Kapal Otok-otok Cirebon "Berlayar" di Dugderan, Lho...

Masih ingat dengan mainan masa kecil berupa replika kapal laut yang terbuat dari seng? Ya, oleh pembuatnya benda tersebut dinamakan otok-otok. Tak jelas benar dari mana penggunaan nama mainan yang pernah marak pada 90-an ini. Yang pasti suara yang ditimbulkan saat menjalankan mainan tradisional ini sedikit menjawab pertanyaan.

DI tengah desakan produk mainan anak-anak yang bertumpu pada kecanggihan teknologi berupa sistem elektronik, robot otomatis maupun online melalui gadget, mainan asal Cirebon ini masih tetap diminati.
Di arena Dugderan yang ada di Kawasan Pasar Johar, Yaik, Jalan Agus Salim, maupun Jalan Pemuda penjual mainan ini mencapai 30 orang. Pembeli pun selalu menanti kehadirannya, baik itu anak-anak hingga kalangan dewasa.
Seperti diakui Haryono (40) yang datang bersama dua anak laki-lakinya. Ia sengaja datang ke arena Dugderan dari kediamannya di Sekopek, Kaliwungu, Kendal, hanya untuk membeli kapal otok-otok.
''Dua tahun lalu membeli, tapi sudah hilang entah kemana. Baik saya, maupun anak saya memang suka mainan ini. Kebetulan di depan rumah ada kolam ikan, anak-anak dan saya memainkan kapal otok-otok ini,'' ujarnya.
Kapal mainan tradisional ini, kata Haryono, pada dasarnya menggunakan prinsip tekanan uap air yang telah di panaskan oleh api kecil yang di pasang di dalam mainan kapal otok otok. Dengan perbedaan suhu akibat pemanasan di pipa kapal mengakibatkan keluar masuknya air melalui pipa knalpot kapal otok otok sebagai pendorong jalannya mainan ini.
''Apabila membeli kapal ini maka akan mendapat perlengkapan berupa corong air dan alat untuk menyalakan api yang terbuat dari kapas dan minyak "klentik" (minyak kelapa),'' jelasnya.
Ya, meskipun terkesan sudah ketinggalan zaman, pembuatan mainan ini tak lekang oleh waktu. Sentra pembuatan kerajinan otok-otok di Cirebon adalah Desa Jemaras Lor dan Jemaras Kidul Kecamatan Klangenan Kabupaten Cirebon. Oleh masyarakat di dua desa ini, usaha pembuatan mainan otok-otok telah dianggap sebagai warisan tradisi dan dilakukan secara turun temurun.
Seperti diakui Rawida (50) penjual kapal otok-otok asal Desa Jemaras Lor, Kecamatan Klangenan, Kabupaten Cirebon yang sejak sepekan lalu datang ke arena Dugderan bersama 30 teman penjual lainnya. Setiap pedagang, masing-masing membawa tiga kodi atau 60-an kapal otok-otok.
''Di Cirebon, khususnya daerah saya, makin banyak perajinnya. Pemasarannya pun sudah meluas, tidak hanya di Cirebon, tetapi ke daerah lain, seperti Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Semarang, Demak, Kudus, Lampung dan beberapa kota lain di Indonesia,'' ujar bapak lima anak tiga cucu itu.
Dalam segi pembuatan, kapal otok-otok bisa terbentuk melalui beberapa tahap, dimulai dari penyediaan lembaran seng utuh lalu dipotong sesuai desain kapal, pembuatan aksesoris, pengecatan hingga penyediaan bahan bakar berupa kapas dan minyak goreng.
Untuk ukuran kecil, kapal otok-otok dijual Rp 10 ribu, ukuran besar dijual Rp 15 ribu. Sedangkan kapal otok-otok berbentuk kapal layar, dipatok Rp 20 ribu. Secara penggunaan, mainan tradisional ini cukup mudah dan aman bagi anak-anak.
Pertama-tama nyalakan sumbu berupa kapas yang sudah dicelupkan ke dalam minyak goreng terlebih dahulu, kemudian letakkan otok-otok di atas air. Biasanya, para orang tua memainkan replika kapal ini di atas wadah semacam ember besar yang diisi air. Maka suara dan gerakannya yang memutar akan membuat anak-anak terasa terhibur. Suara "otok-otok" berulang pun akan terdengar cukup nyaring. Otok...otok...otok...(KS)

Comments

Post a Comment