Bahrudin, Penjual Kopi Giling Keliling

DENTING suara bel sepeda kuno terdengar memasuki Jalan Banteng Utara, Kelurahan Pandean Lamper, Kecamatan Gayamsari. Seorang lelaki paruh baya mengenakan topi untuk mengindari sengatan matahari yang siang itu bersinar cukup terik. Ia memasuki gang sambil mengayuh sepeda ontel tuanya dengan pelan sambil sesekali membunyikan bel.
Di bagian belakang sepeda ontelnya, nampak dua kaleng berbentuk persegi panjang di sisi kanan yang diikat sedemikian rupa. Sementara itu, pada sisi kiri terdapat mesin giling kopi kuno.
Begitu suara bel sepeda berbunyi, Santoso, warga Jl Banteng Utara pun langsung paham, jika yang datang adalah Bahrudin (58), penjual kopi giling keliling.
''Kopi Pak,'' kata Santoso.
Bahrudin pun menghentikan laju sepedanya. Dua kaleng kotak pun dibukanya. Di dalamnya, nampak biji kopi dan biji jagung berwarna coklat kehitaman dan sebotol air putih.
Ia pun mengeluarkan wadah kecil alumunium yang berfungsi sebagai tempat untuk kopi yang telah menjadi bubuk. Diambilnya biji kopi dari kaleng dan dituangkan ke mesin penggiling hingga penuh.
''Alat giling ini dulu saya beli Rp 150 ribu. Ini mesin kedua yang saya miliki. Yang lama sudah rusak. Sekali giling, kapastiasnya hanya 1,5 ons,'' tutur bapak dua anak kelahiran Petanahan, Kabupaten Kebumen itu.Bau khas kopi pun menyebar setelah Bahrudin mulai memutar tuas mesin penggiling dengan pelan. Wadah kecil alumunium pun perlahan mulai dipenuhi dengan kopi bubuk.
Beberapa saat kemudian, biji kopi yang telah selesai digiling dan menjadi bubuk pun dimasukkan ke plastik bening. Uang Rp 5.000 dan Rp 1.000 dari Santoso pun berpindah ke tangan dia.
''Ada beberapa warga yang menginginkan campuran jagung, tapi ada juga yang murni biji kopi,'' ujarnya.
Ketika berbincang dengan saya, suami dari Warjuniah (56) itu mengaku telah berjualan kopi giling sejak 1977, ketika warung kopi maupun kafe belum menjamur seperti sekarang ini.
Kopi yang ia jual pun saat itu harganya masih dipatok RP 35 per onsnya. Kini, Bahrudin yang tinggal di Kranggan Dalam RT 4 RW 1 Kecamatan Semarang Tengah itu menjualnya Rp 6.000.
''Kalau jenisnya sendiri kopi robusta, setiap hari saya hanya membawa tiga kilogram. Dulu penjual kopi giling keliling seperti saya ini ada banyak, sekarang tinggal beberapa. Dari kampung saya tinggal tiga orang, dulu ada 20 orang lebih,'' jelasnya.Bahrudin juga mengaku, setiap hari hanya keliling di wilayah Kelurahan Pandean Lamper seperti di Jl Kelinci, Jl Onta, Jl Badak dan Jalan Banteng untuk melayani warga yang telah belasan tahun menjadi pelanggan setianya. Baginya, meski kafe kopi menjamur di Kota Semarang ini, usaha yang telah ia jalani itu akan tetap bertahan.
''Usaha itu asal tekun, semua akan berjalan. Alhamdulillah, dua anak saya juag sudah bekerja di Jakarta. Jualan kopi keliling seperti ini bagi saya juga menjalin persaudaraan yang lebih banyak. Kopi bisa menyatukan semua orang, tidak mengenal pangkat dan jabatan,'' paparnya. (KS)


Comments

  1. Produk kopi yang ideal bagi para pecinta kopi adalah produk-produk yang berkualitas tinggi, sesuai dengan preferensi rasa dan kebutuhan mereka, serta mendukung nilai-nilai keberlanjutan dan etika di balik industri kopi yang ada di jualan kopi bersama

    ReplyDelete

Post a Comment