Melongok Aktifitas Gerakan Semarang Berbagi

Kumpulkan Dana dan Bantu Masyarakat yang Tak Mampu

SUASANA di Panti Asuhan Cacat Ganda Al Rifdah yang ada di Jalan Tlogomulyo, Kelurahan Tlogomulyo, Kecamatan Pedurungan siang itu, Sholih (10) tengah menyuapi Rizal (16). Keduanya merupakan penyandang tuna wicara dan down syndrome (keterbelakangan pertumbuhan fisik dan mental).
Sementara, Ratman (8) penyandang tuna wicara tengah menyuapi Aris (15), juga penyandang tuna wicara dan down syndrome. Dan Temu (15) penyandang tuna wicara, down syndrome dan autis hiperaktif menyuapi Yusuf (10), penyandang tuna wicara dan down syndrome.
Setiap hari, Sholih, Ratman, dan Temu, tak hanya membantu para pengasuh panti asuhan menyuapi belasan anak-anak yang lain. Mereka juga membantu memandikan, mengganti baju, membersihkan tempat tidur, hingga menghibur anak-anak lain yang hanya tertidur lemas di atas tempat tidur dari besi itu.
''Dari 19 anak yang kami asuh, Sholih, Ratman dan Temu adalah anak yang sudah bisa mandiri. Mereka tidak hanya bisa mengurus dirinya sendiri, tetapi juga membantu teman-temannya, mulai dari makan, minum, mandi, menggantikan pakaian, dan membersihkan tempat tidur,'' tutur Rahma Faradila, pendiri sekaligus pengelola Panti Asuhan Cacat Ganda Al Rifdah.
Ibu dari Atiya Dila Karista (2) kelahiran Semarang 17 Juli 1977 itu, juga menjelaskan, beragam bantuan selama ini terus mengalir dari para donatur yang datang tak hanya dari Kota Semarang. Pasalnya, sebagian donasi yang masuk, dikelola dan diatur oleh gerakan sosial yang mengajak warga Kota Semarang dan sekitarnya untuk membantu mereka yang membutuhkan berdiri.
''Tak hanya mengumpulkan dana, mereka juga berupaya membuat panti asuhan kami menjadi berkembang lebih baik, mandiri dan berkembang dengan mengelola dana yang diterima,'' katanya.
Gerakan Semarang Berbagi, itulah namanya. Dipelopori oleh Hidayat Prasetyo (guru SMA Institut Indonesia), Kurnia Purwandini (mahasiswa FKM Undip), Atika Elfandari (karyawan swasta), Adi Susanto (kontraktor) dan berdiri pada Maret 2012, Semarang Berbagi kini telah mengumpulkan dana hingga Rp 80 juta dari para donatur.
''Kegiatan kami selain pengumpulan dana, kita juga mengenalkan kepada masyarakat melalui radio, media cetak, blog dan sosial media yang ada. Memenuhi kebutuhan panti asuhan, seperti kesehatan, makanan serta membawa masyarakat kurang mampu untuk berobat ke rumah sakit,'' tutur Hidayat, yang dipercaya sebagai koordinator Semarang Berbagi.
Fokus garapan Semarang Berbagi yang memiliki alamat blog: http://smgberbagi.blogdetik.com dan facebook : SMG Berbagi saat ini adalah memperhatikan kemajuan kesehatan anak-anak Panti Asuhan Cacat Ganda Al Rifdah serta rencana pembangunan rumah belajar di RT 4 RW 1 Kelurahan Pendrikan Lor, Kecamatan Semarang Tengah yang didirikan oleh Aisyah (39) dan suaminya, Heru Setiawan (39) yang memiliki keterbatasan fisik seperti yang diberitakan Suara Merdeka, Rabu (12/12).
''Donasi bisa disalurkan via rekening BCA Siliwangi dengan nomer rekening 246-543-0492 a.n. Hidayat Prasetyo (rekening khusus untuk #SMGberbagi). Nanti, setelah pembangunan rumah belajar selesai, kami akan fokus kembali kepada obyek yang membutuhkan bantuan,'' imbuh Kurnia Purwandini.

Comments