Sejarah Warak Ngendog

 Bawa Pesan untuk Mengendalikan Diri dari Hawa Nafsu

TIDAK banyak masyarakat di Kota Semarang yang mengenal asal usul Warak Ngendog, sebuah bentuk binatang dengan kepala menyerupai naga, dengan tubuh seperti buraq, dan empat kaki yang menyerupai kambing dan leher panjang seperti jerapah.
Warak Ngendog bagi Kota Semarang sudah menjadi ikon identitas kota dan yang juga sudah dikenal oleh warga di luar Kota Semarang, termasuk luar negeri. Selain Tugu Muda yang menjadi ikon khas sejarah Kota Semarang, ada juga Warak Ngendog yang sejak jaman kolonial menjadi ikon khas kebudayaan Kota Semarang yang selalu hadir pada acara budaya seperti dugderan menjelang bulan suci ramadhan.
Perayaan dugderan itu selalu dilengkapi dengan kegiatan pasar malam yang berlokasi di Pasar Johar dan berakhir dengan karnaval dugderan yang biasanya dihiasai dengan berbagai atribut budaya yang salah satunya sangat fenomenal dengan sebutan Warag Ngedog.
''Warak Ngendok itu dimaknai dalam bahasa Arab, waro'a artinya sebuah usaha kuat untuk melawan atau menjauhi hawa nafsu. Maka digambarkan sebuah binatang dengan kaki, tubuh dan ekor yang tegang karena berusaha melawan nafsunya. Sedangkan ngendok, artinya, jika manusia sudah bisa menahan hawa nafsu atau mengendalikan diri, maka akan menghasilkan atau mendapatkan ridha dari Allah Swt. Lebih singkatnya, Warak Ngendog diartikan sebagai simbol bagi orang yang menjaga kesuciannya di bulan puasa, maka akan mendapatkan balasan pahala pada lebaran nanti,'' tutur pengurus takmir Masjid Agung Semarang Muhaimin Taslim, kemarin.
Berbeda dengan penuturan Kasirah (85) pedagang mainan Warak Ngendog yang telah 40 tahun berjualan setiap dugderan. Menurut perempuan sembilan anak dan 16 cucu itu, binatang Warak ditemukan oleh warga yang sedang babat alas di hutan yang kini menjadi Kampung Purwodinatan.
''Dari cerita itulah, warga di kampung saya kemudian membuat kerajinan Warak Ngendog dan dijual pada saat dugderan ataupun ketika ada pameran dan kirab budaya Kota Semarang,'' ujarnya saat ditemui di depan Masjid Agung Semarang.
Untuk membuat Warak, ia dibantu anaknya, Nanik (60) dengan bahan baku potongan papan yang terdiri beberapa ukuran, kertas minyak warna-warni, stereofoam, lempengan besi tipis, dan kertas bekas bungkus makanan. Dalam sehari, biasanya hanya dua sampai tiga buah Warak yang dibuat. Warak yang dibuatnya berukuran besar dan kecil. Ukuran besar setinggi satu meter, sedangkan yang kecil 75 sentimeter. Warak hasil besutannya juga disertai warak anakan.
''Kalau dulu, dibawah Warak ada telurnya, tetapi sekarang tidak ada, karena harga telur semakin mahal menjelang puasa dan lebaran. Untuk Warak ukuran anakan, ia jual Rp 15 ribu. Warak kecil, Rp 25 ribu dan yang besar Rp 35 ribu. Kerajinan seperti ini minat pembelinya sangat kecil, tahun lalu saja hanya terjual kurang dari 100 buah,'' paparnya. *

Comments

  1. Wah...kalau kami Kandanknya. Tidak pakai ngendok.
    https://www.kandankwarak.com/2020/03/kandak-warak.html

    ReplyDelete

Post a Comment