Persewaan Tenda Djoko Tarub Berdiri Sejak 1957, Deklit Pertama Masih Disimpan

Sebelum persewaan tenda marak seperti sekarang ini dengan beragam bentuk variasi dan aksesorisnya, persewaan ini sudah berdiri lama. Hingga tiga generasi, persewaan tenda ini tetap bertahan dan justru makin berkembang. Bagaimana sejarahnya?

BANGUNAN besar di tikungan Jalan Peres 143, Kelurahan Purwosari, Kecamatan Semarang Utara, Rabu (4/1) siang itu tak ada aktifitas. Ketika saya memasukinya, nampak beberapa pekerja tengah bersantai diantara tumpukan tenda dan lembaran papan.
Di dalam gedung, tak hanya tumpukan tenda dan papan, tetapi kerangka besi yang tersusun rapi. Ada pula yang masih berada di atas bak truk dan belum dibongkar atau diturunkan. Seorang dari pekerja pun mendatangi saya dan menanyakan maksud kedatangan. ''Silahkan masuk, Bapak ada di dalam,'' katanya.
Seorang lelaki berambut hampir putih seluruhnya pun menyapa ramah dan mempersilahkan untuk duduk. Tukul (67), begitulah nama pemilik persewaan tenda Djoko Tarub.
Ya, nama Djoko Tarub bagi warga Kota Semarang dan sekitarnya tidaklah asing. Tempat persewaan tenda untuk pesta pernikahan, acara pameran, maupun upacara itu sudah dikenal lama. Karena, memang menjadi salah satu persewaan tertua yang hingga saat ini masih bertahan.
Bapak enam anak dan lima cucu itu pun menuturkan, usaha persewaan tenda dirintis oleh sang bapak, almarhum Kalut. Kala itu, tenda yang sangat sederhana. Tiangnya terbuat dari bambu dengan panjang empat meter. Ketika ada pesanan, sang ayah dibantu tiga orang untuk memasangnya. Sedangkan untuk membawanya dari rumah, menggunakan gerobak.
''Deklit yang dulu dipakai bapak pun sampai sekarang masih saya simpan. Untuk kenang-kenangan. Warnanya abu-abu, ukurannya 6 x 8 meter. Dulu, antara deklit dan bambu memasangnya hanya diikat dengan tali yang terbuat dari bambu juga. Jadi, setiap ada pesanan, harus membuat tali dari bambu dulu,'' tuturnya.
Sebelum membeli tanah di Jalan Peres, usaha sang bapak dirintis di rumahnya Kampung Batan. Kemudian pada 1960-an pindah ke Kampung Sebandaran. Kemudian pindah ke Jalan Peres mulai 1985. Sang bapak pun mulai mengganti tiang tenda dengan kayu jati. baru pada 1975, menggunakan besi untuk tiang maupun rangka atap.
''Kalau memakai bambu, satu unit butuh waktu satu jam untuk memasangnya. Sekarang, memakai besi sudah lebih cepat. Apalagi, sekarang ditambah variasi plafon dengan kain warna-warni sesuai selera pemesan,'' ujarnya.
Usaha yang kini diteruskan oleh anaknya, Depi Hartono, telah memiliki 50-an unit dan bisa dipakai di atas lahan seluas 3.000 meter persegi. Para penyewa tidak hanya datang dari warga Kota Semarang, tetapi juga dari Solo, Cilacap, Wonogiri, Yogyakarta hingga Kalimantan.
Tukul juga menceritakan, ketika belum memiliki armada, persewaan Djoko Tarub menggunakan nama Guei Kuen Hian, nama armada sekaligus nama pemilik angkutan yang sering dipakai untuk antar jemput tenda.
''Nama Djoko Tarub sendiri dipakai pada 1972, karena saat itu, ketika membawa tenda, sering dikejar polisi. Alasannya, Guei Kuen Hian sudah pulang ke Amerika,'' jelasnya.
Selain Djoko Tarub, persewaan tenda yang berdiri di tahun yang sama dan cukup dikenal adalah milik Taslim yang ada di Boom Lama. Akan tetapi, sekarang sudah tidak lagi menyewakan. Hanya Djoko Tarub yang masih bertahan.
Pada acara resmi, tenda Djoko Tarub juga sering dipakai pada masa gubernur Munadi, Soepardjo Rustam hingga Ismail. Jumlah karyawannya pun kini mencapai 12 orang dan telah memiliki armada truk sendiri. Harga per unitnya pun mulai Rp 150 ribu hingga Rp 350 ribu. (KS)

Comments