Kampung Gendero Limo Sampangan

Dari Kolongan Bendera menjadi Nama Taman, Kampung dan Warung Makan

AZAN subuh baru saja berkumandang. Pedagang bubur ayam, penjual koran, sate ayam dan sayur keliling menggelar dagangannya di depan taman berbentuk segitiga dengan pohon beringin yang berumur belasan tahun. Aktifitas jual beli pun berlangsung cukup ramai.
Di sudut yang lain, pemilik warung makan berdinding papan dengan cat putih biru membuka kiosnya. Dua jam kemudian, pedagang bubur ayam, sate ayam dan sayur membereskan dagangannya.
Bersamaan dengan itu, pedagang ketoprak, empat tukang permak celana jins dengan mesin jahit yang diletakkan dengan kotak sederhana dan berada di atas sepeda motor dan pedagang gilo-gilo berganti menempati lahan yang ada di pinggir Jalan Menoreh Raya. Karyawan bengkel cat mobil pun memulai aktifitasnya mendempul dan mengecat bemper.
Itulah pemandangan yang terjadi di Taman Gendero Limo yang ada di wilayah Jalan Menoreh Utara XII RT 5 RW 1 Kelurahan Sampangan, Kecamatan Gajahmungkur setiap hari. Menjelang petang, pedagang yang berjualan pun berganti lagi, jagung bakar, ayam goreng, dan aneka penyetan hingga pukul 00.00. Taman yang dipenuhi papan nama dan pamflet itu kembali sepi setelah pukul 00.00.
Taman yang sebelumnya merupakan tanah kosong milik Jumirah warga RT 5 RW 1 itu diwakafkan kepada Pemerintah Kelurahan Sampangan pada 1992 pada masa kepemimpinan almarhum Heru Subroto yang saat itu menjabat sebagai lurah.
''Pemberian nama Gendero Limo, karena sebelum dibuat taman, yang pertama kali dibuat adalah lima kolongan beton berbentuk limas yang digunakan untuk memasang tiang bendera. Oleh almarhum Heru Subroto, akhirnya taman ini dinamakan Taman Gendero Limo. Pemukiman di daerah ini akhirnya juga dikenal dengan Kampung Gendero Limo,'' tutur Poni (61) warga Kampung Gendero Limo RT 3 RW 1.
Kolongan beton dengan warna merah yang mulai pudar, menurut ibu empat anak dan tujuh cucu itu biasa dipasang tiang sekaligus bendera merah putih ketika menjelang peringatan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus, Kebangkitan Nasional, Kesaktian Pancasila, Sumpah Pemuda, dan kegiatan lainnya.
''Karena tidak ada nama yang tertempel jelas di taman itu, turis asal Belanda bernama Fredy pada akhir 1992, menginginkan nama taman itu menjadi nama warung makan milik saya yang berdiri sejak 1966. Namanya, warung makan Bendera Lima,'' ujar istri dari Slamet (65) didampingi anaknya.
Ditambahkan Poni, selain menjadi nama warung makan, kampung dan taman, sebutan Gendero Limo juga menjadi patokan setiap warga hendak turun dari kendaraan umum untuk pulang atau pun ketika mengunjungi keluarga yang tinggal di Jalan Menoreh Utara IV maupun Menoreh Utara XII.

Comments