Sejarah Kelurahan Tambak Aji Kecamatan Ngaliyan

Tambak Aji merupakan salah satu kelurahan di wilayah Kecamatan Ngaliyan. Letaknya strategis, karena berada di tepi jalur pantura. Sebelum menjadi kelurahan, Tambak Aji merupakan salah satu kampung di wilayah Kelurahan Tugurejo, Kecamatan Tugu. Bagaimana sejarahnya?

SEMILIR angin membuat daun-daun pohon aren dan pepohonan besar di lereng bukit dengan kemiringan sekitar 40 derajat itu menimbulkan nyanyian alam yang khas. Sambil melambai seolah menyapa setiap yang hadir di kawasan itu.
Di bawah bukit, puluhan selang dan pipa menuju dua titik sumber air. Tidak jauh dari bangunan berbentuk sumur, ada 27 pompa air beragam merek untuk menyedot air dari dalam sumur yang tidak begitu dalam tetapi memiliki air yang bening.
Di lahan yang datar itulah, keberadaan sendang Tambak Aji berada. Sendang ini sebelumnya sepert isendang pada umumnya. Dipergunakan untuk mandi, berenang dan airnya dimanfaatkan warga sekitar untuk masak dan minum. Setelah longsor pada 1997, sendang pun ditutup dengan cor agar mata airnya tidak tertutup longsoran. Untuk tetap bisa mengambil air, dibuat beberapa lobang seperti sumur.
Dari cerita turun temurun, nama Tambak Aji dimulai dari sekitar 1931 ketika Indonesia masih dalam penjajahan Belanda. Di kawasan itu sudah ada sendang yang airnya melimpah ruah dan dipergunakan warga hingga Dukuh Garut, Dondong, Karanganyar dan Ngebruk.
Untuk menjaga kelestarian sendang tersebut, warga pun secara rutin menggelar tradisi "apitan" dengan menyembelih kambing. Darah kambing pun ditempatkan ke dalam empat takir kemudian diletakkan di empat sudut sendang. Sedangkan daging kambingnya dimasak dan dinikmati seluruh warga.
Para kyai waktu itu, diantaranya Kyai Siran, Kyai Ashari, Kyai Syarif, Kyai Nasirab, Kyai Marjuki dan Kyai Maksun, murid Mbah Abu Bakar berembug dan bersepakat, untuk memberi nama kampung itu menjadi Tambak Aji.
''Dari air sendang yang melimpah ruah itu kemudian warga bergotong royong membuat empat tambak. Para kyai pun meminta agar warga aji-aji, atau merawat sendang yang sudah dibagi empat tambak. Hingga kemudian para kyai memberi nama Tambak Aji,'' tutur Kepala Seksi Pemerintahan Kelurahan Tambak Aji, Agus Maryanto, saat ditemui di kantornya.
Tambak Aji pun sebelum 1992, merupakan salah satu kampung di wilayah Kelurahan Tugurejo, Kecamatan Tugu. Pemerintah Kota Semarang pun melakukan penataan wilayah dengan menerbitkan PP No 50 tahun 1992 dan menetapkan Tambak Aji menjadi kelurahan di wilayah Kecamatan Ngaliyan.
Sejarah Tambak Aji yang disampaikan Agus Maryanto pun diamini oleh tokoh Kampung Tambak Aji, Nasirun (40) dan Sugiman (69) bapak tujuh anak 11 cucu warga RT 9 RW 12, ketika ditemui tidak jauh dari sendang.
Untuk "nguri-uri" sejarah dan berharap air sendang tetap melimpah, setiap Dzulhijah, warga tetap menggelar apitan dengan menyembelih kambing. Sementara, setiap Rabiul Akhir, digelar haul Mbah Abu Bakar, selaku tokoh babat alas sekaligus penyebar agama Islam di wilayah Karanganyar, Bringin, Tugurejo, Tanjungsari maupun Tambak Aji sendiri.
Wilayah Tambak Aji pun kini berkembang. Selain berdiri dua kampus, juga sekitar 20-an perusahaan. Kelurahan Tambak Aji dihuni 21.059 penduduk atau 6.752 KK dan terbagi dalam 16 RW dan 126 RT. (KS)

Comments