'' jelas alumni Fakultas Teknik Kimia Undip dua tahun lalu itu.
Dijelaskan pula, banyaknya janda dan kaum duafa di wilayah Karangrejo yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga hanya berpenghasilan mulai Rp 250 ribu hingga Rp 300 ribu per bulan memiliki kemampuan memasak yang nikmat.
Ditambah, MBI LAZiS Jateng juga memiliki kampung binaan di Gondoriyo dan Gedawang Banyumanik yang membudidayakan jamur berkualitas bagus.
''Semua kita kolaborasi, ibu-ibu, janda dan kaum duafa kita berdayakan untuk mengelola angkringan ini. Ke depan, bersama Bank Syariah Mandiri kita akan membuka cabang di Hotel Semesta dan daerah lainnya. Dan semua pengelolanya adalah masyarakat dan kaum duafa,'' tandasnya.
Ditambahkan, nama Petruk sendiri dimaknai karena punakawan Petruk selalu menghibur tuannya ketika dalam kesusahaan menerima cobaan, mengingatkan ketika lupa, membela ketika teraniaya.
''Petruk itu bisa momong, momot, momor,mursid dan murakabi. Ini upaya dan harapan angkringan ini akan menjadi tempat kuliner,'' jelas Meike.
Direktur Eksekutif LAZiS Jateng Arif Nurhayadi menambahkan, Angkringan Jamur Petruk menjadi produk unggulan LAZiS Jateng yang ke depan akan berdiri di seluruh wilayah Jawa Tengah dan saat ini dimulai dari Kota Semarang.
''LAZiS dalam hal ini berupaya melakukan pendampingan dan riset, sementara untuk pembiayaan konter dan peralatan, kita menggandeng dunia perbankan,'' ujarnya didampingi Koordinator Hubungan Masyarakat LAZiS Jateng, Diyah Al Furqon.

Dari Mahir Desain Grafis, Hafal Lagu hingga Mainkan 27 Gerakan Pantomim

Kami bukan produk Tuhan yang gagal,
Karena Tuhan tidak pernah gagal.
Tetapi, kami diciptakan untuk memberi inspirasi...


TULISAN poster yang dilengkapi foto Ibu Negara, Ani Yudhoyono yang hendak memeluk anak-anak berkebutuhan khusus menjadi pesan bocah kelahiran Desa Bawu Mojo, Kecamatan Batealit, Kabupaten Jepara, 5 April 1996 kepada masyarakat untuk tidak menyepelekan anak-anak yang kekurangan fisik.
Ya, Jamaludin Cahya, anak ketika dari lima bersaudara dari pasangan Mustafidah (48) dan Ssmail (55) yang sejak lahir mengalami lumpuh layu itu memang tidak boleh disepelekan. Kemampuan membuat desain grafis telah mendapat apresiasi dari perusahaan maupun pemerintah. Poster, pamflet, desain rumah, iklan maupun desain kemasan makanan ringan yang ia buat telah mendapatkan penghargaan tingkat provinsi Jawa Tengah maupun nasional.
''Anak-anak berkebutuhan khusus tidak perlu dikasihani, tetapi dari diri mereka kita akan mendapat inspirasi. Mereka ibarat batangan emas yang tertimbun lumpur,'' tutur Kepala SLB Negeri Semarang, Ciptono saat ditemui di sela-sela Pemecahan Rekor Muri, Pameran Desain Grafis Pertama Anak Lumpuh Layu dan Pagelaran Pantomim Anak Berkebutuhan Khusus di Atrium Mal Ciputra.
Ya, meski kondisi fisik cacat, bukan berarti selalu terbelakang dan semua berakhir alias tamat. Anak-anak asuhan Ciptono yang menyandang cacat fisik atau mental justru menonjol di bidang-bidang tertentu. Semisal tarik suara, daya ingat yang luar biasa, dan olahraga.
Seperti yang dilakukan Jamaludin Cahya yang siang itu didampingi guru pembimbingnya, Heru Joneth. Kurang dari 30 menit, tangannya dengan lincah memainkan mouse dan laptop mendesain rumah lantai dua dan gazebo pantai yang dilengkapi enam kursi. Belasan karya grafis seperti poster pendaftaran sekolah, cover buku pelajaran, kemasan makanan ringan, poster Gubernur Jateng dan slogan Bali Ndesa Mbangun Desa yang dipajang menjadi perhatian para pengunjung mal.
''Saya ingin menjadi seorang animator profesional dan ingin sekali membuat grafis film kartun anak-anak Indonesia,'' tutur Cahya, didampingi ibunya.
Tak hanya penampilan Cahya saja yang membuat decak kagum para pengunjung mal. Kharisma Rizky Pradana Risky Pradana (12) yang menderita autis sejak lahir dan dikaruniai daya ingat yang luar biasa itu tampil menyanyikan lagu anak-anak, pop, dangdut hingga campursari. Kharisma yang bercita-cita menjadi dokter spesialis itu juga hafal lagu daerah, kapan ia berkunjung ke Jakarta, ke Jambi, ke Kalimantan, hingga hafal kapan dia jatuh di sawah. Bahkan dengan cepat ia menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan Ciptono. Misalnya, ketika diminta menirukan iklan, menyanyikan lagu daerah dan lagu dangdut, sambil memegang microphone, Kharisma langsung menyanyi.
Usai Kharisma bernyanyi dan menjawab pertanyaan Ciptono, anak-anak SLB Negeri Semarang hingga sore hari juga menampilkan 17 judul pantomim, diantaranya Pergi ke Sekolah, Pergi ke Pasar, Memancing Ikan, dan Beli Bakso. Karena dinilai menjadi acara yang unik dan baru satu-satunya di Indonesia, Pameran Desain Grafis Pertama Anak Lumpuh Layu dan Pagelaran Pantomim Anak Berkebutuhan Khusus oleh Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri) pun dicatat sebagai rekor ke 5762 dan 5763.
''Acara ini unik dan menarik, serta baru pertama kali digelar di Indonesia. Untuk itu, kami dari Muri memberikan penghargaan dan apresiasi yang luar biasa. Semoga menjadi inspirasi masyarakat,'' pesan Manager Muri, Sri Widayati usai memberikan penghargaan.

Senin, 12 November 2012

Penjual Getuk Lindri Keliling

Dorong Gerobak 30 Kilometer Setiap Hari

Kalau sudah tiada baru terasa
Bahwa kehadirannya sungguh berharga
Sungguh berat aku rasa kehilangan dia
Sungguh berat aku rasa hidup tanpa dia
Kalau sudah tiada baru terasa
Bahwa kehadirannya sungguh berharga...


LAGU berjudul Kehilangan yang dinyanyikan oleh Raja Dangdut Rhoma Irama mengalun keras dari speaker berbentuk corong yang diletakkan diatas gerobak dorong berwarna biru putih yang didorong oleh lelaki paruh baya. Sandal jepit menjadi alas kaki lelaki yang terus mendorong gerobaknya menyusuri Jalan Raya Ungaran-Sekaran. Alunan musik dangdut terus mengalun. Warga yang hendak berangkat kerja pun beberapa terlihat ikut menganggukkan kepala sambil bergoyang saat gerobak itu melintas di depan rumahnya.
''Mas getuk, minta getuknya,'' suara perempuan berjilbab dari teras rumah berjalan pelan menghampiri lelaki yang mendorong gerobaknya dengan pelan sambil menghisap sebatang rokok.
Lagu dangdut pun berganti dengan Lari Pagi yang tetap dinyanyikan oleh Rhoma Irama. Lelaki bernama Tukiman itu pun tidak menurunkan volume amplifier yang ada di dalam bok tertutup.
Dengan sigap, tangannya mengambil beberapa potong kue berbahan dasar singkong yang dicampur dengan parutan kelapa dan gula pasir dari gerobak model akuarium. Warna-warni panganan yang dikenal dengan nama Getuk Lindri itu pun terlihat jelas. Ada coklat, merah, hijau dan campuran coklat dan hijau.
''Silahkan Bu,'' jawab lelaki kelahiran Karanggede, Boyolali 13 April 1987 itu sambil memberikan bungkusan getuk kepada perempuan bernama Yati (40) warga Kelurahan Mangunsari, Kecamatan Gunungpati.
''Saya hampir setiap hari membeli getuk lindri. Penjualnya sudah jarang sekali dibandingkan dulu. Apalagi, makanan ini sudah saya kenal sejak masih SD. Selain gurih, kenangan masa kecil selalu terbawa,'' ungkap ibu dua anak itu sambil tersenyum.
Memang tidak mudah untuk menemukan penjual getuk lindri yang khas dengan alunan musik dangdut di Kota Semarang. Karena, selain jumlahnya tak lagi banyak, pedagangnya pun tidak selalu menjajakan dagangannya setiap hari di jalur yang sama. ''Saya kadang menunggu sampai seminggu untuk bisa membeli lagi, karena memang tidak setiap hari para penjualnya keliling lewat sini,'' imbuh Yati.
Usai melayani pembeli, Tukiman pun menceritakan kisahnya berjualan getuk lindri selama tiga tahun terakhir. Berjalan sambil mendorong gerobak sejauh 30 kilometer lebih ia lakukan setiap hari dari kontrakannya di Dukuh Karanggeneng, Kelurahan Sumurejo, Kecamatan Gunungpati.
''Biasanya, saya berangkat dari kontrakan pukul 06.30. Rutenya tidak mesti melalui Sekaran. Kadang langsung menyusuri Jalan Raya Karanggeneng-Gunungpati, kadang ke Jalan Pramuka kemudian Pudak Payung dan Banyumanik,'' tutur penggemar Slank itu.
Proses pembuatan getuk tidak ia lakukan sendiri, tetapi bersama delapan saudaranya yang tinggal di kontrakan itu. Dipimpin oleh pamannya, Slamet (50) ia dan yang lainnya sebelum tidur harus mengupas singkong terlebih dahulu. Pada pukul 01.00 merebus ketela, dan tidur lagi. Pukul 03.00 kembali melepas selimut dan beranjak dari tempat tidurnya untuk membersihkan serat yang masih melekat di tengah buah singkong.
''Biasanya sampai Subuh. Setelah shalat Subuh, singkong dihaluskan dan diolah menjadi getuk. Untuk pewarnaan, kita memakai pewarna makanan yang aman. Tidak ada bahan pengawet juga, bisa dilihat dan dirasakan, ketika sore, sudah tidak layak dimakan,'' jelasnya.
Proses pembuatan pun biasanya selesai pukul 06.00. Tukiman dan teman-temannya pun mandi dan pukul 06.30 berangkat berkeliling dari kampung ke kampung untuk menjajakan getuk lindri. Setiap gerobak diisi 750 potong, dengan harga Rp 1000 per tiga potongnya.
''Kalau dari Karanggeneng sampai Sekarang itu 15 kilometer, berari pulang pergi 30 kilometer. Biasanya getuk habis setelah Zuhur, saat pulang pun biasanya saya lebih santai, karena memang kaki sudah pegal,'' ungkapnya, kemarin.
Slamet juga menceritakan, ciri khas lagu dangdut untuk menjajakan getuk lindri sudah dilakukan olehnya sejak 30 tahun lalu dengan tape recorder dan amplifier sederhana. Namun, seiring perkembangan jaman, karena tidak mau kerepotan dengan harus membolak-balik kaset, para pedagang kini menggunakan handphone untuk memutar lagu. Ada pula yang mengganti tape recorder-nya dengan VCD player.
''Ketika pulang dari jualan, accu yang digunakan sebagai sumberdaya listrik disetrum dulu tiga jam. HP yang digunakan pun tidak perlu mewah, yang penting MMC-nya besar dan tidak mudah error,'' ujarnya. *

30 Tahun Keliling Kampung Jualan Jamu

Jaga Penampilan dan Tak Gunakan Bahan Pengawet

SINAR matahari sangat terik. Debu beterbangan di Jalan Raya Mijen-Boja. Perempuan tua berkerudung hitam coklat bermotif bunga itu berjalan pelan sambil menggendong keranjang bambu yang penuh dengan botol dan jerigen. Jarik motif Sidomukti dan kebaya merah bergambar bunga yang dikenakan pun warnanya mulai kusam.
Sesekali ia harus berhenti untuk membasuh keringat yang membasahi keningnya dengan selendang yang ia gunakan untuk menggendong. Lalu, ia berjalan lagi.
Debu jalanan bercampur asap kendaraan dan teriknya matahari siang itu tak menyurutkan langkah kakinya untuk memilih berteduh. Kakinya terus melangkah menjajakan jamu racikan di kampungnya.
Itulah aktifitas Painah (72), warga Dusun Sumbersari RT 2 RW 10 Kelurahan Wonolopo, Kecamatan Mijen, Kota Semarang lebih dari 30 tahun. Pelanggannya hingga kini mencapai 100 orang lebih.
''Mbah Nah, minta jamu,'' teriak perempuan di depan rumah yang siang itu tengah menjemur pakaian.
Painah yang sering disapa Mbah Nah oleh pelanggannya itu pun tak membalas dengan kata-kata, tetapi dengan senyuman yang khas sambil melangkah pelan memasuki halaman rumah pelanggannya. Pelan-pelan, gendongannya pun diletakkan di teras rumah dengan lantai keramik warna hijau itu.
''Mau dicampur daun pepaya atau brotowali,'' tanya Mbah Nah. Perempuan bernama Sumiyati (40) itupun meminta agar dibuatkan jamu pahitan yang dicampur dengan daun pepaya.
Tak perlu menunggu lama, segelas jamu racikan Mbah Nah sudah berpindah tangan dan langsung diteguk oleh Sumiyati. Dengan sigap, Mbah Nah kembali menuangkan beras kencur ke dalam gelas yang masih dipegang Sumiyati.
''Alhamdulillah, terasa pahit tapi seger Mbah. Saya minta beras kencur dan kunir asem dibungkus saja buat anak saya yang sebentar lagi pulang sekolah,'' pinta Sumiyati.
Setelah membungkus jamu yang dipesan, beberapa lembar uang seribuan pun diterima Mbah Nah. Sebelum berpamitan, Mbah Nah berpesan kepada ibu dua anak itu untuk menjaga kesehatan dan rutin minum jamu. Ia pun kembali menyusuri kampung demi kampung yang ada di wilayah Kecamatan Mijen.
Berat gendongan jamu racikan sekitar 15 kilogram itu setiap hari ia bawa keliling kampung mulai pukul 06.30. Karena sudah memiliki pelanggan tetap, bakda Zuhur Mbah Nah yang memiliki enam putra, 25 cucu, dan enam cicit sudah bisa kembali ke rumahnya untuk istirahat.
Tak hanya Mbah Nah. Sebagian besar warga Kampung Sumbersari yang ada di Kelurahan Wonolopo itu dikenal sebagai penjual jamu keliling. Tak heran, jika masyarakat di sekitar kampung itu menyebutnya dengan Kampung Jamu, ketimbang Sumbersari.
Di sela-sela melayani pelanggannya di Perumahan Berlian Asri, Mbah Nah pun menuturkan kisah tentang Kampung Jamu.
''Sekitar 1980 seorang pedagang jamu gendong asal Solo menjajakan dagangannya di Sumbersari. Karena kemalaman dan tidak memungkinkan untuk pulang, ia menginap di rumah salah satu warga. Warga yang rumahnya dijadikan tempat menginap itu pun tertarik ikut berjualan jamu,'' tuturnya dengan Bahasa Jawa Kromo Inggil halus.
Karena saat itu mayoritas warga tidak memiliki pekerjaan tetap, kata Mbah Nah, mereka pun memutuskan untuk ikut bergabung, termasuk dirinya yang saat itu hanya bermodalkan Rp 20 ribu untuk membeli bahan jamu.
''Sekarang ada sekitar 45 warga yang jualan jamu keliling dan sudah dibentuk paguyuban. Berdirinya paguyuban itu untuk membagi daerah pemasaran agar tidak rebutan pelanggan, kewajiban untuk menjaga keaslian jamu dan tidak menyampurnya dengan bahan pengawet, menjaga penampilan dan kebersihan ketika jualan,'' paparnya, kemarin.
Ketua Paguyuban Pedagang Jamu Sumber Husodo Dusun Sumbersari, H Kholidi menjelaskan, pekerjaan sebagai pedagang jamu gendong adalah pilihan terakhir ketika warga di dusun tersebut kesulitan mencari lapangan pekerjaan.
Dengan penghasilan rata-rata per hari Rp 100 ribu, para pedagang yang tergabung dalam paguyuban itu diminta untuk selalu menjaga kualitasnya. Penggunaan bahan kimia menjadi larangan keras bagi seluruh anggota.
''Dalam pemasaran, kami sarankan untuk selalu ramah kepada pembeli, menjaga kebersihan dan menjaga penampilan,'' tandasnya. *

Roti Ganjel Rel


Paling Nikmat Dimakan dengan Es Kombor  


 MUNGKIN, dari namanya, banyak orang yang mengira makanan ini terbuat dari bantalan rel kereta api. Dinamakan Ganjel Rel karena roti ini bentuknya menyerupai ganjel rel yang berwarna kecoklatan. Bedanya, roti berwarna coklat ini diatasnya ditaburi biji wijen dan enak dimakan. Kalau bantalan rel, ditaburi kerikil dan tentunya, tidak bisa dimakan.
Ya, perjalanan waktu yang teramat panjang tak selamanya mengikis masa lalu. Kalau saja sepotong roti bantat, macam ganjel rel bisa bercerita, sangat panjang durasinya. Kebertahanannya beberapa zaman tak mengurangi kepopuleran olahan yang terbuat dari gaplek itu.
masih diingat betul oleh Hasanah Rif'an (69), ibu tujuh anak dan 10 cucu warga Kampung Pompa RT 1 RW 2 Kelurahan Kauman, Kecamatan Semarang Tengah saat masih duduk di bangku sekolah dasar. Selain sebagai makanan khas Kota Semarang, kudapan yang dibuat dengan bahan dasar gaplek, gula jawa dan rempah-rempah itu menjadi jajanan favorit ia dan teman-temannya yang lain.
''Kalau dulu, bentuknya memang lebih keras dan bantat. Rasanya juga tidak seperti sekarang, dimodifikasi dengan menambah telur dan mengganti gaplek dengan tepung terigu atau tepung tapioka,'' tuturnya.
Kenikmatan menikmati ganjel rel juga diungkapkan oleh Sarimah Shodiq (64) warga Kampung Pungkuran. Saat ia masih remaja, makan ganjel rel dicampur dengan es kombor menjadi kebiasaannya setiap hari saat jam istirahat ataupun pulang sekolah.
''Roti ganjel rel dicelupkan ke dalam semangkuk es kombor, rasanya sangat nikmat. Kalau sekarang, dicelupkan kedalam susu coklat atau putih. Karena, es kombor sudah tidak ada lagi yang jualan,'' ungkap ibu dua anak itu.
Ditemui terpisah, pembuat roti ganjel rel, Marzuki (51) warga Jalan Bangunharjo 387 B, Kelurahan Kauman menuturkan, variasi atau modifikasi cara membuat roti khas Semarang itu dilakukan untuk menarik masyarakat agar tetap menyukai ganjel rel.
''Dulu memang rasanya bantat, jarang orang yang memakannya kalau tidak mencampurnya dengan susu, es kombor atau yang lain. Kalau sekarang, bahan gabpel diganti tepung terigu atau tepung tapioka. Penambahan rempah-rempah seperti cengkeh, kayu manis dan kembang lawang tetap dipertahankan, agar rasa ganjel rel tetap asli,'' ujar bapak empat anak yang sehari-hari berjualan bahan roti di Pasar Johar dan mendapat ilmu membuat ganjel rel dari mertua dan istrinya, Aunil Fadhilah (43).
Mas Juki, sapaan akrab Marzuki, juga membeberkan cara membuat ganjel rel. Untuk membuat satu loyang berukuran 24 sentimeter x 24 sentimeter, dibutuhkan 13 butir telur yang dicampur dengan air gula jawa dan rempah-rempah yang telah dihaluskan terlebih dahulu. Setelah dikocok hingga menjadi satu, ditambahkan tepung tapioka dan tepung terigu. Setelah adonan menjadi kenyal, dituangkan ke dalam loyang. Kemudian dtaburi biji wijen dan di oles minyak goreng.
''Butuh waktu 35 menit untuk memasak ganjel rel di dalam oven. Setelah matang dan diangkat. Ganjel rel dipotong sesuai selera masing-masing,'' ungkap Mas Juki yang berharap, ganjel rel tetap menjadi makanan khas Kota Semarang.
Karena keahliannya membuat roti, Mas Juki pun dipercaya oleh Takmir Masjid Agung Semarang atau lebih dikenal dengan Masjid Kauman untuk membuat ribuan potong ganjel rel untuk dibagikan kepada masyarakat. *

Kampung Kalengan

Menjadi Pusat Produksi Kerajinan dari Kaleng

JANGAN kaget, ketika anda melintas di kampung yang ada di tepi sungai Banjir Kanal Timur ini tiba-tiba mendengar suara drum jatuh atau suara palu beradu dengan lempengan besi dengan irama yang tak beraturan dan memekakkan telinga.
Itulah ciri khas dari kampung yang dahulu menjadi sentra penjualan dan kerajinan mainan anak-anak saat dugderan pada 1960-an. Sejak beberapa tahun, perayaan menyambut ramadan dipusatkan di Pasar Johar, Jalan Agus Salim, Kauman dan sebagian Jalan Imam Bonjol.
Ya, Kampung Bugangan, kini lebih dikenal dengan nama Kampung Kalengan. Mengapa? Kampung yang ada di sepanjang Jalan Barito Raya, Kelurahan Bugangan, Kecamatan Semarang Timur itu kini menjadi usaha pembuatan beragam alat masak, seperti dandang, oven, cerobong berbahan dasar plat aluminium, stainless steel dan galfalo.
Ahmad Afandi (29), pemilik kios Rante Mas, generasi ketiga dari almarhum Kasmani menuturkan, usaha yang kini dikembangkan oleh dirinya dan enam saudaranya itu kini menjadi besar dan dikenal tak hanya warga Kota Semarang.
''Dandang dan produk lainnya seperti panci, oven, cetakan roti, kotak surat hingga ventilator udara, sudah kami jual hingga Kabupaten Kendal, Kabupaten Semarang, Salatiga, Demak, dan Purwodadi,'' tuturnya.
Dikisahkan, sebelum menjadi sentra produksi peralatan memasak, kakeknya almarhum Kasmani ketika itu hanya membuat mainan alat masak untuk anak-anak setiap Dugderan. Tawaran untuk membuat alat masak yang sesungguhnya, datang beberapa waktu setelah rutinitas berjualan di arena Dugderan selesai. Karena kekurangan tenaga setelah menerima banyak pesanan, akhirnya Kasmani mengajak saudaranya untuk membantu, termasuk ayahnya, Kasmiran (58).
Saat ini, dibantu empat saudaranya, Afandi mampu memproduksi sekitar 9 dandang besar, atau 12 buah untuk ukuran yang lebih kecil. Proses pembuatan dimulai dari sebuah lembaran aluminium. Semua dilakukan dengan proses manual, hanya dengan menggunakan tangan. Alat bantu yang digunakan juga sederhana, seperti gunting besi dan alat pembengkok besi. Untuk menciptakan sebuah bentuk dari lempeng alumunium, para pegawai memukul-mukul lempengan dengan alat tukang sederhana.
''Untuk menyatukan lempengan menjadi bentuk utuh dilakukan dengan dipukul-pukul sampai pipih, tanpa las atau lem khusus,'' katanya.
Untuk dandang dengan ukuran tinggi 60 sentimeter, Afandi mematok harga Rp 200 ribu, sedangkan ukuran besar dipatok harga Rp 750 ribu. Untuk oven ukuran kecil dipatok Rp 750 ribu, ukuran sedang Rp 1.350.000, dan ukuran besar Rp 4 juta.
Afandi juga menerima reparasi peralatan aluminium yang rusak. Untuk ongkos servis, tergantung ketebalan. Kalau lempengannya tipis, mulai Rp 20 ribu hingga Rp 30 ribu. Kalau tebal, Rp 50 ribu hingga Rp 75 ribu. Omzet per harinya, kata dia, berkisar antara Rp 200 ribu dan Rp 600 ribu.
Selain berhasil menghidupi saudaranya, usaha itu juga membuat Sutoho (45), saudara Afandi, bisa menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi, sejak dirinya menjadi karyawan di tempat itu 20 tahun lalu.
Menurut Afandi, selama enam tahun meneruskan usaha kakeknya agar berjalan lancar, dirinya menerapkan prinsip kedisiplinan, kejujuran, dan tanggung jawab baik kepada dirinya, maupun kepada karyawannya.
''Banyak saudara yang kemudian juga membuka usaha pembuatan dandang dan alat masak lainnya. Beberapa pendatang juga membuaka usaha pembuatan tong sampah dan aneka produk berbahan kaleng. Sehingga, kampung ini lebih dikenal dengan Kampung Kalengan ketimbang Bugangan,'' ungkap Afandi. *

Sejarah Warak Ngendog

 Bawa Pesan untuk Mengendalikan Diri dari Hawa Nafsu

TIDAK banyak masyarakat di Kota Semarang yang mengenal asal usul Warak Ngendog, sebuah bentuk binatang dengan kepala menyerupai naga, dengan tubuh seperti buraq, dan empat kaki yang menyerupai kambing dan leher panjang seperti jerapah.
Warak Ngendog bagi Kota Semarang sudah menjadi ikon identitas kota dan yang juga sudah dikenal oleh warga di luar Kota Semarang, termasuk luar negeri. Selain Tugu Muda yang menjadi ikon khas sejarah Kota Semarang, ada juga Warak Ngendog yang sejak jaman kolonial menjadi ikon khas kebudayaan Kota Semarang yang selalu hadir pada acara budaya seperti dugderan menjelang bulan suci ramadhan.
Perayaan dugderan itu selalu dilengkapi dengan kegiatan pasar malam yang berlokasi di Pasar Johar dan berakhir dengan karnaval dugderan yang biasanya dihiasai dengan berbagai atribut budaya yang salah satunya sangat fenomenal dengan sebutan Warag Ngedog.
''Warak Ngendok itu dimaknai dalam bahasa Arab, waro'a artinya sebuah usaha kuat untuk melawan atau menjauhi hawa nafsu. Maka digambarkan sebuah binatang dengan kaki, tubuh dan ekor yang tegang karena berusaha melawan nafsunya. Sedangkan ngendok, artinya, jika manusia sudah bisa menahan hawa nafsu atau mengendalikan diri, maka akan menghasilkan atau mendapatkan ridha dari Allah Swt. Lebih singkatnya, Warak Ngendog diartikan sebagai simbol bagi orang yang menjaga kesuciannya di bulan puasa, maka akan mendapatkan balasan pahala pada lebaran nanti,'' tutur pengurus takmir Masjid Agung Semarang Muhaimin Taslim, kemarin.
Berbeda dengan penuturan Kasirah (85) pedagang mainan Warak Ngendog yang telah 40 tahun berjualan setiap dugderan. Menurut perempuan sembilan anak dan 16 cucu itu, binatang Warak ditemukan oleh warga yang sedang babat alas di hutan yang kini menjadi Kampung Purwodinatan.
''Dari cerita itulah, warga di kampung saya kemudian membuat kerajinan Warak Ngendog dan dijual pada saat dugderan ataupun ketika ada pameran dan kirab budaya Kota Semarang,'' ujarnya saat ditemui di depan Masjid Agung Semarang.
Untuk membuat Warak, ia dibantu anaknya, Nanik (60) dengan bahan baku potongan papan yang terdiri beberapa ukuran, kertas minyak warna-warni, stereofoam, lempengan besi tipis, dan kertas bekas bungkus makanan. Dalam sehari, biasanya hanya dua sampai tiga buah Warak yang dibuat. Warak yang dibuatnya berukuran besar dan kecil. Ukuran besar setinggi satu meter, sedangkan yang kecil 75 sentimeter. Warak hasil besutannya juga disertai warak anakan.
''Kalau dulu, dibawah Warak ada telurnya, tetapi sekarang tidak ada, karena harga telur semakin mahal menjelang puasa dan lebaran. Untuk Warak ukuran anakan, ia jual Rp 15 ribu. Warak kecil, Rp 25 ribu dan yang besar Rp 35 ribu. Kerajinan seperti ini minat pembelinya sangat kecil, tahun lalu saja hanya terjual kurang dari 100 buah,'' paparnya. *

Hardi Wiyono, 30 Tahun Membuat dan Jualan Gangsingan

Tak Pernah Terpengaruh Permainan Moderen

NGUUUUUUUNGGGGGG.... Suara gangsing atau gangsingan berputar di atas meja sederhana di tengah deretan permainan tradisional lainnya. Alat permainan tradisional berbahan dasar potongan bambu yang ujung bambu ditutup dengan bulatan kayu itu terus berputar. 
Ditengah bulatan kayu terdapat sumbu berbentuk stik yang menembus di tengah dan lebih panjang dari potongan bambu utama yang ditengahnya dilubangi seperti kentongan. Besar kecilnya lubang, berpengaruh terhadap bunyi yang dihasilkan.
Untuk memainkan, pertama-tama masukkan ujung tali dalam lobang korekan, kemudian lilitkan tali tersebut ke sumbu gangsingan sebelah atas yang lebih panjang. Pegang korekan dengan tangan kiri, tarik tali kuat-kuat dengan tangan kanan, dan gangsingan akan lepas, berputar dengan cepat dan menghasilkan bunyi nguuuung.....
Dan, itulah cara Hardi Wiyono (55) bapak lima anak warga Desa Kepek RT 1 RW 5 Kecamatan Semin, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta menawarkan dagangannya di arena dugderan samping Hotel Metro Jalan Agus Salim.
Selain berjualan, Hardi juga menjadi salah satu dari seribuan perajin gangsingan, akar wangi dan seruling bambu yang ada di Desa Kepek yang telah 30 tahunan lebih mengalami suka dan duka menjadi perajin sekaligus penjual.
''Meski banyak permainan moderen merebak di tengah masyarakat, minat terhadap permainan tradisional gangsingan tetap tinggi. Setiap hari saya membuat 50 gangsingan. Khusus dugderan ini, saya membawa 1000 gangsingan. Tahun lalu, habis terjual hingga 7000 buah,'' tuturnya.
Gangsingan berukuran kecil ia jual Rp 5.000, ukuran besar Rp 6.000 per buahnya. Tak hanya saat dugderan saja, ketika tidak ada event pameran, ia menjajakan hasil kerajinannya itu berkeliling jalan kaki di Pulau Dewata.
Profesi itu juga diteruskan oleh dua anaknya, Widada (26) dan Partiman (30) yang juga ikut menggelar dagangannya di arena dugderan. Lapak untuk berjualan pun tidak berdampingan.
Saat ditemui, Widada, bapak satu anak itu mengaku sudah empat tahun membuat gangsingan dan aktif mengikuti pameran yang bekerjasama dengan Dinas Pariwisata Kabupaten Gunungkidul. Pada hari pertama dugderan, alumni SMAN 2 Wonosari 2004 itu mengaku tidak seramai tahun lalu.
''Pada dugderan 2011, hari pertama uang Rp 1 juta lebih masuk kantong. Tadi malam hanya mendapat Rp 500 ribu. Tahun lalu pula, 8000-an gengsingan yang laku,'' ungkapnya.
Widada berharap, pada dugderan kali ini, ia mampu mendapat keuntungan lebih besar daripada tahun lalu. Meski dugderan kali ini sedang musim anak-anak masuk sekolah yang membutuhkan dana yang tidak sedikit.
Memilih membeli gangsingan dibanding permainan lainnya yang dijual oleh para pedagang dugderan menjadi pilihan Junarto (35) dan Jumadi (32) warga Sekopek, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal, kemarin.
''Setiap dugderan, saya selalu membeli gangsingan. Mengingatkan masa kanak-kanak dulu. Biasanya untuk memainkan gangsingan saya tidak sendirian, tetapi bersama teman-teman yang lain untuk diadu. Yang kalah, gangsingannya jatuh,'' ungkap karyawan sebuah perusahaan mebel itu.
Hal senada juga disampaikan Nurhayati (56) warga Kelurahan Wonodri, Kecamatan Semarang Selatan. Siang itu ia memborong 15 gangsingan untuk cucunya. ''Tidak sah kalau ke dugderan tidak membeli gangsingan,'' ujarnya. *

Kampung Gendero Limo Sampangan

Dari Kolongan Bendera menjadi Nama Taman, Kampung dan Warung Makan

AZAN subuh baru saja berkumandang. Pedagang bubur ayam, penjual koran, sate ayam dan sayur keliling menggelar dagangannya di depan taman berbentuk segitiga dengan pohon beringin yang berumur belasan tahun. Aktifitas jual beli pun berlangsung cukup ramai.
Di sudut yang lain, pemilik warung makan berdinding papan dengan cat putih biru membuka kiosnya. Dua jam kemudian, pedagang bubur ayam, sate ayam dan sayur membereskan dagangannya.
Bersamaan dengan itu, pedagang ketoprak, empat tukang permak celana jins dengan mesin jahit yang diletakkan dengan kotak sederhana dan berada di atas sepeda motor dan pedagang gilo-gilo berganti menempati lahan yang ada di pinggir Jalan Menoreh Raya. Karyawan bengkel cat mobil pun memulai aktifitasnya mendempul dan mengecat bemper.
Itulah pemandangan yang terjadi di Taman Gendero Limo yang ada di wilayah Jalan Menoreh Utara XII RT 5 RW 1 Kelurahan Sampangan, Kecamatan Gajahmungkur setiap hari. Menjelang petang, pedagang yang berjualan pun berganti lagi, jagung bakar, ayam goreng, dan aneka penyetan hingga pukul 00.00. Taman yang dipenuhi papan nama dan pamflet itu kembali sepi setelah pukul 00.00.
Taman yang sebelumnya merupakan tanah kosong milik Jumirah warga RT 5 RW 1 itu diwakafkan kepada Pemerintah Kelurahan Sampangan pada 1992 pada masa kepemimpinan almarhum Heru Subroto yang saat itu menjabat sebagai lurah.
''Pemberian nama Gendero Limo, karena sebelum dibuat taman, yang pertama kali dibuat adalah lima kolongan beton berbentuk limas yang digunakan untuk memasang tiang bendera. Oleh almarhum Heru Subroto, akhirnya taman ini dinamakan Taman Gendero Limo. Pemukiman di daerah ini akhirnya juga dikenal dengan Kampung Gendero Limo,'' tutur Poni (61) warga Kampung Gendero Limo RT 3 RW 1.
Kolongan beton dengan warna merah yang mulai pudar, menurut ibu empat anak dan tujuh cucu itu biasa dipasang tiang sekaligus bendera merah putih ketika menjelang peringatan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus, Kebangkitan Nasional, Kesaktian Pancasila, Sumpah Pemuda, dan kegiatan lainnya.
''Karena tidak ada nama yang tertempel jelas di taman itu, turis asal Belanda bernama Fredy pada akhir 1992, menginginkan nama taman itu menjadi nama warung makan milik saya yang berdiri sejak 1966. Namanya, warung makan Bendera Lima,'' ujar istri dari Slamet (65) didampingi anaknya.
Ditambahkan Poni, selain menjadi nama warung makan, kampung dan taman, sebutan Gendero Limo juga menjadi patokan setiap warga hendak turun dari kendaraan umum untuk pulang atau pun ketika mengunjungi keluarga yang tinggal di Jalan Menoreh Utara IV maupun Menoreh Utara XII.

Sejarah Kampung Kintelan

Dari Kinderland, Kruntelan hingga Kintelan

RIMBUNNYA pohon Jambu Mete yang tumbuh di salah satu bukit yang kini ada di belakang kantor KPU Jawa Tengah masih diingat betul oleh bapak lima anak yang tinggal di kawasan itu sejak pertengahan 1963.
Saat ditemui, Sanyoto, lelaki kelahiran 73 tahun lalu yang akrab disapa Mbah Nyoto menuturkan, setelah diterima menjadi karyawan RSUP Dokter Kariadi, ia pun tinggal di kampung yang hanya berdiri 16 rumah saja. Selain rumah, juga telah berdiri tempat ibadah Pura Agung Giri Natha yang dibangun oleh tentara Belanda yang menjajah Indonesia saat itu.
''Tentara Belanda pernah melakukan penyerangan dengan meriam dari samping pura kepada kapal-kapal yang hendak merapat ke pelabuhan. Saat pertama kali bermukim disini, tempat dan meriam masih ada. Tapi sekarang entah kemana, saya sendiri tidak tahu, karena sudah menjadi bangunan perumahan mewah,'' tuturnya.
Seiring waktu berjalan, kawasan yang sebelumnya hutan itu pun mulai ramai digunakan untuk pemukiman warga. Rumah-rumah yang berdiri pun tidak beraturan. Kawasan yang dahulu hutan itu pun kini penuh sesak dengan rumah.
''Kalau soal nama Kampung Kintelan, ada beragam versi. Salahsatunya, karena penuh sesak oleh rumah atau kruntelan bahasa Jawanya, maka disebut menjadi Kintelan. Ada juga yang menyebut Kintelan berasal dari kintel atau katak, karena sebelum menjadi pemukiman padat, banyak dihuni katak. Tapi ada juga yang mengisahkan kawasan ini sebagai taman yang dibangun Belanda atau Kinderland,'' paparnya.
Dijelaskan pula, sebelum pemekaran wilayah, Kampung Kintelan hanya terdiri dari dua rukun tetangga (RT), RT 7 dan RT 8. Kini, kampung yang masuk wilayah RW 3 Kelurahan Bendungan, Kecamatan Gajahmungkur itu terbagi menjadi tujuh RT dengan 260-an kepala keluarga (KK). Makam yang ada di Bukit Kintelan pun kini tinggal lima buah.  
''Kantor KPU, gedung Korpri dan sebagian SD itu dulu juga makam. Jalan kampung yang dahulu kurang dari dua meter pun kini sudah lebar dan mobil bisa masuk,'' tutur Sanyoto yang pernah menjabat Ketua RT selama 17 tahun itu.
Salah satu tokoh masyarakat Kelurahan Bendungan, Imam Sucahyo (53) menambahkan, banyaknya peninggalan-peninggalan dan cerita sejarah yang ada di Kelurahan Bendungan menjadi kekayaan budaya yang harus dipertahankan. Salah satunya rumah peninggalan Belanda yang ada di Kampung Kintelan, ledeng umum yang masih berfungsi baik, jamban besar, serta rumah-rumah dengan dinding kayu jati yang kini nyaris tergantikan dengan bangunan rumah minimalis.
''Saya sendiri masih berupaya menelusuri sejarah demi sejarah, kenapa diberi nama Kelurahan Bendungan, kemudian ada Kampung Ngaglik Lama, Ngaglik Baru, Kintelan dan Gajahmungkur,'' ungkap bapak tiga anak yang juga sekretaris RT 2 RW 1 Kampung Ngaglik Lama.*

Kehidupan Kaum Syiah di Semarang

Pendam Perbedaan, Menjunjung Tinggi Kerukunan dan Saling Menghormati

SUARA azan Dhuhur berkumandang dari pengeras suara berwarna putih yang diletakkan di atas tembok pintu masuk Mushala Al Khusainiyyah Nuruts Tsaqolain yang ada di Jalan Boom Lama Nomor 2, Kelurahan Kuningan, Kecamatan Semarang Utara.
Lantunan azan juga melantun dari pengeras suara masjid-masjid yang ada di kampung itu. Suasana siang begitu terik. Beberapa warga nampak keluar dari rumah sambil membawa peralatan shalat. Seorang lelaki bersarung kotak-kotak hijau dengan baju kotak-kotak coklat hitam tanpa peci pun keluar dari mushala untuk mengambil air wudhu.
Sapaan salam pun dijawab, bapak lima anak itu pun berkenan untuk diajak berbincang. Mulyono (58), lelaki yang tinggal di Kampung Lawangireng RT 9 RW 1 Kelurahan Kuningan, Semarang Utara itu pun menceritakan sejarah singkat penganut Syiah di Kota Semarang.
''Kalau yang pertama kali mengaku sebagai penganut Syiah di Jawa Tengah adalah pimpinan Pondok Pesantren Al Qairat Bangsri Jepara, Habib Abdul Kadir Bafaqih. Kalau saya sendiri dulu memang Sunni, tapi setelah bertemu dengan tokoh Syiah dan mengkaji kitab-kitab ulama Syiah, baru saya ikut. Ada pemahaman yang kemudian sesuai dengan pikiran dan hati nurani saya,'' tutur Mulyono.
Mulyono mengaku dalam kehidupan sosial tidak ada masalah dengan warga, baik penganut Sunni, NU, Muhammadiyah atau yang lainnya. Demokrasi yang tumbuh di kampungnya membuat ia dan penganut Syiah lainnya merasa nyaman. Kegiatan pengajian rutin tiap malam Jumat dan malam Selasa seperti pembacaan doa Nabi Khidir yang diajarkan Imam Ali kepada muridnya bernama Kumail, maupun mengkaji kitab-kitab ulama Syiah pun selama ini berjalan lancar.
''Kalau Minggu sore, jamaahnya ibu-ibu. Shalat berjamaah lima waktu juga berjalan seperti mushala dan masjid lainnya, hanya kalau Maghrib dan Subuh saja yang mencapai dua shaf,'' jelasnya.
Mulyono juga menceritakan, Yayasan Nuruts Tsaqolain terbentuk bersama dengan berdirinya Mushala Al Khusainiyyah Nuruts Tsaqolain pada 1984 untuk mewadahi para penganut Syiah di Kota Semarang, khususnya di Kecamatan Semarang Utara. Hingga kini, jamaah Syiah di Kota Semarang pun semakin banyak seperti di Panggung Lor, Ngemplak Simongan, Bulu dan Pedurungan. Mereka juga bernaung dalam sebuah jamaah. ''Kalau di Panggung Lor, ada Al Hajat, di Ngemplak ada Al Murtadho,'' ungkap Mulyono.
Lalu, bagaimana dengan kehidupan sosial sehari-hari? Idrus Al Jufri (51), sesepuh Kampung Lawangireng mengaku jika kehidupan warga selama ini tidak ada masalah. Menurut lelaki keturunan Arab itu, umat Islam hanya menganut pedoman yang berasal dari Alquran dan Hadits.
''Soal ajaran, dalam Alquran sudah jelas disebutkan, lakum diinukum waliyadin, untukmu agamamu, untukku agamaku. Di kampung ini kita sama-sama menjunjung tinggi kerukunan, saling menghormati dan memendam dalam-dalam perbedaan,'' jelasnya.
Hal senada juga diakui oleh Endang Wahyuni (43). Ibu dua putra yang tinggal disamping mushala itu pun mengakui jika kerukunan antar warga tidak pernah mengenal latar belakang ekonomi maupun agama. Kehidupan yang rukun dan saling menghormati, dijunjung dan dilaksanakan semua warga. *

Air Sendang Stoom Wonotingal

Tak Lagi Mengalir Sampai Jauh

GEMERICIK air bening keluar dari pipa-pipa berukuran dua hingga tiga inci. Semilir angin pun menggesekkan daun-daun Sukun yang mengering hingga mengeluarkan bunyi yang unik. Dua perempuan renta berjalan perlahan sambil mengempit sebuah bakul yang berisi pakaian. Setelah langkah kakinya memasuki sebuah sendang yang kurang terawat, ia pun langsung merendam pakaiannya di bawah pancuran.
Suara gemericik air pun makin kencang. Perempuan tua yang lain hanya membawa ember kecil yang berisi sabun, sikat gigi dan handuk yang melingkar di kepalanya. Tanpa memandang kesibukan sekitar, di tengah sendang kecil tanpa atap penutup itu ia melepas pakaiannya dan ditutup langsung dengan jarik. Byuuuurrrrr..... air pancuran yang mengalir melalui pipa pun membasahi rambutnya yang sudah memutih.
Di pintu keluar sendang. Sebuah mobil yang mengangkut belasan jerigen berjalan mundur. Seorang lelaki keluar dan memberi beberapa lembar uang kepada seorang pemuda yang terlihat sebelumnya duduk sambil bermain handphone. Tanpa percakapan, sang pemuda itu pun membuka tutup jerigen dan menarik selang. Kemudian mengisi satu per satu jerigen itu dengan air yang mengalir dari sendang. Itulah kesibukan di Sendang Stoom yang ada di silayah RW 03 Kampung Tegalsari Stoom, Kelurahan Wonotingal yang berbatasan dengan RW 11 Kampung Candi Stoom, Kelurahan Candi, Kecamatan Candisari.
Di kanan sendang, seorang lelaki berkacamata tengah melayani seorang pembeli di warung miliknya yang sederhana. Sang pembeli itu pun berpamitan. Saat Suara Merdeka menghampiri sang pemilik warung, langsung disambut dengan ramah. Lelaki bernama Gideon Kuniman (65) yang juga Ketua RT 10 RW 3 Kelurahan Wonotingal itu pun mulai berkisah tentang Sendang Stoom yang ada di depan rumah dan warungnya.
Menurutnya, sendang yang telah ada sejak jaman penjajahan Belanda itu sebelumnya merupakan tempat penampungan air. Dan airnya dimanfaatkan untuk sirkulasi air kolam renang Stadion Diponegoro yang ada di Jalan Ki Mangunsarkoro. Setelah kolam renang ditutup dan kini menjadi Taman Kuliner Ventura, gardu air pun kemudian dirobohkan warga. PDAM dan PT Coca Cola pernah melakukan penelitian dan akan menjadikan sendang itu sebagai sumber air utama. Tetapi, karena debit air yang keluar tidak seperti yang diharapkan, rencana itupun gagal.
''Saya yakin, aliran air Sendang Stoom ini berasal dari Gunung Ungaran. Saya pernah membuka beberapa bebatuan yang ada, ternyata bukan sumber air, melainkan sungai yang mengalir di dalam tanah. Ada lobang besar dan air terjun  di dalamnya,'' tutur bapak empat anak dan satu cucu itu, kemarin.
Selain dimanfaatkan oleh warga untuk kebutuhan sehari-hari. Para pedagang air keliling menampung air dengan jerigen dan dibawa dengan mobil pikap dari sendang itu untuk dijual di warung-warung dan pedagang kaki lima yang ada di Kota Semarang.
''Per jerigen, harganya Rp 1000. Hasilnya masuk ke kas RW 3 untuk kepentingan pembangunan dan sosial. Seperti pavingisasi dan perawatan sendang,'' tandas pensiunan PT Indonesian Power yang kini juga sibuk melayani panggilan pranata adicara.
Soal nama Stoom, menurut Ketua RW 3 Iman Adi Koesno (70) diambil dari nama pabrik permen yang pernah berdiri di dekat sendang itu. Sendang yang aliran airnya tidak pernah habis maupun kering pada musim kemarau itu pada jaman dahulu airnya dimanfaatkan oleh pabrik permen Stoom.
''Setelah pabrik tutup, airnya dimanfaatkan untuk sirkulasi kolam renang Stadion Diponegoro. Karena kolam renangnya sudah tutup, aliran air dari sendang pun tak lagi mengalir sampai jauh, hanya untuk kebutuhan masyarakat saja,'' ujar bapak enam anak dan 11 cucu yang juga pensiunan PNS Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, saat ditemui di kediamannya, kemarin. *

Rebana Syahroni Mengalun Hingga Suriname

Kalau Sudah Kering, Berbunyi Ting

TUNG…tung…tung…dung! dung! dung!… dung! dung! dung!…ting...ting...ting!  Suara keras berirama terdengar ketika memasuki sebuah gang di samping Masjid Darussalam yang ada di Kampung Pongangan, Gunungpati. Seorang lelaki berkaca mata tengah mencoba menabuh beberapa bulatan kayu yang disisi atasnya terdapat kulit binatang yang masih menyisakan bulu-bulu tipis.
Satu per satu bulatan-bulatan kayu beragam bentuk dan ukuran yang dijemur di depan masjid itu ia ketuk. Syahroni (58) warga Kelurahan Pongangan RT 2 RW 1 Kecamatan Gunungpati itu pun mengambil beberapa dan membawanya ke dalam rumah yang tidak jauh dari masjid itu.
''Kalau sudah kering, diketuk suaranya ting. Kalau belum kering, masih mbek...mbek... suaranya,'' ujar Syahroni.
Ya, Syahroni, cukup dikenal sebagai perajin aneka macam rebana dan bedug beragam ukuran. Hasil produksinya, tak hanya beredar di pasaran Kota Semarang saja. Kelompok seni dari kota dan kabupaten yang ada di Jawa Tengah seperti Wonogiri, Klaten, Cilacap, Kebumen, Magelang hingga Riau, Papua, Kalimantan, dan Sumatera memercayai produk rebana hasil Syahroni sebagai produk berkualitas.
Saat ditemui, Syahroni pun mulai menuturkan usahanya. Tak hanya rebana saja yang ia buat, tambur, remo, konga, kendang, balasik dan marawis dibuat secara turun temurun, dari kakek dan ayahnya, H Salwadi Putra yang tinggal di Jalan Betengan, Kelurahan Bintoro, Kecamatan Demak Kota, Kabupaten Demak.
Sebelum memutuskan untuk menggeluti usaha itu, Syahroni pernah bekerja di Departemen Agama sebagai tenaga honorer dan hampir menjadi PNS di Pemerintah Kabupaten Demak, karena sudah berstatus calon alias capeg.
Pada 1973-1974, suami Muhimmatun (41) itu mengaku hanya menerima honor Rp 7.000 per bulan. Karena merasa dengan honor sebesar itu tidak cukup untuk membeli kebutuhan, bapak dua anak itu pun beralih pekerjaan menjadi sopir.
''Saat sibuk menggeluti profesi sebagai sopir, adik saya mengajak untuk meneruskan usaha yang selama ini dilakukan oleh ayah, yakni membuat rebana dan bedug. Untuk satu set rebana yang terdiri atas empat genjring, tiga ketiplak dan tiga gendang bas saya mematok harga mulai Rp 4,3 juta. Untuk bedug dengan diameter 100 sentimeter lengkap dengan kentongan, dipatok Rp 15 juta,'' tuturnya.
Bedug berdiameter 120 sentimeter harganya Rp 25 juta, dan berdiameter 130 sentimeter harganya mencapai Rp 30 juta termasuk kentongan dan tiang penyangga. Untuk jenis remo satu set, harganya Rp 1,6 juta, konga Rp 2 juta, dan tambur yang biasanya untuk pengiring kesenian barongsai harganya kurang lebih Rp 5 juta..
Untuk membuat seperangkat rebana maupun bedug, Syahroni membutuhkan waktu sekitar 20 hari. Ia harus memilih kayu mahoni dan nangka, serta kulit kambing dan kerbau yang berkualitas untuk menjaga hasil dan produknya digemari konsumen.
Untuk mendapatkan hasil dan kualitas suara serta tahan lama, proses pengeringan, kemudian dibasuh lagi dengan air, kemudian dipress, dilakukan berkali-kali. Kesabaran dan mampu menahan emosi, menjadi syarat wajib bagi laki-laki tiga bersaudara ini dalam menjalankan usahanya. Bahkan semakin lama proses pengerjaan, akan semakin bagus produk yang dihasilkannya itu. *

Metamorfosis Stempel di Semarang

Dari Karet Ban Truk hingga Stempel Tiga Warna

SELAMA ini, makna denotasi dari stempel adalah sebuah alat untuk mengesahkan surat, ijazah, autaran atau apapun yang perlu disahkan. Stempel juga dapat diartikan sebagai lambang atau wakil dari sebuah "keharusan" yang harus ada. Misalnya, ijazah tidak sah jika tidak distempel.
Dari beberapa sumber, asal-usul stempel berawal ketika dinasti Yin dan Shang, untuk mencegah surat atau bingkisan penting dibuka oleh yang tidak berkepentingan, diamankan dengan sebuah tali yang diberi tinta segel atau disebut fengni. Pada masa dinasti itu pula, kegiatan administrasi utamanya dalam surat-menyurat dan menutup pintu gudang, pejabat Dinasti Yin dan Shang menggunakan tinta segel.
Seiring dengan perkembangan jaman, pada masa dinasti Zhou, kegiatan pertukaran barang pun meningkat pesat. Untuk menjamin keamanan transaksi dan penyimpanan barang, mereka menggunakan keaslian stempel sebagai kunci kepercayaan transaksi.
Beberapa waktu lalu, para arkeolog dari Israel Antiquities Authority menemukan stempel keramik berusia 1.500 tahun di Horbat Uza, timur Acre, Israel. Stempel kuno temuan itu biasa digunakan untuk menandai roti yang halal. Para ahli yakin stempel itu milik pembuat roti yang menyediakan roti halal untuk Yahudi dari Acre selama periode Bizantin.
Dengan semakin majunya zaman dan berkembang-pesatnya teknologi maka bentuk stempel pun berubah dari gaya/tampilan konvensional (stempel kayu, congkel karet) ke model tampilan moderen (stempel runaflex/kristal, cetak karet).
Stempel moderen juga tidak lagi diproses secara manual, melainkan dengan menggunakan mesin (sistem komputerisasi). Sehingga lebih rapi, bersih, indah dan tajam dipandang.
Mantan Ketua Paguyuban Stempel dan Pelat Nomor Semarang Nursiyo (46), warga RT 2 RW 4 Kampung Kalicilik, Kelurahan Dadapsari, Kecamatan Semarang Utara menuturkan, sejarah masuknya stempel ke Semarang tidak diketahuinya secara persis.
Akan tetapi, berdasarkan cerita turun temurun yang ia dengar, pada 1970-an warga yang menjadi perajin stempel hanya Yanto atau dikenal dengan sebutan Yanto Medhok, Haji Basri dan Buwang. Awalnya, mereka membuat stempel berbahan dasar karet dari ban truk.
Untuk membentuk tulisan yang diinginkan pemesan, mereka membentuknya dengan pisau dan plat besi yang diruncingkan. Untuk gagang, mereka menggunakan kayu dengan ujung bulat. Karet yang sudah diukir atau dibentuk tulisan pada bagian yang tidak diukir ditempel gabus tipis atau gabus doble tip. Setelah itu, ditempel ke gagang kayu stempel.
Berawal dari pesanan yang banyak dan tak sanggup menyelesaikannya, ketiga orang itu mengajak para tetangga yang tidak melanjutkan pendidikan ke SMP atau SMA untuk membantu.
"Beliau kini sudah meninggal. Stempel buatan Yanto maupun H Basri dikenal banyak orang, bahkan staf kantor dinas dari Kabupaten Demak, Kendal, dan Kabupaten Semarang. Hasilnya rapi, halus, dan murah,'' tutur bapak empat putra dan dua cucu itu saat ditemui di kios Stempel dan Letter Universal yang ada di depan Toko D n D Collection Jl Imam Bonjol.
Untuk menjaga dan meneruskan nama besar Yanto Medhok dan Haji Basri, kata Nursiyo, para perajin yang telah memasuki generasi ketiga dan keempat hingga kini terus berusaha membuat hasil produksi tetap rapi, halus dan berkembang ke model tampilan moderen (stempel runaflex/kristal, cetak karet, stempel warna) dan tidak lagi diproses secara manual, melainkan dengan menggunakan mesin (sistem komputerisasi). Tak hanya warga Kalicilik yang kini membuat stempel dan membuka kios di sepanjang Jalan Imam Bonjol.
''Banyak warga di luar Kampung Kalicilik yang belajar di kampung itu dan kini membuka usahanya di Jalan Pemuda, Pasar Johar dan wilayah lain yang ada di Kota Semarang,'' jelas suami dari Harni Susanti (41) itu.
Dari stempel pula, selain membuka peluang usaha dan membuka lapangan pekerjaan, melalui paguyuban perajin stempel yang dibentuk telah menciptakan kerukunan dan saling kerjasama. Beragam kegiatan sosial terus dilakukan dalam rangka menumbuhkan rasa persaudaraan. Misalnya, ketika salah satu dari anggota mendapatkan musibah sakit, atau menggelar hajatan, para anggota lain saling bahu membahu untuk membantu.
''Selain stempel runaflek, stempel warna, kami juga melayani jasa variasi pelat nomor kendaraan baik motor maupun mobil, emblem, brosur, kartu nama, lencana,'' ujarnya. *