Sendang Pengantin di Gombel Lama

Kawasan Gombel tidak hanya dikenal tentang legenda hantu Wewe saja. Tetapi, di wilayah itu juga terdapat kisah tentang sepasang pengantin yang mandi di sebuah sendang, kemudian hilang. Hingga tempat itu dinamakan Sendang Pengantin. Bagaimana kisahnya?

GEMERICIK air terdengar cukup pelan ketika saya menginjakkan kaki di sebuah lahan di sebuah lembah kecil yang dipenuhi pohon pisang maupun beberapa pohon besar lainnya, Rabu (30/11) siang.
Jalanan setapak yang becek, hanya sebagian ditumbuhi rumput dan beberapa sampah plastik membuat kaki melangkah harus berhati-hati agar tidak terperosok lumpur yang licin. Meski berada di tepi Jalan Gombel Lama yang beraspal, jalan yang mengakses ke rumah warga di wilayah RT 3 RW 6 Kelurahan Tinjomoyo itu masih tetap jalan tanah.
Sampai di lembah, terlihat beberapa petak kolam ikan milik Mulyono (40) yang airnya mengalir dari sumber utama berupa bangunan tembok beratap berukuran 3 meter X 4 meter. Meski terlihat tidak jernih, aliran air terlihat stabil. Memasuki bangunan bertembok yang dibagi untuk tempat mandi perempuan dan laki-laki di sisi selatan, terlihat aliran air bening secara perlahan memenuhi penampungan.
''Sendang ini dinamakan Sendang Nganten, atau Pengantin. Dulu, ada sepasang pengantin yang belum "sepasar" mandi disini, tiba-tiba hilang. Keluarganya pun sempat mencari, termasuk warga, tetapi tidak ditemukan. Ranjang pengantin yang ada dirumah pun dibuang kesini, dan berubah menjadi batu. Warga menyebut, Batu Kasur,'' tutur Mulyono.
Mulyono yang mengaku mendapat cerita dari almarhum bapaknya Rebo, menunjukkan batu kasur yang tertutup semak belukar serta sendang yang airnya sering diambil oleh warga Solo, Yogyakarta maupun warga Tionghoa untuk keperluan sesaji menjelang pesta pernikahan dan lainnya.
''Kalau warga sekitar, ketika air PDAM mati, memanfaatkan sendang untuk mandi dan air minum. Karena, sendang ini, meski masuk musim kemarau, airnya tidak pernah kering, terus mengalir,'' ujar bapak satu anak itu.
Untuk melestarikan sekaligus menjaga sendang, Mulyono pun mendirikan pemancingan yang ia beri nama Pemancingan Sendang Nganten. Ia menyediakan ikan gurami, kalper, bawal, lele dan nila untuk dipancing.
Ditemui terpisah, Parjono (55) dan Sumirah (57) juga menuturkan hal yang sama terkait sejarah Sendang Pengantin yang kala itu ada sepadang pengantin yang mandi di sendang kemudian hilang tak berbekas.
Cerita tentang sendang pun hanya diketahui oleh kalangan orang tua. Pasalnya, beberapa tahun, Jalan Gombel Lama ditutup dan menjadi tempat pembuangan sampah. Sehingga, ketika jalur itu diaktifkan kembali, selalu longsor, karena lahan diwilayah itu sebelumnya menjadi tempat pembuangan akhir.
''Kalau pemerintah mau turun tangan dan perhatian, Sendang Pengantin bisa menjadi obyek wisata sejarah. Infrastrukturnya dibangun, tentu akan menjadi daya tarik wisatawan,'' harap Parjono yang juga pensiunan sopir truk sampah, kemarin. (KS)

Comments