Gereja St Yusup Gedangan Pernah Roboh, Batu Bata Diimpor dari Belanda

ARUS lalu lintas di Jalan Ronggowarsito, cukup lengang. Hanya beberapa sepeda motor dan mobil. Jika dihitung tiap menit, kurang dari 10 kendaraan yang melintas.
Lelaki tua nampak tertidur pulas di atas becak yang diparkir di bawah pohon tepat di depan sebuah gedung berbentuk artistik dan anggun dengan warna yang didominasi oleh bata merah alami.
Ketika saya memasuki kawasan gedung yang memiliki halaman luas itu, seorang lelaki yang tengah membersihkan daun-daun yang berguguran dengan sapu lidi menyapa dengan ramah. Ia pun menunjukkan kemana saya harus memarkir kendaraan sekaligus letak kantor pengurus.
Gereja Santo Yusuf atau St. Yoseph atau Gereja Gedangan, begitulah orang menyebut bangunan bergaya kolonial ini. Di bagian dalam gereja seluruhnya juga masih asli dan sangat terawat.
Dikutip dari buku Sejarah Gereja St Yusup Gedangan dalam rangka Peringatan 125 Tahun Gedung Gereja 12 Desember 1875-12 Desember 2000, gereja St Yusup Gedangan ini merupakan cikal bakal gereja Katolik di Indonesia.
Peletakan batu pertama dilakukan oleh Pastoor Lijnen pada 1 Oktober 1870. Pada 1873 usuk atap pun sudah terpasang, tetapi pada 2 Mei, atap tersebut runtuh karena tiang terbuat dari batu bata berkualitas rendah.

Akhirnya, tembok dan tiang yang runtuh pun dibangun kembali dengan batu bata yang diimpor dari Belanda. Ubin lantai sendiri merupakan sumbangan dari perusahaan keramik Regout dari Maastricht, Nederland.
Patung Empat Tokoh Agung dari Perjanjian Lama dan Baru yang didatangkan dari Jerman pada 1880, yakni Abraham, St Petrus, St Paulus, dan Imam Melkisedek menghiasi altar lama di atas Tabernakel (tempat penyembahan).
Orgel pipa (alat musik gerejawi) yang menunjang Liturgi (upacara) juga masih terlihat kokoh. Kualitas suara dari alat musik ini sangat khas, yakni sendu dan merdu, serta tidak banyak gereja yang memilikinya.
Menurut staf gereja yang telah mengabdi selama 23 tahun, Mulyani, alat musik itu pernah diperbaiki pada tahun 1993, namun tidak dapat difungsikan maksimal karena telah dimakan usia.
Yang cukup menarik, di salah satu sudut ruangan gereja terdapat Patung Hati Kudus Yesus, terbuat dari kayu berdiri di atas nisan Mgr Lijnen (pendiri gereja) yang konon berhasil diselamatkan dari pekuburan Kobong yang tidak terawat. Di tempat itu dahulu bejana baptis terletak.
Ukiran 14 stasi Jalan Salib Tuhan menghiasi dinding kanan dan kiri gedung menjadi sebuah karya seni yang indah. Ukiran itu menceritakan bagaimana perjalanan Yesus mulai diadili oleh Raja Pilatus, disiksa, terjatuh hingga disalib.
Di sisi atas altar ruang gereja terdapat art-glass yang sudah berusia ratusan tahun, menekankan pada figur St Yusuf sebagai pelindung Gereja Katolik Gedangan.
Secara urut dari sisi kanan altar, gambar di jendela tersebut menggambarkan Keluarga Kudus (Yesus Kristus, Bunda Maria, dan Yusup) dalam perjalanan ke Mesir, kehidupan sehari-hari Keluarga Kudus dan wafat St Yusuf.
Gereja ini memiliki dua buah lonceng yang dibunyikan setiap setengah jam sebelum misa dimulai. Kedua lonceng itu memiliki ukuran yang berbeda. Lonceng besar (tinggi 93,5 cm dan diameter lubang bawah 90 cm) dan lonceng kecil (tinggi 75 cm, diamater lubang bawah 70 cm). Keduanya terbuat dari bahan besi cetak atau cor dengan ketebalan 7-8 cm untuk lonceng besar dan 5-6 cm untuk lonceng kecil.
Di dalam lonceng tersebut terdapat tahun pembuatan, yakni April 1882 dan dibuat oleh perusahaan Petit en Fritsen di Aaerle Riktel dan dikirim melalui kapal dari Rotterdam. Dari lonceng tersebut juga tertera nama Joseph Andrieux, yang dalam buku sejarah gereja, dia adalah anak dari Ludovicus A Andrieux dan Catharina FE Marquise yang lahir pada 27 Maret 1823 dan sudah dibabtis di Semarang.
''Dulu, di menara gereja terdapat jam menara yang bisa terlihat setiap orang yang melewati gereja. Sistem mesin jam menara tersebut tersambung dengan lonceng kecil, sehingga dapat berbunyi setiap setengah jam. Tapi, jam tersebut kini harus diturunkan karena sistem mesin dan jarum-jarum jam digantikan dengan tulisan IHS seperti sekarang ini,'' katanya.
Adapun penggantian jam menara tersebut dilakukan sekitar tahun 1978 oleh Romo J Van Waijenburg SJ. Huruf IHS tersebut sebenarnya merupakan tiga huruf pertama dari nama Yesus seperti tertulis dalam abjad Yunani. Dalam bahasa Latin diartikan Iesus Hominum Salvator yang berarti Yesus Penyelamat Manusia.
''Yang sudah tidak ada diantaranya mimbar di tengah, karena dulu tidak ada speaker, khotbah dilakukan di tengah. Keramik dari belanda juga sudah ditutup dengan keramik baru. Jalan di depan gereja dulu lebih rendah, tetapi karena sering rob, sekarang halaman geraja dan jalan lebih tinggi jalan,'' imbuh Mulyani. (KS)




Comments