Warung Makan Haji Basuki Jl Abdulrahman Saleh 72 Berdiri Sejak 1965, Pelanggan Datang Cium Tangan

Peta kuliner di Kota Semarang kian berkembang pesat sejalan dengan tingginya minat masyarakat menjelajahi dunia yang satu ini. Berbagai menu baru dari restoran dan kafe, kini digencarkan lewat berbagai macam media promosi, mulai dari media cetak, selebaran yang dibagikan di lampu lalu lintas hingga sosial media seperti Facebook, Twitter, Path hingga Instagram. Tapi, ada pula yang masih tetap bertahan sejak dulu tanpa gencar berpromosi.

KETIKA melintas di Jalan Abdulrahman Saleh dari arah Kalibanteng, kebanyakan masyarakat mungkin tidak tahu letak warung makan ini. Karena, meski letaknya di tepi jalan, akan tetapi bangunannya menjorok ke dalam terhalang sebuah bangunan. Jika dari arah Manyaran, warung di kanan jalan itu akan kelihatan.
Ya, Warung Makan Haji Basuki. Berdiri sejak 1965 dan awalnya hanya berupa lapak sederhana dari bambu sebagai tiang untuk menopang atap plastik dan meja kayu untuk meletakkan masakannya. Letaknya pun saat itu berada di depan Museum Jawa Tengah Ronggowarsito. Akan tetapi, mulai 1983 pindah ke Jalan Abdulrahman Saleh 72.
''Pada 1980-an, diusir oleh tentara. Kalau tidak mau pindah, dicap PKI. Akhirnya warung pindah ke Jalan Abdulrahman Saleh Nomor 72 sekarang ini, yang saat itu masih kebun bambu. Kemudian dibangun rumah sekaligus warung makan,'' tutur Poni Sriatun (87), pemilik Warung Makan Haji Basuki.
Ketika ditemui, ibu 13 anak, 27 cucu dan empat cicit itu menjelaskan, selera masyarakat terhadap hidangan tradisional tetap tak pernah bergeser. Sejak berdiri 51 tahun lalu, para pelanggannya tetap berkunjung dan mengajak serta anak dan cucunya. Ketika sang pelanggan lama sudah tiada, berganti anak atau sang cucu sebagai pelanggan tetapnya.
Soal resep, Poni pun mengaku tetap mempertahankannya. Khususnya untuk masakan khas tradisional yang sejak dulu dijual. Seperti masakan dari belut, kakap, mujahir dan lele serta masakan unggulan asem-asem ikan kakap manis. Dalam menyajikan menu, Poni pun memisahkan nasi dan sayur dengan wadah yang berbeda.
Poni yang ditinggal suaminya meninggal dunia pada 1999 itu dibantu keponakannya, Catur Awan Yulianto (30) dan adik kandungnya, Supartinah (64) membuka warung makan mulai pukul 08.00 sampai pukul 16.00. Poni yang lebih akrab disapa nama suaminya, Bu Hajah Basuki juga mengakui, setiap pengunjung yang menikmati santapan yang memadukan kombinasi cita rasa manis, asam dan pedas, istilah "makan pasti gembrobyos" dilontarkan pelanggannya.
''Bahkan saking sudah akrabnya, dan mereka menganggapnya sebagai keluarga, para pelanggan yang datang selalu cium tangan kepada saya ketika mereka datang. Dan itu sudah terbiasa dilakukan para pelanggan sejak dulu,'' ujarnya.
Seperti yang dilakukan Junantio (46) warga Jomblang dan Suwardi (50) warga Kaliwungu, Kendal ketika berkunjung bersama keluarganya, kemarin. Setelah memarkir kendaraannya, mereka pun langsung masuk ke warung yang cukup luas itu. Ketika Poni muncul dari ruang belakang, tanpa dikomando, mereka langsung bersalaman dan mencium tangan perempuan yang sehari-hari mengenakan jilbab itu.
''Saya sudah menjadi pelanggan, termasuk keluarga sejak belasan tahun lalu. Menu masakan Mbah Basuki yang mengombinasikan antara manis, asem, gurih dan pedas ini tiada duanya. Apalagi, dalam memberikan pelayanan, seperti orangtua sendiri. Jadi serasa makan dirumah, meski tetap harus membayar dong,'' ujar Suwardi, kemarin. (KS)

Comments

Post a Comment