Jamu Jun Karsipah di Pasar Gang Baru

"Rasa Jamu Jun itu kompilasi antara segar, manis, legit, hangat dan pedas. Enak dikonsumsi ketika musim hujan. Apalagi ketika tubuh kita membutuhkan penghangat, jamu ini berkhasiat juga ketika kita sedang masuk angin. Harganya pun sangat terjangkau."

ITULAH komentar Yunita (35) warga Pekojan yang sepekan dua kali membeli Jamu Jun yang dijual Karsipah (50) warga kelahiran Desa Poncoharjo, Kecamatan Bonang, Kabupaten Demak di Pasar Gang Baru, Kawasan Pecinan, Kota Semarang, suatu pagi.
Bagi ibu dua anak itu, Jamu Jun tidaklah sama dengan jamu-jamu pada umumnya yang identik memiliki rasa pahit dan aroma khas rempah-rempah seperti kencur, brotowali, kunyit, sambiloto, sirih, temulawak, widoro laut dan daun pepaya. ''Bahan-bahan seperti tepung ketan, kelapa, gula merah, jahe, gula pasir, daun pandan, santan membuat rasa dan tampilan menjadi berbeda,'' tuturnya.
Dari penuturan Karsipah, Jamu Jun merupakan minuman asal Jepara. Ada pula yang menyebutnya, berasal dari Demak. Sekitar 40-an tahun yang lalu, warga Jepara yang berjualan Jamu Jun beramai-ramai datang ke Semarang untuk mengadu nasib. Alhasil, penjualan Jamu Jun di Kota Semarang pun berkembang pesat , sehingga diklaim menjadi minuman khas Kota Semarang.

''Kalau soal nama, disebut jamu karena menggunakan beberapa bahan yang dipakai untuk membuat jamu sedangkan Jun dari kata "junjang-junjung", dalam Bahasa Indonesia artinya di angkat-angkat. Kalau menurut saya, karena minuman ini dulu ditaruh di dalam semacam kuali tanah liat. Orang menyebut kuali itu dengan jun atau kenthi,'' papar ibu enam anak dan 9 cucu yang telah 25 tahun berjualan Jamu Jun, kemarin.
Untuk mengolah Jamu Jun, Karsipah memasak terlebih dahulu tepung beras ketan kemudian mencampurnya dengan gula jawa, gula pasir, daun pandan dan santan serta 18 jenis rempah-rempah yang biasa disebut sariwangi batanget diantaranya serai, jahe, merica dan kayu manis. Untuk campuran penyajian, ditambah bubuk merica dan selo (bubuk putih herbal) serta krasikan atau bola-bola kecil yang dibuat dari parutan kelapa, gula jawa, jahe dan tepung ketan.
Setelah seluruh adonan selesai dimasak, jun yang penuh dengan adonan pun diletakkan ke dalam keranjang bambu. Ia pun berangkat ke Pasar Gang Baru pada pukul 05.30 dari rumah kontrakannya di Jalan Sukolilo berjalan kaki. Untuk satu mangkuk kecil, Karsipah yang telah menjanda selama 15 tahun itu memberi patokan harga Rp 3.000 kepada konsumennya.
''Biasanya, jam 11.00 sudah habis. Kemudian, sore masak lagi untuk jualan keliling di daerah Pedamaran, Pasar Johar sampai Kranggan. Pelanggan saya yang rutin warga Tionghoa. Mereka suka sekali dengan Jamu Jun,'' jelasnya.
Meski saat ini, jumlah penjualnya tidak banyak, Karsipah berharap, 10-20 tahun lagi, Jamu Jun yang telah dikenal sebagai minuman khas Semarang tidak punah. Ada yang berminat menjual Jamu Jun? Karsipah siap membagi ilmunya. (MS)

Comments